1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Kiprah Cina di Pameran Buku Frankfurt

Kehadiran Cina sebagai tamu kehormatan pameran buku Frankfurt tahun 2009 memunculkan sejumlah perdebatan sengit.

default

Stan Cina di pameran buku Frankfurter Buchmesse

Sejak tahun 1976, pameran buku Frankfurter Buchmesse menampilkan satu negara yang menjadi tamu kehormatan. Tahun lalu, saat Turki menjadi tamu kehormatan ajang pameran buku terbesar dunia, muncul sejumlah kritik menyoal catatan HAM Turki. Hal sama terjadi tahun ini. Tamu kehormatan kali ini adalah negeri tirai bambu Cina.

Cina tampil dengan karya tulis tapi juga instalasi seni di Frankfurter Buchmesse. Misalnya, karya Li Jiwei.

Selembar kertas raksasa yang transparan melayang di atas kepala para pengunjung. Di lantai ruang pameran terlihat kolam kecil dengan proyeksi tinta di permukaannya. Di sekeliling kolam tersebut berdiri balok kayu bertuliskan huruf Cina. Li Wei, seniman yang menggagas instalasi seni di Pameran Buku Frankfurt ini menjelaskan:

"Saya harap, pengunjung tak beranggapan bahwa budaya Cina hanya terdiri dari lampion berwarna merah. Di Cina juga ada seni modern."

Dan seni modern inilah yang ingin ditampilkan Li Jiwei.

Harmoni yang merangkul semua perbedaan - kata-kata ini kerap terdengar di pameran buku Frankfurt tahun ini. Tapi bila diamati lebih seksama, tampaknya pendapat yang beda tak mutlak ditampilkan di ajang pameran buku. Tembok ruang pameran dihiasi foto sejumlah penulis Cina. Meski foto yang terpasang hanya menunjukkan penulis yang kehadirannya disetujui komite penyelenggara resmi. Suara-suara kritis seperti misalnya Yan Lianke atau Liao Yiwu dibungkam, mereka tidak mendapat izin untuk hadir di pameran buku terbesar dunia. Meski begitu, ketua tim penyelenggara pameran buku Jürgen Boos yakin, dialog tetap belangsung di ajang ini:

"Saya rasa, dialog tetap berlangsung di sela-sela acara ini. Dialog tidak dilakukan secara terbuka, karena posisi pihak-pihak yang terlibat terlalu bertolak belakang. Tapi peluang itu tetap ada. Saya tahu bahwa sejumlah penulis asal Taiwan akan bertemu penulis Republik Rakyat Cina di sini. Mereka duduk bersama, berdiskusi dan mungkin saja ada hal baru yang nantinya muncul."

Michael Khan-Ackermann, direktur regional Goethe-Institut di Cina juga mengharapkan adanya konfrontasi yang menarik di pameran buku Frankfurt. Khan-Ackermann sudah bertahun-tahun hidup di Cina. Menurutnya, warga Jerman harus lebih berhati-hati dalam menilai tamu kehormatan pameran buku tahun ini:

"Pemahaman barat tentang Cina saat ini sedikit kabur, tidak sesuai dengan realita di Cina dan hanya menggores permukaan yang ada. Kalau ada dialog yang kritis, saya berharap, kritik tersebut berlaku bagi semuanya, dan tidak hanya kritik sepihak."

Selama pekan pameran buku di Frankfurt digelar 450 acara yang berkaitan dengan tamu kehormatan Cina. Setengahnya digagas komite penyelenggara resmi, sisanya oleh insitusi independen dan percetakan. Salah seorang tamu yang hadir atas undangan pihak independen adalah Yang Lian. Ia sudah bertahun-tahun hidup di pengasingan di London. Tapi ia tetap merasa sebagai seorang penulis Cina. Pendapatnya mengenai komite penyelenggara Cina yang sekaligus berfungsi sebagai dinas sensor tertinggi

"Mereka hanya membahas soal ideologi. Mereka hanya bertugas menjalankan mesin propaganda, berbeda dengan para pengambil keputusan yang memikul tanggung jawab bagi hidup orang. Dinas sensor tidak akan berubah, mereka adalah mitra yang palin sulit."

Meski begitu Yang Lian yakin, di masa depan Cina akan semakin membuka diri. Negara tirai bambu terus berubah - dan suatu hari pemerintah Cina harus menerima kenyataan ini:

"Meski mereka tidak menerimanya - pemerintah tidak bisa mengontrol perubahan ini. Mereka ingin sekali bisa mengaturnya, tapi mereka tidak bisa."

Petra Lambeck/Ziphora Robina
Editor: Hendra Pasuhuk