1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Konferensi Anti Ranjau Darat di Kamboja

Di Pnom Penh, Kamboja Senin (28/11) sampai Jumat (02/12) digelar konferensi larangan penggunaan ranjau darat di dunia. Sejak ditetapkan Perjanjian Ottawa, sudah 40 juta ranjau darat yang dimusnahkan di dunia.

Mine warning sign beside the road to Jaffna, Sri Lanka.

Peringatan kawasan beranjau di Yafna Sri Lanka

Song Kosal baru berusia lima tahun ketika ia terkena ranjau sehingga kehilangan kaki kanannya. Tapi tragedi itu membawanya menjadi salah satu tokoh terpenting kampanye anti ranjau darat, dan pernah ambil bagian dalam kontes kecantikan.

Kini dalam usia 27 tahun Kosal membagi impiannya untuk dunia bebas ranjau dengan delegasi lebih dari 100 negara. Ia menyampaikan pidato pembukaan pada konferensi anti ranjau yang digelar di Pnom Penh Kamboja.

Digelarnya konferensi ke-11 untuk melarang ranjau darat di Kamboja bukan kebetulan. Negara itu masih menjadi tempat yang paling dipenuhi ranjau darat di dunia. Dampak perang Vietnam, kekuasaan rezim teror Khmer Merah yang disusul perang saudara meninggalkan jejak mengerikan.

Tanah di seluruh kawasan dekat perbatasan dengan Thailand masih dipenuhi ranjau darat. Setiap tahun warga di Kamboja mengalami kecelakaan akibat ranjau yang meledak. Baru beberapa pekan lalu sebuah traktor di Distrik Samraong terkena ranjau yang terbawa banjir ke ladang mereka. 10 petani tewas.

Dunia Masih Belum Bebas Ranjau

Masih banyak yang harus dilakukan, kata Helen Clark ketua program pembangunan PBB pada pembukaan konferensi di Pnom Penh: "Pertemuan ini memberi kita peluang merayakan tercapainya kemajuan dalam memerangi ranjau darat. Tapi masih banyak yang harus dilakukan sampai dunia benar-benar terbebas dari beban ranjau darat.“

158 negara yang sudah menandatangani Perjanjian Ottawa, sebuah Perjanjian anti ranjau darat yang disepakati tahun 1999.87 negara sudah mengakhiri penghancuran persediaan ranjaunya. Negara lainnya seperti Suriah, Israel, Birma dan Libya dituduh masih menggunakan ranjau darat. Tahun lalu hampir 4200 orang tewas atau terluka karena terkena ranjau darat. Jumlah ini lebih besar dibanding tahun 2009. Kebanyakan korban terdapat di Kamboja.

A Cambodian soldier with both legs amputated after having them lost in a mine blast, Mongkol Borei, Cambodia.

Korban ranjau darat di Kamboja

Sen Sowatha adalah mantan tentara pemerintah dalam perang melawan Khmer Merah. Tahun 1997 Sowatha kehilangan kedua kakinya akibat ranjau darat. Dikatakannya, "Saya datang ke konferensi ini karena saya ingin meminta dunia untuk tidak lagi memproduksi ranjau semacam itu. Jika satu saja di keluarga yang terluka akibat ranjau darat, maka kehidupan seluruh anggota keluarga akan semakin miskin.“

65 ribu warga Kamboja menjadi korban ranjau darat sejak tahun 1979. 21 ribu diantaranya tewas. Kamboja termasuk negara yang selain Afghanistan, Pakistan, Birma serta Kolumbia memiliki angka terbesar dalam jumlah korban ranjau darat. Meskipun selama ini di seluruh dunia sudah 40 juta ranjau darat yang dimusnahkan.

Udo Schmidt/Dyan Kostermans

Editor: Hendra Pasuhuk