1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Kopi Mengurangi Sakit Kepala?

Kopi adalah salah satu minuman yang paling populer di seluruh dunia. Rata-rata setiap warga Jerman minum sekitar 150 liter kopi dalam setahun. Dampaknya bagi kesehatan masih jadi kontroversi.

Siapa yang tidak mengenalnya? Aroma secangkir kopi yang baru diseduh di pagi hari sangat disukai penikmatnya. Mulai dari jenis Arabika atau Robusta, espresso, cappuccino ataupun latte macchiato—begitu banyak orang yang membutuhkan kopi di pagi hari untuk benar-benar bisa memulai hari mereka.

Bukan hanya aromanya yang enak, bagi sebagian orang kopi dirasa punya efek menyegarkan tubuh dan pikiran. "Lewat kafein dalam kopi, sistem saraf dirangsang, yang mengakibatkan aktifnya kinerja jantung, peningkatan sirkulasi darah terutama di otak dan menyediakan lebih banyak oksigen. Peminum merasa lebih bugar dan dapat berpikir lebih baik," kata farmakolog Universitas Köln, Kuno Güttler.

Güttler yang juga ahli toksikologi menambahkan, kopi dapat memiliki efek menenangkan migrain atau sakit kepala. Ketika terjadi sakit kepala, pembuluh otak memperlebar reseptor rasa sakit. Tekanan darah dan detak jantung meningkatkan tekanan pada dinding pembuluh darah. "Kafein dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah di otak, sehingga mengalirkan darah lebih cepat dan mencegah peluasan rasa sakit.“

Secangkir kopi lebih memperingan sakit kepala migrain. Di sisi lain, ketika berhenti minum kopi, maka akan mengarah ke sakit kepala. Karena ketika kafeinnya menghilang, pembuluh melebar lagi, yang dapat menyebabkan sakit kepala.

Berhenti minum kopi ?

Namun banyak peneliti dan dokter berkeyakinan bahwa kopi tidak sehat. Kafein memicu produksi adrenalin, tubuh yang hampir selalu diasupi konsumsi kopi secara teratur berada dalam tekanan.

Dalam kondisi berbahaya, bisa meningkatkan ketegangan otot dan kadar gula darah yang melepaskan energi ekstra. Detak nadi dan frekwensi pernafasan meningkat. Energi yang pasang surut ini menimbulkan berlebihannya produksi hormon stres, yang menyebabkan penipisan kelenjar adrenalin dan gangguan sistem kardiovaskular.

Kedengarannya lebih membuat stres ketimbang memberi ketenangan menikmati kopi di pagi hari. Tapi Güttler menekankan, dampak kopi juga tergantung dari genetika manusia: “Kafein diurai oleh enzim CYP1A2. Ada orang-orang yang aktivitas enzimnya kurang, jadi kafeinnya lambat terurai dan efeknya lebih lama. Detak jantung mereka bisa terganggu."

Di sisi lain, ada juga orang-orang yang enzimnya sangat aktif dan kafeinnya terurai dengan sangat cepat. Bagi mereka, umumnya tidak perlu khawatir tentang kesehatannya. Meminum 0,6 liter kopi sehari tak berdampak negatif pada konsumennya.

Potensi bagi kesehatan

Pharmakologe Kuno Güttler

Kuno Güttler

Hampir tidak ada jenis minuman yang begitu banyak dipelajari selain kopi, terutama mengenai berbagai efeknya pada organisme manusia. Terdapat banyak kajian yang menggambarkan efek positif minuman populer itu, terutama untuk jangka panjang.

Di antaranya, kopi dianggap dapat mengurangi resiko diabetes tipe 2, menawarkan pencegahan terhadap penyakit Parkinson dan Alzheimer. Yang memainkan peranan penting bukan kafeinnya, melainkan antioksidan di dalam kopi.

"Tentu saja kita memiliki sistem antioksidan sendiri. Tapi kita dapat memetik manfaat, jika sistem perlindungan tubuh kita dapat lebih meningkat dengan menggunakan zat seperti kopi, " tandas Güttler.

Persoalan manakah yang lebih baik bagi manusia — minum kopi yang banyak atau sedikit? – masih menjadi hal yang belum jelas.

Laporan Pilihan