Korsel Minta Korut Bicarakan Kaesong | dunia | DW | 25.04.2013
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Korsel Minta Korut Bicarakan Kaesong

Korea Selatan menuntut Korea Utara melakukan pembicaraan formal tentang kawasan industri Kaesong. Jika Pyongyang tetap menolak, akan ada reaksi tegas.

A South Korean soldier sets up a barricade on the road connecting South and North on April 9, 2013 in Paju (Photo by Chung Sung-Jun/Getty Images)

Kawasan Industri Kaesong

Korea Selatan menuntut agar segera dilakukan pembicaraan tentang kapan kawasan industri Kaesong bisa beroperasi lagi. Korea Selatan memberi batas waktu 24 jam sampai hari Jumat (26/04). Pejabat Korea Selatan menegaskan, pihaknya tetap mendukung kawasan industri yang dioperasikan bersama-sama dengan Korea Utara itu.

”Tidak ada perubahan dalam posisi kami mendukung operasi yang stabil dan pengembangan Kaesong”, kata jurubicara Kementerian Unifikasi Kim Hyung Seok. ”Tapi kami tidak bisa membiarkan situasinya seperti ini. Jika Korea Utara menolak proposal kami, kami akan mengambil langkah signifikan.”

Kim Hyung Seok tidak merinci apa yang dimaksud dengan langkah signifikan itu. Tapi Korea Selatan kelihatannya mempertimbangkan untuk menarik diri secara total dari kawasan industri Kaesong.

Korea Selatan mengusulkan pembicaraan Komisi Manajemen Utara dan Selatan yang membawahi operasi kawasan industri Kaesong. Sebelumnya, pemerintah Korea Selatan mengumumkan kebijakan untuk memberi bantuan likuiditas kepada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kaesong.

Ditutup Awal April

Kawasan industri Kaesong didirikan tahun 2004 di Korea Utara dan terletak 10 kilometer dari perbatasan. Kawasan ini menjadi salah satu sumber devisa penting bagi Korut. Ada 123 perusahaan Korea Selatan yang beroperasi di tempat ini dan mempekerjakan sekitar 53.000 pekerja dari Korea Utara.

Proyek ini merupakan kerjasama ekonomi Utara-Selatan yang diprakarsai oleh Presiden Korsel Kim Dae Jung yang ketika itu menjalankan ”Politik Sinar Matahari”. Setelah terjadi ketegangan antara kedua negara, Korea Utara menutup akses ke Kaesong dari Korea Selatan mulai 3 April. Korea Utara kemudian menarik semua pekerjanya dari kawasan itu. Warga Korea Selatan diijinkan meninggalkan kawasan industri Kaesong. Dari lebih 700 warga Korsel yang tadinya berada di sana, sekarang diperkirakan masih ada sekitar 175 orang yang bertahan untuk menjaga pabriknya.

Sejak itu, Korea Selatan beberapa kali meminta akses untuk mengirim bantuan makanan dan obat-obatan kepada warganya yang masih bertahan di Kaesong, tapi Korut menolak. Asosiasi perusahaan Korea Selatan yang beroperasi di Kaesong menyatakan, mereka berharap pembicaraan tentang kawasan itu bisa dimulai sesegera mungkin.

Ketegangan dengan Korea Utara meningkat setelah PBB memberlakukan sanksi berkaitan dengan ujicoba nuklir yang dilakukan negara itu. Korea Utara kemudian mengobarkan retorika perang dan mengancam akan menyerang Amerika Serikat dan Korea Selatan. Rejim Korut sekarang menuntut agar PBB mencabut semua sanksi yang dijatuhkan terhadapnya. Amerika Serikat dan Korea Selatan menawarkan dialog dan bantuan ekonomi, jika rejim di Pyongyang bersedia meninggalkan senjata nuklir.

HP/AB (rtr, afp)

Laporan Pilihan