1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Korban Tewas Terus Berjatuhan di Yaman

20 September 2011

Serangan roket terhadap kamp protes di Sanaa, Selasa (20/09), menambah jumlah korban tewas menjadi 60 orang dalam bentrokan paling mematikan selama 8 bulan demonstrasi pro-demokrasi.

https://p.dw.com/p/12coH
Seorang tentara pembelot berjaga di satu jalan di kota Sanaa, Minggu (18/09)Foto: picture alliance/dpa

Para dokter berusaha melakukan apa saja bagi bayi lelaki yang terbaring di atas meja operasi, berlumuran darah akibat luka tembak. Anas namanya, umur 10 bulan. Ia dan orangtuanya berada dalam mobil di pusat kota Sanaa, ketika peluru menembus tubuh kecil itu. Tak ada yang bisa dilakukan. Anas meninggal. Sang ibu menangkupkan tangan ke wajah dan mengatakan, "Begitu banyak darah yang tumpah, mengerikan. Dan semua ini hanya karena Saleh. Semoga Tuhan menghukumnya."

Ali Abdullah Saleh sudah 33 tahun berkuasa sebagai presiden Yaman. Mulai awal tahun 2010, demonstran menuntut agar ia mundur. Sejak serangan terhadap istana presiden bulan Juni, Saleh berada di Arab Saudi untuk perawatan medis. Tetapi para pendukungnya di tanah air siap bertempur demi mempertahankan kekuasaan Saleh.

Spiral kekerasan kembali berputar sejak hari Minggu (18/09), ketika demonstran menggencarkan aksi protes. Demonstran ditembak di jalanan, sedikitnya 26 orang tewas. Sejumlah itu pula korban yang tewas hari Senin (19/09), ketika tentara pemerintah bentrok dengan pasukan pro-Jendral Ali Mohsen al-Ahmar yang membelot. Tidak jelas siapa yang memulai pertempuran. Mohsen, seorang jendral kelas atas Yaman, memberi pukulan keras bagi rejim Saleh ketika ia dan pasukannya membelot, setelah serangan bulan Maret yang menewaskan 52 warga sipil.

Saksi mata mengatakan, tentara pro pemerintah melepaskan tembakan ke kerumunan massa, sementara penembak jitu di atap-atap rumah melepaskan peluru secara terarah ke demonstran. Keluarga Anas, bayi 10 bulan yang tewas ditembus peluru, menuturkan pula, "Mereka menggunakan semua jenis amunisi. Ada banyak sekali korban luka berat di ruang intensif. Puluhan orang tewas, dan terus bertambah jam demi jam."

Selasa (20/09), roket menghantam kamp pemrotes seusai sembahyang subuh, sekitar pukul lima waktu setempat. Roket mengenai sejumlah pria yang berjalan melewati sebuah pasar, kata Dr. Mohammad al-Qubati, direktur rumah sakit lapangan.

Saksi mata lain mengatakan, suasana hening hanya bertahan beberapa jam. Suara bombardir peluru dan senapan mesin terdengar lagi Selasa dini hari. Pasukan Penjaga Republik, dikomandani Ahmed, putra Presiden Saleh, menembaki pos-pos pasukan Jendral al-Ahmar di sekitar lapangan perubahan, pusat aksi protes anti rejim.

Kepala Urusan Politik Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton, hari Selasa (19/09), menyerukan agar kekerasan di Yaman dihentikan. Ia juga mendesak Presiden Ali Saleh untuk menerima transfer kekuasaan. Pertumpahan darah yang memasuki hari ketiga, bertepatan dengan kedatangan utusan PBB untuk Yaman, Jamal Ben Omar, dan kepala Dewan Kerjasama Teluk, Abdul latif al-Zayani, di ibukota Sanaa. Menurut diplomat, kunjungan itu untuk penandatanganan peta perdamaian PBB bagi transfer kekuasaan.

Lebih dari 400 orang tewas sejak aksi protes dimulai Januari, di Yaman. Negara-negara besar kuatir, chaos di negara yang berbatasan dengan eksportir minyak terbesar Arab Saudi, akan menaikkan resiko bagi persediaan minyak dunia.

afp/rtr/Renata Permadi

Editor: Hendra Pasuhuk