1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kerusuhan di Iran Semakin Meruncing

Oposisi di Iran kembali mengadakan demonstrasi terhadap Presiden Mahmud Ahmadinejad hari Minggu (27/12). Dalam bentrokan dengan polisi beberapa orang tewas di antaranya keponakan pemimpin oposisi Mousavi.

default

Polisi Iran menindak demonstran

Kerusuhan terjadi di sejumlah kota di Iran, antara lain di ibukota Teheran. Akibat bentrokan dengan aparat keamanan yang terjadi beberapa hari belakangan ini sedikitnya delapan orang dilaporkan tewas. Kini kerusuhan terus berlangsung dan semakin brutal. Menurut laporan dalam situs internet milik oposisi, keponakan pemimpin oposisi Mir Hossein Mousavi yang bernama Ali Mousavi termasuk dalam sejumlah orang yang tewas.

Sore hari waktu Teheran, dalam wawancara dengan kantor berita Fars, jurubicara polisi masih menyangkal adanya korban tewas. Sementara itu, demonstran mulai membagi-bagikan foto yang menunjukkan jenasah serta sejumlah orang yang luka-luka akibat bentrokan. Mereka juga memasukkan foto-foto tersebut ke situs internet.

Demonstrasi di Beberapa Kota

Demonstrationen im Iran

Polisi Iran dan anggota milisi Basij tampak selama demonstrasi di Teheran (26/12)

Saat berita diturunkan televisi pemerintah di Iran memastikan, bahwa telah jatuh korban jiwa dalam bentrokan antara demonstran dengan aparat keamanan. Banyak saksi mata melaporkan, Minggu sore 27 Desember asap membumbung tinggi di daerah pusat kota Teheran. Sepanjang poros jalan "Enqelab“ – dari lapangan Imam Hossein di timur hingga Lapangan Kebebasan di barat – yang jaraknya sekitar 15 km terjadi aksi protes. Polisi menggunakan gas air mata untuk menghalau demonstran, sementara itu seruan "Matilah Diktator" berkali-kali terdengar.

Saat ini gambaran menyeluruh tentang situasi di Iran sulit diberitakan. Bentrokan dikabarkan juga terjadi di Isfahan, Tabriz dan Najafabad, yang menjadi kota kelahiran Ayatollah Besar Hossein Ali Montazeri. Ayatollah yang mendukung oposisi itu meninggal hari Jumat lalu.

Demonstran Semakin Brutal

Iran

Aksi Protes selama peringatan kematian Montazeri. Warna hijau, warna oposisi, banyak dikenakan

Demonstran dilaporkan berhasil mengambil pentungan, rompi pelindung serta sepatu para polisi. Di samping itu mereka juga membakar mobil dan motor milik polisi, juga sejumlah tempat sampah. Banyak remaja yang berdemonstrasi meneriakkan yel-yel, yang mirip dengan yang diserukan kaum revolusioner 30 tahun yang lalu. Mereka menyatakan siap mati dalam perjuangan melawan sistem Islam yang berlaku di Iran. Pada saat bersamaan mereka juga menyerukan tuntutan,"Turunlah pemerintah yang menipu. Kami sudah hampir menang."

Aksi-aksi protes terhadap pemerintahan Ahmadinejad, yang terus diadakan hingga malam hari, diawali pada saat upacara memperingati kematian Ayatollah Ali Montazeri hari Minggu 20 Desember lalu. Ia adalah pakar teologi yang ternama dan pengritik pemerintah yang paling tajam.

Demonstrasi pada Hari Asyura

Aschura Fest im Iran

Kaum Syiah memukul punggung mereka dengan rantai dalam rangka peringatan Hari Asyura (26/12)

Hari Minggu 27 Desember pemeluk agama Islam Syiah merayakan hari Asyura, di mana diperingati perang yang terjadi di kota Kerbala tahun 680, yang menandai perpecahan antara kaum Suni dan Syiah. Bagi warga Syiah Asyura adalah puncak bulan duka Muharram.

Pada masa kekuasaan Shah Iranpun pada hari raya Asyura sering terjadi kerusuhan. Di masa itu, pendukung revolusi yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini menginterpretasikan Asyura sebagai teladan bagi perlawanan politik. Sekarang, protes yang berlangsung arahnya telah berubah. Memang isinya tetap protes menentang pemerintah, tetapi kali ini terhadap pemerintah yang dibentuk pengganti Khomeini. Aksi protes oposisi di Iran telah berlangsung setengah tahun. Awalnya adalah pemilihan presiden tanggal 12 Juni lalu, yang hasilnya, menurut oposisi, telah dimanipulasi pemerintah untuk kepentingan Ahmadinejad.

Ulrich Pick / Marjory Linardy

Editor: Rizki Nugraha