1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Indonesia

Kisah Perempuan Penyelamat Harimau

Hanya 400-an ekor harimau Sumatera yang tersisa. Pembukaan lahan dan perburuan menjadi biang kerok ancaman kepunahan mereka. Seorang perempuan pemberani memilih menjadi sahabat harimau.

Diburu, dijual organ tubuhnya, mengerikan perlakuan manusia pada hewan loreng ini. Ketika populasi harimau Sumatera yang nasibnya kian memprihatinkan, seorang dokter hewan perempuan, Erni Suyanti Musabine, bersama timnya mencurahkan perhatian merawat hewan liar yang terluka akibat perburuan liar dan perambahan hutan.

Tak hanya mengobati harimau yang terluka, dia pun berusaha mendekati masyarakat di sekitar hutan guna mencari solusi konflik masyarakat dengan hewan yang kehilangan habitatnya tersebut. Pengalamannya dalam mendampingi harimau Sumatera diwarnai dengan berbagai kisah ketegangan, kesedihan dan persahabatan.

Dari pengalamannya, menurut Erni, harimau dapat mengetahui apakah orang yang mendekati mengancam jiwanya atau punya niat baik untuk menyelamatkannya. Ikuti pengalaman-pengalaman berkesan dokter sahabat harimau ini dalam wawancara dengan Deutsche Welle berikut:

DW: Sejak kapan Anda terjun ke dunia penyelamatan hewan dan bagaimana ceritanya Anda terjun ke dunia penyelamatan satwa ini?

Sejak masih mahasiswa saya sudah aktif menjadi relawan di Lembaga Swadaya Masyarakat yang bekerja dibidang konservasi satwa liar di Jawa Timur, selain itu juga aktif di organisasi mahasiswa Pecinta Alam Universitas Airlangga Surabaya dengan salah satu kegiatan rutinnya adalah studi konservasi satwa liar di beberapa Taman Nasional di Jawa Timur.

Setelah lulus kuliah tahun 2002 saya menjadi relawan dokter hewan di Wild Animal Rescue Centre di Petungsewu, Malang Jawa Timur, kemudian mulai tahun 2003 saya bekerja di tempat itu sebagai koordinator dokter hewan untuk menangani berbagai species satwa liar terancam punah hasil penyitaan dari perdagangan ilegal, pemeliharaan ilegal, perburuan liar di wilayah Jawa Timur dan Bali.

Tahun 2004 hingga sekarang saya pindah ke Sumatera dan bekerja di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Kementerian Lingkungan Hidup danKehutanan di Bengkulu untuk menangani gajah di Pusat Konservasi Gajah Seblat. Selain itu pada tahun 2005 s/d 2009 saya juga menjadi konsultan medis Frankfurt Zoological Society - Sumatran Orangutan Conservation Programme yang bekerja untuk rehabilitasi orangutan Sumatera di wilayah Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Jambi.

Tanpa takut, Erni Suyanti Musabine mengobati harimau terluka.

Tanpa takut, Erni Suyanti Musabine mengobati harimau terluka.

DW: Kapan mulai mendekati harimau?

Tahun 2007 untuk pertama kalinya saya melakukan penyelamatan harimau korban jerat pemburu liar di Bengkulu, sejak saat itu saya menyukai hewan yang satu ini dan berkomitmen untuk mengabdikan diri saya dan fokus bekerja bagi konservasi harimau Sumatera hingga sekarang. Karena dari tahun ke tahun konflik harimau semakin meningkat seiring dengan habitat tempat hidupnya yang makin menyempit, serta perburuan harimau untuk menyuplai perdagangan gelap masih terus terjadi, dan dokter hewan yang bersedia untuk bekerja bagi hewan buas ini masih sangat terbatas di Sumatera. Sebelumnya saya ingin sekali menjadi dokter hewan untuk konservasi orangutan, namun akhirnya saya malah bekerja untuk konservasi gajah Sumatera. Tapi dalam 8 tahun terakhir saya lebih tertarik untuk menyelamatkan harimau dari berbagai ancaman sesuai dengan profesi saya hingga kini.

DW: Bisa diceritakan bagaimana kisah penyelamatan harimau-harimau Sumatera ini ?

Saya biasanya mendapat laporan dari Tim Patroli Tiger Protection and Conservation Unit dan Tim Patroli Conservation Response Unit yang melakukan kontrol rutin dihutan habitat harimau Sumatera. Selain itu juga sering mendapat laporan dari masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat yang bekerja untuk konservasi harimau, dan informan kami di desa-desa dekat habitat harimau Sumatera.

Dari informasi tim patroli saya mendapat ‘titik koordinat' (way point) dimana harimau terjerat atau terlibat konflik dengan manusia atau harimau sakit. Dengan titik koordinat saya bisa memeriksa lokasi harimau dengan bantuan peta dan landscape satelite monitoring maka di komputer saya bisa mengetahui lokasi harimau terjerat tersebut masuk wilayah hutan apa, kemudian dapat menghitung jarak lokasi harimau terjerat dengan jalan dan pemukiman atau perkebunan terdekat serta dapat mengetahui daerah mana yang mudah dilalui untuk menjangkau harimau terjerat dan lain-lain.

DW: Pernah harus menolong mereka secara mendadak?

Saya selalu mempersiapkan peralatan medis dan obat-obatan yang bisa digunakan setiap saat, sehingga setiap mendadak ada kasus harimau maka kami bisa cepat berangkat untuk upaya penyelamatan, karena bila kami terlambat makapemburu akan lebih dulu membunuh harimau itu dan mengambilnya.

DW: Separah apa perburuan harimau Sumatera?

Harimau Sumatera sampai saat ini masih jadi incaran pemburu liar untuk diperjualbelikan di pasar gelap dan juga diselundupkan keluar negeri dalam bentuk opsetan, kulit, tulang, taring, dan bagian-bagian tubuh harimau lainnya. Para pemburu liar harimau, pedagang maupun penyelundup memiliki jaringan yang terorganisir dengan baik dan profesional.

Terkadang kami bisa melihat langsung harimau berkeliaran di desa-desan amun tak lama kemudian saya harus rescue harimau terjerat di desa itu danmendapati harimau sudah hilang dan tinggal bekas darah berceceran di lokasi dan di desa lainnya saya menemukan pemburu baru mendapatkan harimau dan menyimpan kulit yang siap diperjualbelikan di pasar gelap, hal seperti itu yangmembuat saya sangat sedih dan kecewa.

DW: Sepertinya Anda tak ada rasa takut sama sekali pada raja hutan ini? Pernah terancam atau terluka?

Saya sangat menyukai harimau sejak pertama kali melihatnya saat harusmenyelamatkannya dari jerat pemburu liar, jadi bila harus berhadapan dengannya malah yang terasa perasaan bahagia, karena jarang sekali orang bisa melihat harimau liar, saya menganggap saya termasuk orang yang beruntung berulang kali bisa melihatnya secara langsung di alam.

Meski demikian saya juga selalu waspada bila berada di tempat yang terlihat ada tanda-tanda harimau berkeliaran yakni dengan cara memahami perilakunya, memahami aktivitas hariannya di hutan. Rasa takut itu terkadang baru muncul pada saat harimau terus mengikuti kami berjalan atau menerkam saat melihat saya datang untuk membiusnya, karena saya biasanya membius harimau dari jarak dekat kurang dari 10 meter sehingga membuatnya merasa terancam dengan kehadiran saya sehingga menyerang.

Namun sejauh ini saya belum pernah dilukai oleh harimau sumatera. Dan sepertinya harimau bisa mengidentifikasi dengan sangat baik orang yang akan menyelamatkannya dengan yang akan memburunya atau membunuhnya, dan respon harimau terhadap orang-orang seperti ini sangat berbeda.

DW: Apa pengalaman Anda yang paling tak terlupakan dalam penyelamatan harimau?

Setiap rescue harimau saya selalu mempunyai pengalaman yang mengesankan, karena masing-masing individu harimau yang diselamatkan punya tingkat kesulitandan tantangan yang berbeda. Pada saat saya rescue harimau bernama Putri tahun 2007, saya belum memiliki peralatan pembiusan sehingga saya menyuntik bius harimau liar dengan menggunakan tangan langsung (handsyringe). Itu tindakan yang gila dan tidak aman tapi saya tidak punya pilihan.

Tahun 2011 saya menyelamatkan harimau bernama Dara yang terjerat di dalam hutan penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat dan harus berjalan kaki selama dua hari untuk menuju lokasi harimau terjerat dengan melewati beberapa bukit dan menyeberangi hulu sungai besar.

Di saat yang bersamaan informan kami mengatakan bahwa pemburu harimau juga sedang menuju lokasi yang sama untuk mengambil harimau itu. Jadi kami harus berjalan lebih cepat di daerah yang sulit dilalui dengan beban ransel yang berat dan harus menaiki bukit dan menuruni jurang beberapa kali.

DW: Pengalaman lainnya?

Tahun 2012 saya harus rescue harimau jantan dewasa yang terjerat kawat sling yang mengikat leher di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, harimau tersebut sedang menyeberangi sungai melewati sebuah batang pohon dan akhirnya jerat tersangkut.

Untuk membiusnya merupakan keputusan yang sulit karena bila dibius harimau bisatercekik lehernya atau jatuh ke dalam sungai, dan bila tidak dibius kami tidak bisamelepaskan jeratnya.

Tahun 2014 saya harus menyelamatkan harimau bernama Elsa di Kabupaten Kaur, Bengkulu dan ada dua ekor harimau lainnya di dekatnya, kemudian jerat Elsa putus sebelum dibius dan harimau berjalan-jalan dan bersembunyi di dalam semak belukar, dan menyuntik bius harimau dalam kondisi seperti itu bukanlah pekerjaan yang mudah dan membahayakan tentunya.

Kami juga pernah menangani konflik harimau di pemukiman masyarakat diKabupaten Seluma, Bengkulu, harimau tersebut berkeliaran di desa selama 3 bulan, masuk ke rumah warga desa, sering berjalan mengikuti manusia. Dan kami pun pernah diikuti dan dikejar harimau saat melakukan penanganan konflik harimau di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara. Dan masih banyak pengalaman menarik lainnyadengan harimau-harimau yang kami selamatkan.

DW: Bagaimana populasi harimau sumatera saat ini?

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) statusnya dalam IUCN Red List sudah masuk dalam kategori Critically Endangered, ini artinya harimau Sumatera termasuk salah satu spesies yang beresiko menghadapi kepunahan diwaktu dekat, kecualiberbagai pihak terkait (stakeholder) memiliki komitmen serius untuk mewujudkan upaya peningkatan populasi harimau Sumatera dan melakukan law enforcement serius terhadap pelaku kejahatan satwa liar (wildlife crime) terutama terhadap harimau sumatera.

Populasinya di alam hanya kurang dari 400 ekor di Pulau Sumatera, dan mereka tidak hanya hidup di dalam kawasan konservasi tetapi juga di luar kawasan konservasi seperti di perkebunan, Hutan Produksi, Hutan Tanaman Industri, bahkan juga berkeliaran di areal pemukiman masyarakat yang dulunya merupakan habitat harimau yang tentu ini juga akan mengancam populasinya karena banyak menjadi sasaran pemburu liar dan rawan terlibat konflik dengan manusia serta rawan tertular penyakit dari hewan domestik, semua faktor tersebut dapat mengancam jiwanya.

Laporan Pilihan