1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Konferensi tentang Kemiskinan di Berlin

15% rakyat Jerman miskin. Jumlah ini dapat bertambah karena kas negara kosong dan pemerintah hendak menghemat pengeluaran di sektor sosial. Dan itu diputuskan di Tahun Eropa untuk memerangi kemiskinan dan diskriminasi.

default

Dua demonstran memegang spanduk selama aksi "Pilar terhadap Kemiskinan" didekat Gerbang Brandenburg di Berlin (15/06)

Di semua negara anggota Uni Eropa, tahun ini diadakan kongres sepekan dengan fokus kemiskinan. Pekan lalu, kongres diadakan di Spanyol, pekan depan di Bulgaria. Pekan ini Jerman mendapat gilirannya, yaitu Konferensi Kemiskinan Nasional, yang diadakan bersama-sama oleh sejumlah ikatan organisasi kemanusiaan di Berlin.

Sejumlah orang berdiri di dekat monomen Gerbang Brandenburg, di Berlin di belakang garis tebal berwarna merah yang dibuat di kawasan pejalan kaki. Semua mengenakan kaos berwarna putih dengan tulisan seperti, 'saya tidak berpendidikan dan saya miskin'. Garis berwarna merah itu menjadi simbol batas kemiskinan. Di Jerman satu dari setiap tujuh warganya sudah berada di bawah garis itu.

Makna Kemiskinan

Deutschland Armut

Kata-kata "batas kemiskinan" tertulis di jalanan di depan Gerbang Brandenburg (22/06)

Namun di negara seperti Jerman, kemiskinan artinya lebih dari sekedar tidak mempunyai makanan atau rumah. Itu dinyatakan Mahkamah Konstitusi baru-baru ini. Manu Dreyer, menteri untuk pekerjaan dan sosial di negara bagian Rheinland Pfalz menjelaskan keputusan tersebut, "Mahkamah Konstitusi tidak hanya menetapkan hak dasar warga untuk mempunyai kebutuhan minimum yang sesuai martabat manusia, melainkan juga menekankan, di samping itu tiap warga berhak ikut dalam kehidupan bermasyarakat dan budaya, juga kehidupan politik."

Di masa kini, hal itu tidak jelas dengan sendirinya, karena kas negara kosong, dan pemerintah mengumumkan penghematan besar-besaran. Menurut keterangan organisasi bantuan Caritas, di Jerman hampir tujuh juta orang hidup dari tunjangan pemerintah, dua setengah juta di antaranya berusia di bawah 18 tahun.

NO FLASH Bilder der Woche Arrmut

Seorang pengemis di Düsseldorf memegang cangkir tempat orang memasukkan uang kecil (19/05)

Jumlah Berlipat Ganda

Sejak 2004, jumlah anak-anak yang miskin berlipat ganda. Bagi mereka, kemiskinan berakibat pada kurangnya kesempatan untuk mendapat pendidikan baik. Jadi anak-anak yang miskin akan menjadi orang dewasa yang miskin. Bagi pakar politik Gesine Schwan kemiskinan adalah wujud ketidakadilan.

Ketidakadilan dalam masyarakat. Itu berarti persamaan antara miskin dan kaya. Tetapi itu tidak diusahakan pemerintah Jerman yang terdiri dari Partai Kristen Demokrat, CDU dan Partai Liberal, FDP. Demikian kritik Gesine Schwan. Itu ada dampaknya dalam kesadaran masyarakat, yaitu tidak adanya konsensus tentang pembasmian kemiskinan.

Gesine Schwan mengatakan, "Tanggungjawabnya terletak pada yang lebih beruntung. Pernyataan dingin, bahwa kepentingan pasar harus diutamakan melanggar keadilan, sepertihalnya jika orang menyatakan kepemilikan atas suatu hal, walaupun merugikan penganggur atau generasi mendatang."

Kelas Menengah Sudah Termasuk Miskin

Deutschland Armut

Seorang pria memeriksa tempat sampah di Köln dan mencari benda yang masih dapat dipakai (15/06)

Itu adalah kata-kata yang memperingatkan generasi sekarang. Realitanya jauh berbeda, demikian keluhan ikatan organisasi bantuan. Kemiskinan sekarang juga menimpa orang-orang kelas menengah yang situasinya dianggap mapan. Sejak awal tahun 70-an kuota gaji terus menurun. Pada saat bersamaan, sektor pekerjaan bergaji rendah meningkat. Artinya, pekerja yang tidak dapat hidup dari gaji mereka semakin bertambah.

Bagi masyarakat konsekuensinya fatal. Demikian pendapat Manu Dreyer dari Partai Sosial Demokrat, SPD. Ia menjelaskan, orang yang bekerja harus mempunyai pekerjaan yang layak dan pemasukan yang cukup. Oleh sebab itu pemerintah seharusnya menetapkan batas minimal gaji. Demikian politisi Manu Dreyer.

Kerusuhan sosial sebagai akibat kemiskinan kemungkinan tidak akan secepat itu terjadi di Jerman. Mengenai itu, semua pakar sependapat. Saat ini, kemarahan yang dirasakan warga yang miskin berdampak pada dirinya sendiri. Mereka jatuh sakit. Anak-anak yang miskin sekarang semakin sering menderita depresi.

Sabine Kinkartz / Marjory Linardy

Editor: Asril Ridwan