1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kontroversi Kuota Pengungsi Memanas Jelang KTT Eropa

Walau sudah sepakati sistem kuota penampungan pengungsi, kontroversi di antara anggota Uni Eropa makin panas jelang KTT di Brussel. Dalam sidang akan dibahas sanksi terhadap 19 negara pelanggar aturan suaka.

Kontroversi di kalangan anggota Uni Eropa menjelang KTT darurat di Brussel makin memanas. Rencana sistem kuota penampungan pengungsi walau sudah disepakati mayoritas anggota, tetap mendapat penolakan dari empat anggota.

Kanselir Jerman Angela Merkel kembali menuntut politik pengungsi bersama dari Uni Eropa yang berlaku untuk seluruh anggota. Merkel menegaskan saat ini fokusnya adalah menangani para pengungsi secara lebih manusiawi. Kanselir Jerman juga menuntut penyebaran penampungan pengungsi dengan lebih adil dan merata di seluruh anggota Uni Eropa.

Dalam rencana itu sebanyak 120.000 pengungsi akan didistribusikan secara paksa ke seluruh negara anggota berdasarkan kuota yang disepakati mayoritas anggota Uni Eropa.

Penolakan terutama datang dari 4 negara di kawasan timur Eropa, yakni dari Hongaria, Rumania, Slowakia dan Republik Ceko. Keempat negara merasa didikte oleh Uni Eropa untuk menerima keputusan yang dianggap "tidak bagus". Milan Chovanec menteri dalam negeri Republik Ceko dalam pesan twitternya mengatakan: kesepakatan kuota pengungsi adalah isyarat politik kosong.

Selain itu dalam sidang darurat para kepala negara dan pemerintahan Uni Eropa Rabu (23/9) itu akan dibahas sanksi terhadap 19 negara pelanggar aturan suaka. Antara lain Jerman, Austria, Italia dan Hongaria dituding tidak mengimplementasikan prosedur permohonan suaka. Padahal Jerman, Ceko, Hongaria dan Austria merupakan penampung terbanyak pengungsi. Juga Jerman, Italia dan Hongaria adalah negara transit pertama yang kewalahan menerima gelombang pengungsi yang ingin masuk Eropa. Kebanyakan pengungsi mengajukan permohonan suakanya di tiga negara Eropa ini.

Sementara jajaran petinggi Uni Eropa nyaris tidak peduli terhadap krisis pengungsi hingga menit-menit terakhir. Akibatnya sejumlah negara terpaksa memasang pagar kawat berduri untuk menutup perbatasannya. Politik buka-tutup pintu perbatasan dan kontrol ketat di perbatasan negara juga jadi hal yang lazim di hari-hari belakangan.

Menanggapi makin panasnya silang sengketa menjelang KTT darurat di Brussel itu Komisioner Migrasi Uni Eropa, Dimitris Avramopoulos menyerukan agar semua anggota Uni Eropa bersatu padu menangani krisis pengungsi.

Eropa saat ini menghadapi krisis kedatangan pengungsi paling berat pasca perang dunia kedua. Lebih 210.000 pengungsi kebanyakan dari Suriah, Irak dan Afghanistan yang dicabik konflik bersenjata sudah memohon suaka di Eropa. Uni Eropa mencatat nyaris 500.000 pengungsi sudah masuk Eropa, bahkan Jerman memperkirakan tahun ini sekitar 800.000 hingga satu juta pengungsi akan menyerbu masuk ke Eropa.

as/ml (rtr,afp,dpa, ap,twitter)

Laporan Pilihan