1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Kondisi Kerja Pekerja Anak di Ladang Tembakau Malawi Memprihatinkan

Mungkin penikmat rokok tidak mengetahui dari mana asal bahan bakunya. Dan mungkin mereka akan terkejut, bila mengetahui bahan bakunya diperoleh dari jerih payah pekerja anak-anak dengan persyaratan kerja yang buruk.

default

Diperkirakan tercatat sekitar 78 ribu anak-anak yang bekerja di ladang-ladang tembakau di Malawi. Sebagian diantaranya baru berusia lima tahun. Mereka mendapatkan upah sekitar 1500 Rupiah sehari. Anak-anak tersebut harus bekerja selama 12 jam sehari.

Menurut hasil studi organisasi non pemerintah Plan Internasional, pekerja anak-anak tersebut yang berhubungan langsung dengan daun tembakau, setiap hari kemasukan sampai 54 miligram nikotin. Jumlah tersebut sama dengan bila seseorang merokok sebanyak 50 batang sehari. Pekerja anak-anak di ladang-ladang tembakau tidak dilengkapi sarung tangan dan masker penutup mulut. Akibatnya banyak yang menderita apa yang disebut "penyakit tembakau hijau". Penderita penyakit ini merasakan saklt kepala dan perut, batuk, kesulitan bernafas dan lemah otot, serta rongga dadanya terasa terbakar. Tidak jarang yang mengeluarkan ludah bercampur darah. Selain itu, simptom dari keracunan nikotin juga dapat mengubah struktur dan fúngsi otak.

Pekerja anak-anak tersebut tidak hanya menanggung resiko kesehatan, melainkan sering dipukul dan disalahgunakan majikannya. Di tahun belakangan, semakin banyak perkebunan tembakau yang dipindahkan ke negara-negara berkembang. Pada waktu bersamaan harga tembakau di pasaran dunia semakin merosot.

Kenyataan ini memberikan dampak langsung terhadap persyaratan kerja di ladang-ladang tembakau di negara tersebut, terutama terhadap perkerja anak-anak. Demi tetap mendapatkan keuntungan, produsen tembakau di Malawi tidak menyediakan dana bagi perlengkapan kerja, seperti pakaian pelindung. Demikian diungkapkan Claudia Ulferts dari Plan Internasional.

Dengan kenyataan itu, Plan Internasional menyerukan kepada industri rokok terbesar di dunia agar lebih mengambil tanggung jawab. Industri rokok terbesar selalu mengatakan, mereka hanya membeli tembakau dan tidak menanamnya, makanya mereka tidak harus bertanggung jawab dalam prosesnya. Meskipun selalu menyampaikan alasan tersebut, mereka hendaknya tetap harus memenuhi kewajibannya. Misalnya sebagai pembeli, industri rokok dapat melancarkan tekanan terhadap produsen tembakau.

Selain itu, Plan Internasional juga menyerukan kepada produsen tembakau multi nasional agar segera mengambil tanggung jawab di bidang sosial dan menghormati hak pekerja anak-anak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan perlindungan. Majikan yang tidak menerapkan undang-undang perlindungan bagi pekerja anak-anak harus dituntut secara hukum.

Berbaga bentuk pengawasan dapat dilakukan. Misalnya dengan hanya membeli tembakau dari petani yang memiliki sertifikat yang di dalamnya mencantumkan ketentuan upah minimal dan jam kerja yang pasti.

Malawi merupakan salah satu negara penghasil tembakau terbesar di dunia. 80 persen warga di negara yang terletak di bagian tenggara Afrika ini secara langsung atau tidak langsung mendapatkan penghasilan dari usaha ladang tembakau. Penanaman tembakau di Malawi dimulai ketika negara itu masih di bawah kekuasaan kolonial Inggris.

Tapi keuntungan dari perdagangan tembakau tidak dinikmati oleh warga Malawi. Perusahaan besar yang mengelola bisnisnya dipegang pihak asing. Lebih dari 90 persen nilai perdagangan tembakau di Malawi dipegang perusahaan asing. Sisanya dipegang perusahaan setempat.

Malawi termasuk salah satu negara termiskin di dunia. Menurut laporan PBB. sekitar 76 persen warganya berpenghasilan kurang dari 15 ribu Rupiah sehari. Memang di waktu belakangan dilaporkan jumlah pekerja anak-anak di ladang tembakau di Malawi menunjukkan penurunan. Sementara jumlah yang bekerja pada saat panen tembakau tetap tidak berkurang. Malah kelihatan jumlahnya semakin meningkat.

Miriam Lindenroth/Asril Ridwan

Editor: Yuniman Farid