1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Keunggulan dan Bahaya Teknologi Nano

Dikhawatirkan partikel yang berukuran hanya beberapa atom itu dapat membahayakan kesehatan atau lingkungan jika penggunaannya tidak diawasi ketat .

default

Teknologi nano untuk pembuatan chips komputer.

Teknologi nano, yakni teknik terbaru dengan material berukuran nanometer atau sepersemilyar meter kini mulai menyerbu pasar. Dalam teknologi terapan dan juga di bidang kedokteran, dengan bantuan teknologi nano, terbuka cakrawala baru yang cukup cerah. Akan tetapi, selain keunggulannya kini juga dipertanyakan ancaman bahaya teknologi nano tsb.

Dengan teknologi nano, dewasa ini dapat dibuat berbagai material yang samasekali baru. Misalnya perekat yang bisa menempel layaknya kaki tokek. Atau sebaliknya, lapisan yang bersifat seperti daun keladi, yang bahkan dapat mencegah menempelnnya madu. Juga lensa kacamata yang tidak bisa kotor atau bisa menepis menempelnya uap air. Sementara di bidang kedokteran, teknologi nano menjanjikan sejumlah kemungkinan terapi baru. Disamping berbagai keunggulannya, para pakar teknologi kini juga mempertanyakan dampak sampingan berbahaya dari teknologi nano.

Bahaya debu nano

Nanomaterialien und Arbeitsschutz Faseragglomerat 45000-fach

Kumpulan serat partikel berukuran nano meter yang dapat membahayakan kesehatan manusia.

Teknologi nano terapan yang kini sudah dipasarkan, kebanyakan berupa lapisan yang terikat erat pada permukaan materialnya. Teknik semacam ini tidak terlalu mencemaskan para pengawas dari lembaga federal Jerman untuk perlindungan kerja dan kedokteran kerja. Berbeda halnya jika partikel nano itu berbentuk debu atau terlarut dalam cairan. Pakar material berbahaya dari lembaga federal Jerman untuk perlindungan kerja dan kedokteran kerja, Rolf Packroff menjelaskan : “Kami juga sering bekerja dengan material yang mengembangkan banyak debu. Debunya dapat masuk ke paru-paru. Juga terdapat material berbentuk serat, yang berdasarkan pengalaman kami dengan serat asbes, harus diperhatikan secara khusus.“

Dalam hal ini perhatian khusus diarahkan pada partikel nano berbentuk pipa dari unsur karbon yang disebut pipa nano-karbon. Partikel ini dapat diolah menjadi serat yang di bawah mikroskop terlihat amat mirip dengan serat asbes. Tapi apakah seratnya juga sama berbahayanya seperti serat asbes, tidak begitu saja dengan mudah ditegaskan.

“Tidak semua serat memicu kanker. Akan tetapi kita harus mengamati unsur berbentuk serat, dan biasanya hanya ujicoba yang dapat membantu menegaskan, apakah seratnya dapat memicu kanker. Pada pipa-nano karbon terdapat perbedaan amat mencolok“, ujar Packroff lebih lanjut.

Debu amat halus terutama membahayakan kesehatan manusia, karena dapat masuk hingga ke saluran pernafasan terbawah bahkan sampai ke gelembung paru-paru. Pakar toksikologi dari lembaga federal Jerman untuk perlindungan kerja dan kedokteran kerja, Thomas Gebel menjelaskan, partikel debu yang berukuran relatif besar, biasanya dapat disaring dan disingkirkan oleh bulu-bulu halus di saluran pernafasan bagian atas. Akan bagian saluran pernafasan bawah tidak memiliki bulu halus semacam itu.

“Di bagian itu hanya ada sel pemangsa yang menyingkirkan debunya. Dan hal itu berlangsung relatif lamban dan buruk, hingga debu yang tidak bisa dimusnahkan, akan berada di sana seumur hidup dan memicu masalah,“ tutur Gebel. Misalnya saja partikel debunya dapat memicu peradangan di bagian tsb. Bahkan membentuk tumor.

Perlu penelitian lanjutan

Internationales Forschungszentrum Caesar in Bonn p178

Riset teknologi nano di pusat penelitian Caesar di Bonn.

Untuk meneliti apakah di tempat kerja terdapat partikel debu berbahaya, para ilmuwan memasang apa yang disebut presipitator thermal. Dengan alat itu, udara dari tempat kerja disedot, dan dilewatkan pada dua lempengan material yang berbeda suhunya. Pakar material berbahaya Rolf Packroff menjelaskan lebih lanjut : “Akibat perbedaan suhu, partikel debu amat halus terhimpun pada sebuah lempengan silikon. Selanjutnya saya dapat menelitinya di bawah mikroskop elektron.“

Pakar material berbahaya Rolf Packroff kemudian meneliti lebih jauh debu tsb, untuk memastikan sifat atau ancaman bahayanya.  “Bagaimana kenampakan partikelnya? Apakah ini bagian dari debu? Apakah sulit terurai? Jika terdapat serat di dalamnya, kami harus menilainya secara khusus dan bagaimana komposisi kimianya secara keseluruhan. Sebab kami tentu juga mengetahui, bahwa bahan kimia tertentu, misalnya logam berat dapat diduga menimbulkan ancaman bahaya, dan lewat sifat nano bahayanya tidak berubah,“ jelas pakar material berbahaya itu.

Akan tetapi disebutkan terdapat perbedaan mendasar. Partikel nano memiliki permukaan yang lebih besar dibanding partikel lainnya. Dengan itu terbuka peluang bahwa tubuh dengan cepat menyerap unsur merugikan tsb.

Selain itu, para ilmuwan juga mengakui belum banyak mengetahui dampak negatifnya secara akurat terhadap tubuh. Karenanya mereka menyarankan agar berhati-hati dalam penanganan material semacam itu. Miriam Baron dari kelompok pakar manajemen unsur berbahaya, mengetahui bagaimana caranya agar dapat mencegah terhisapnya unsur berbahaya itu ke saluran pernafasan.

“Kita berusaha mengikat debunya pada cairan atau pada bahan padat, granulat, krem atau juga campuran komponen. Terdapat tindakan teknis, misalnya dengan membuang udaranya, menerapkan sebuah sistem sirkulasi tertutup atau menyedotnya. Tindakan perlindungan pekerja misalnya dengan mengenakan masker pelindung saluran pernafasan, kacamata pelindung, sarung tangan dan juga baju pelindung,“ kata Baron menegaskan.

Para pakar dari lembaga federal Jerman untuk perlindungan kerja dan kedokteran kerja, secara umum memperketat aturan kerja berkaitan dengan material yang belum diteliti secara mendalam ancaman bahayanya. Seperti misalnya unsur yang mengandung partikel nano. Prinsipnya, selama terdapat celah dalam data keselamatan kerja, para pekerja memerlukan tingkat keselamatan kerja amat tinggi. Dengan berbagai tindakan perlindungan, diharapkan unsur-unsur yang mengandung partikel berbahaya itu tidak terhisap atau masuk ke dalam tubuh dan di kemudian hari menimbulkan masalah kesehatan yang merugikan para pekerja. 

Fabian Schmidt/Agus Setiawan

Editor : Anggatira Gollmer