1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kerusuhan Berkecamuk di Kamboja

Kamboja dibekap kerusuhan sejak aksi buruh menuntut kenaikan upah yang ditunggangi oposisi. Kematian tiga orang, Jumat (3/1) menandai krisis politik berkepanjangan yang sedang terjadi di negeri jiran itu.

Anggota kepolisian militer Kamboja melepaskan tembakan untuk menghalau aksi protes buruh pabrik textil yang menuntut kenaikan gaji, Jumat (3/1). Penembakan tersebut berbuntut tewasnya tiga orang, kata saksi mata.

Kerusuhan selama aksi mogok di Kamboja meletus pada hari kedua ketika aparat keamanan diturunkan untuk meredam demonstrasi ribuan buruh. Mereka menolak bubar dan melemparkan batu, botol dan bom api di luar kawasan pabrik di Phnom Penh.

Bentrokan tersebut menandai eskalasi krisis politik di Kamboja. Buruh yang melakukan aksi mogok bergabung dengan gerakan protes anti pemerintah yang dipimpin oleh kelompok oposisi dari Partai Penyelamatan Nasional Kamboja (CNRP).

Menggunakan Amunisi Tajam

Aksi protes yang diawali oleh oposisi itu kemudian diikuti oleh serikat buruh di seluruh negeri untuk mendesak pengunduran diri Perdana Menteri Hun Sen dan menuntut pemerintah mengulang pemilihan umum yang diyakini telah dimanipulasi.

Kepolisian militer menghadapi demonstran dengan menembakkan amunisi tajam, kata seorang wartawan kantor berita Reuters. Ratusan selongsong peluru dikabarkan berserakan di tempat terjadinya aksi demonstrasi.

Berlawanan dengan keterangan saksi mata terkait korban penembakan, Jurubicara Kepolisian Militer, Kheng Tito mengklaim pihaknya cuma mendapati satu korban tewas. "Kami meminta maaf bahwa satu orang terbunuh dan beberapa lainnya mengalami luka-luka," katanya. "Tapi kami cuma menjalankan tugas. Sekarang kami akan mengamankan situasi."

Eskalasi Kekerasan Tanpa Dialog

Peristiwa tersebut didahului oleh bentrokan serupa, Selasa (31/12) di beberapa lokasi di Phnom Penh, ketika aparat keamanan memukuli demonstran dengan tongkat kayu. Saksi mata mengklaim, sedikitnya 20 orang mengalami luka-luka.

"Jika kekerasan berlanjut dan tidak diiringi dengan upaya dialog, maka kekerasan akan semakin merajalela," kata Cheng Sophors dari Organisasi HAM, Licardo. "Demonstran saat ini sudah mulai marah," imbuhnya lagi.

Kelompok oposisi CNRP dipimpin oleh bekas Menteri Keuangan, Sam Rainsy yang menggandeng 350.000 buruh pabrik textil dari hampir 500 pabrik dengan menjanjikan kenaikan upah minimum jika ia terpilih kembali pada pemilu ulangan Juli mendatang. Sejauh ini Perdana Menteri Hun Sen menolak menyelenggarakan ulang pemilihan umum.

rzn/ap (dpa,rtr,ap)