1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Korsel dan AS Tunjukkan Kekuatan di Laut Kuning

Tanpa menghiraukan peringatan Korut, Minggu (28/11) Korsel dan AS mulai gelar latihan marinir besar-besaran di Laut Kuning. Sementara Cina menawarkan langkah diplomatik untuk mengurangi ketegangan di semenanjung Korea.

default

USS George Washington

Angkatan laut Korea Selatan dan Amerika Serikat Minggu pagi (28/11) telah memulai Latihan militer selama empat hari di Laut Kuning , sekitar 150 kilometer ke selatan dari perbatasan maritim yang kontroversial antara kedua negara Korea. Manuver itu melibatkan kapal induk "USS George Washington" yang berawak lebih dari 6.000 personil. Kapal induk ini didampingi empat kapal perang lainnya. Demikian diungkapkan angkatan bersenjata AS.

Kantor berita Yonhap melaporkan, Korea Selatan mengerahkan tiga kapal perusak, sejumlah fregat dan pesawat pemburu kapal selam tipe Viking yang dipersiapkan untuk latihan tempur. Juru bicara kepala staf gabungan angkatan bersenjata Korsel mengatakan: "Tujuan manuver ini adalah penunjukkan kekuatan kami kepada Korut. Selain itu kami juga ingin memperbaiki pengamanan di teritorium kami serta memperdalam kerjasama AS-Korsel. Yang kami tegaskan di sini adalah penunjukkan tekad kemitraan antara AS dan Korea Selatan."

Korea Utara telah berulang kali memperingatkan bahwa pelanggaran kedaulatan atau penghinaan martabat negerinya akan menyebabkan hujan granat yang tak kenal ampun di Korea Selatan. Sedangkan AS menegaskan, latihan militer itu tidak ditujukan kepada Cina, melainkan manuver yang bersifat defensif dan untuk membuat Korut bersikap hati-hati. Manuver itu dikatakan telah direncanakan sebelum serangan artileri Korut terhadap pulau Korsel, Yeonpyeong Selasa lalu (23/11) yang menawaskan empat orang dan melukai 18 warga setempat.

Beijing sebelumnya memperingatkan AS dan Korsel untuk tidak memasuki perairan Cina. Hari Minggu (28/11) Korut mengulangi ancamannya dan memperingatkan akan terjadinya "konsekuensi yang tak terduga" jika terjadi pelanggaran wilayah kedaulatan negerinya. Seorang juru bicara Presiden Korsel Lee Myung Bak mengatakan, Korut bisa jadi melakukan aksi yang tak terduga selama manuver digelar.

Kantor berita Korsel, Yonhap melaporkan, militer Korut telah menempatkan peluru kendali di dekat perbatasan maritim di pantai barat. Selain rudal anti kapal dengan jangkauan lebih dari 90 kilometer, rudal darat ke udara berdaya jelajah hingga 30 kilometer tipe SA-2 telah disiagakan di pantai barat.

Cina mengusulkan pembicaraan darurat multilateral dan menyatakan bersedia menjadi mediator. Para juru runding dari enam negara, yaitu Korea Utara dan Selatan, AS, Cina, Jepang dan Rusia diharapkan datang ke Beijing awal Desember ini, demikian dipaparkan Wu Dawei, pejabat khusus Cina bagi semenanjung Korea kepada wartawan di Beijing. Pemerintah Cina menekankan, pertemuan darurat enam negara itu bukan merupakan dibukanya kembali perundingan yang dihentikan sepihak oleh Korut April 2009 lalu. Agenda perundingan tahun lalu itu adalah penghentian program atom Korut.

Wu Dawei dan pejabat tinggi Kementrian Luar Negeri Cina, Dai Bingguo sebelumnya melakukan kunjungan mendadak di Seoul. Dai berbicara selama dua jam dengan Presiden Korsel Lee Myung Bak di Seoul. Namun masih belum diketahui apakah keenam negara akan datang ke Beijing untuk melakukan perundingan darurat. Setelah kunjungan singkat Dai Bingguo di Seoul, juru bicara Presiden Korsel Lee Myung Bak mengatakan: "Cina menyatakan penyesalannya atas korban jiwa dalam serangan Korea Utara terhadap pulau Yeonpyeong. Ditegaskan bahwa Cina dan Korea Selatan hendak bekerja sama untuk mencegah memburuknya situasi dan mengupayakan perdamaian antara kedua negara Korea."

Sementara itu, sehubungan dengan ketegangan antara kedua negara Korea, Korsel menyerukan agar para jurnalis meninggalkan pulau Yeonpyeong. Kementrian Pertahanan mengatakan, situasi di pulau itu rawan. Sebelumnya militer mendesak penduduk dan jurnalis mencari tempat perlindungan.

Christa Saloh/afp,dapd,rtr,dpa

Editor: Rizki Nugraha

Laporan Pilihan