1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Krisis Pengungsi: Eropa Terancam Darurat Politik

Gelombang pengungsi yang terus berdatangan kini berkembang menjadi krisis bagi Uni Eropa. Institusi Eropa bungkam, negara anggota saling jegal. Uni Eropa terancam darurat politik. Perspektif Bernd Riegert.

Semua merasa miris melihat betapa cepatnya nilai-nilai Eropa nyaris ambruk di bawah tekanan krisis pengungsi. Prosedur penanganan gelombang pengungsi, pemohon suaka dan kaum migran lainnya dari negara tetangga Uni Eropa dengan cepat menjadi ujian bagi keutuhan Eropa yang harus ditangani secepatnya.

Penanganan pengungsi secara manusiawi, tidak lagi bisa dijamin. Tempat penampungan yang penuh sesak, aksi pedagang manusia yang brutal, serangan pembakaran dan kebencian orang asing, serta kamp-kamp sementara yang semrawut di dalam kota: semua ini adalah realita pahit. Eropa yang penuh solidaritas dan adil tidak lagi terlihat.

Aturan Dublin, yang menyebut negara dimana pengungsi masuk untuk pertama kalinya yang harus menanangi, kini tidak lagi berfungsi. Italia, Yunani, Hongaria menjadi bukti paling nyata, bahwa aturan Uni Eropa terkait pengungsi itu tidak sesuai lagi dengan zaman. Tapi juga harus diingat, hanya sebagian kecil dari 28 negara Uni Eropa yang terlibat langsung dalam krisis. Jika pengungsi maunya memohon suaka di Jerman, Austria atau Swedia, negara anggota lain tidak mau peduli.

Sistem hukum yang berlaku selama ini di Uni Eropa hancur di bawah tekanan pengungsi. Dan Uni Eropa hanya melihat krisis tanpa melakukan tindakan apapun. Pemerintah Hongaria berusaha dengan caranya sendiri mencari solusi dari kekacauan ini, dengan mendirikan pagar kawat berduri di perbatasan dengan Serbia sepanjang 175 km.

Sebetulnya tidak ada yang siap menghadapi arus pengungsi sederas itu, juga Jerman atau Austria tidak siap. Sejak bertahun-tahun kapasitas penampungan pengungsi sudah dikurangi drastis. Pemerintah Jerman juga hanya memiliki segelintir aparat yang dapat memutuskan menerima atau menolak permohonan suaka.

Dari markas pusat Uni Eropa di Brussel juga tidak banyak berita bagus yang biya didengar. Komisi Uni Eropa ibaratnya baru bangun setelah reses musim panas yang mengajukan 10 rancangan tindakan, yang hingga kini belum ditanggapi negara anggota.

Jika para menteri dalam negeri Uni Eropa tidak dapat menarik keputusan bersama secepatnya menyangkut krisis pengungsi, jangan heran jika perhimpunan ini akan kembali ke zaman dimana masih berdiri tembok dan pagar pembatas. Artinya, inilah situasi darurat politik bagi proyek persatuan Eropa.

Laporan Pilihan