1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Klein Nyatakan Tanggung Jawab Atas Serangan Kunduz

Kolonel Georg Klein adalah perwira yang memberikan izin kepada pilot AS untuk menggempur tanki yang dicuri Taliban, September lalu. Dalam serangan itu, 142 warga sipil tewas. Hal yang memicu skandal politik di Jerman

default

Perwira Jerman, Kolonel Georg Klein, ketika di Kunduz

Di bagian awal kesasksian, Kolonel Georg Klein memberikan keterangan sepanjang 90 menit. Kemudian selama beberapa jam ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para anggota parlemen mengenai serangan udara di Kunduz, Afghanistan pada 4 September 2009.

Kolonel Klein sebenarnya tidak harus melakukan hal ini. Ia berhak untuk tidak menjawab, karena pihak kejaksaan Jerman tengah melakukan penyelidikan terhadapnya. Kesediaannya menghadap parlemen untuk sesi tanya-jawab ini, menimbulkan rasa hormat baginya.

Rainer Arnold dari partai sosial demokrat SPD mengatakan, "Ia tidak menggunakan haknya sebagai saksi untuk tidak menjawab. Sebaliknya ia tegas menyatakan bahwa sebagai warga yang mengenakan seragam tentara dan seorang yang menghormati hak parlemen untuk mengawasi militer, ia ingin memberikan keterangan itu. Harus kami nyatakan, sikap ini sangat kami hargai."

Kamera televisi diminta agar tidak merekam , ketika Kolonel Klein dikawal masuk ke ruang pertemuan di gedung parlemen Jerman. Sesi tanya jawab itupun dilakukan secara rahasia, tanpa liputan media. Namun dari sedikit informasi yang disampaikan kepada publik oleh para jurubicara fraksi, diketahui bahwa Kolonel Klein menyatakan dirinya bertanggung jawab penuh atas serangan udara itu.

Jurubicara partai liberal FDP, Hellmut Königshaus menyampaikan, "Kolonel Klein sama sekali tidak berusaha berkilah ketika ditanyai. Dari keterangan yang diberikannya, memang tak ada alasan untuk memberikan macam-macam alasan."

Klein memberikan perintah itu karena didorong asumsi bahwa saat itu tentara Jerman di Kunduz terancam. Begitu keterangan Ernst-Reinhard Beck dari partai Kristen Demokrat, CDU. Kenyataan bahwa banyak warga sipil berada di dekat tanker yang dicuri oleh milisi Taliban itu, tampaknya tidak diketahui oleh Kolonel Klein. Begitu tandas Ernst-Reinhard Beck, "Dari informasi yang dimilikinya, ia beranggapan bahwa tak ada warga sipil di bantaran sungai dan hanya terdapat tanker-tanker itu serta milisi yang mencurinya."

Para jurubicara partai-partai yang memerintah, menunjukkan pengertian atas keputusan Kolonel Klein. Namun partai-partai oposisi tetap kritis. Jurubicara SPD, Rainer Arnold bersikeras, "Menjatuhkan bom ke atas orang-orang yang sedang berkumpul itu tetap tidak patut dan merupakan kesalahan."

Bagi pihak oposisi, keterangan Klein menimbulkan banyak pertanyaan baru. Salah satunya adalah peran "Task Force 47" disana. Task Force yang antara lain mengikutsertakan pasukan elit Jerman yang bertugas memburu Taliban ini, terlibat dalam serangan udara itu. Di sini ada hubungan yang tidak jelas, antara tentara biasa dan pasukan khusus yang bergerak secara terselubung.

"Justru karena mengetahui tingkat kerahasiaan yang meliputi semua operasi yang dijalankan oleh Task Force serta pasukan khusus ini, maka seluruh prosedur aksi itu menjadi tidak transparan, dan ini tidak boleh kami diamkan saja", begitu kecam Paul Schäfer dari fraksi Kiri.

Dalam catatan protokol, Klein juga mengatakan, bahwa ia tidak terlibat dalam seluruh prosedur yang akhirnya menyebabkan ia memberikan perintah untuk menyerang. Dari laporan penyelidikan sebelumnya diketahui, bahwa Komandan Militer Jerman ini melanggar peraturan NATO, yakni dengan mengaku bahwa pasukannya mengalami kontak senjata dengan musuh. Hanya dengan begitu, ia bisa mendapatkan dukungan udara dari pasukan Amerika.

Pengacara Klein menjelaskan, bahwa dengan kesaksiannya Klein berusaha menjaga agar tidak terbentuk prejudis terhadapnya. Meski begitu, kasus ini tetap kontroversial karena perintah yang diberikan oleh Kolonel Klein telah menyebabkan banyak warga sipil tewas.

Nina Werkhäuser / Edith Koesoemawiria
Editor: Ziphora Robina