1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kilas Balik Misi NATO di Libya

Hari Senin (31/10/11), NATO secara resmi mengakhiri misi di Libya. Misi utama NATO adalah melindungi rakyat Libya, bukan menjatuhkan rejim. Tapi faktanya, NATO memainkan peran besar untuk menjatuhkan Muammar Gaddafi.

default

Ucapan terima kasih kepada NATO di atas sebuah dinding di Tripoli

Pertengahan Februari, kekerasan meluas di Libya. Demonstrasi anti pemerintah, dihadapi oleh Gaddafi dengan senjata berat yang mengakibatkan banyak korban tewas dan luka. Komunitas dunia merespon: Sekjen NATO Anders Fogh Rasmussen bicara tentang apa yang dia sebut sebagai krisis. "Itu berpengaruh terhadap nyawa dan keselamatan rakyat Libya, dan juga bagi ribuan warga negara-negara NATO."

Mandat untuk Melindungi Warga Libya

Kecaman dunia tak menyurutkan Gaddafi. Penguasa Libya itu terus menggunakan kekuatan militer menghadapi demonstran. Pertengahan Maret, Dewan Keamanan PBB memberlakukan zona larangan terbang. Dua pekan kemudian, NATO mengambil alih komando atas Libya. Mandat PBB memberi NATO kewenangan untuk melindungi rakyat Libya.

Perancis dan Inggris mengambil inisiatif di depan, Amerika Serikat mendukung di belakang dengan menyediakan intelijen dan pengisian bahan bakar di udara bagi pesawat NATO. Kampanye udara untuk memperlemah kekuatan militer Gaddafi dimulai.

Misi utama NATO adalah melindungi warga sipil. Komandan militer NATO di Libya Charles Bouchard berkali-kali menekankan, "Tujuan kami bukan untuk mendukung kekuatan anti Gaddafi. Tapi untuk mencegah kekerasan terhadap warga."

Andil Besar NATO

Sepanjang garis komando, pesawat tempur NATO tidak bisa dianggap sebagai pasukan udara kelompok pemberontak yang menentang Gaddafi. Meski kenyataannya, mereka memainkan peran penting untuk membebaskan negeri itu dari Gaddafi.

Misi ini diklaim sukses. Wakil Komandan NATO di Libya, Laksamana Russ Harding, menjelaskan operasi militer udara di Libya, "Semua dilakukan malam hari, dan sudah dihitung di mana target berada. Dan kami hanya menggunakan senjata paling akurat yang bisa dibuat oleh manusia saat ini."

Harding mengatakan, pada bulan Agustus serangan udara NATO ditujukan ke ibukota Tripoli, dan terakhir pasukan sekutu terlibat operasi di Bani Walid dan Sirte. 20 Oktober, Gaddafi mencoba meninggalkan Sirte dan tertangkap, lalu tewas dalam sebuah situasi yang hingga kini masih menjadi misteri.

Senin, 31 Oktober pukul 23.59 waktu Libya, NATO secara resmi mengakhiri misi. Sekjen NATO Rasmussen, mengatakan tugas militer telah usai. Kata Rasmussen, yang diperlukan kini adalah membangun kembali Libya, dan NATO siap membantu, jika dibutuhkan dan diminta oleh penguasa baru Libya.

Andy Budiman Editor: Handra Pasuhuk

Laporan Pilihan