1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kepentingan India di Laut China Selatan

China lakukan investasi dalam berbagai proyek pelabuhan di Samudera India secara besar-besaran. Sementar India punya kepentingan komersial di Laut China Selatan. Dan kedua negara perkuat angkatan lautnya.

Hubungan dengan China saat ini tercantum paling atas di agenda politik luar negeri pemerintahan di New Delhi. Menteri Luar Negeri India, Salman Kurshid hari Selasa (12/12) menyebut peningkatan pengaruh China di wilayah Samudera Hindia sebagai sebuah perkembangan yang "harus diterima oleh India". Menlu yang baru dilantik enam minggu lalu itu, menuntut dengan jelas agar tokoh-tokoh politik di New Delhi menemukan jawaban untuk tantangan itu: "China agresif. China adalah mitra dan tetangga kita." Tantangan bagi kebijakan politik luar negeri India adalah menggunakan kekuatan kedua negara demi kepentingan kedua negara, tambah Salman Kurshid.

Pesan Menlu India itu antara lain ditujukan kepada panglima angkatan laut India, Admiral Devendra Kumar Joshi. Sebelumnya ia mengutarakan, India siap untuk bertindak secara militer demi membela kepentingan kelautan dan ekonominya di Laut China Selatan, meskipun India tidak mengklaim wilayah itu. Bersamaan dengan itu Joshi menyebut modernisasi angkatan bersenjata China sebagai "sangat mengesankan" dan menuntut pemerintah India untuk bertindak. "India harus segera memikirkan strateginya."

Adu Otot

--- 2012_03_29_südchinesisches_meer_CHI_2.psd

Peta Laut China Selatan

Sejumlah negara Asia dan tetangganya India serta China memang sejak beberapa saat terlibat dalam adu otot terkait militer. Tahun 2012, China meningkatkan anggaran persenjataannya sekitar 11 persen menjadi 106 miliar Euro. September lalu China mengoperasikan kapal induk pertamanya, dan hingga 2020 akan membeli kapal-kapal perang dan kapal selam baru. Sedangkan anggaran persenjataan India hanya sekitar 40 miliar Eruo.

Dalam pembicaraannya dengan Deutsche Welle, Christian Wagner, pakar Asia Selatan dari Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Politik (SWP) di Berlin menegaskan, sejak bertahun-tahun India juga memodernisasi angkatan bersenjatanya, "Jenderal-jenderal India melihat persenjataan China yang jauh lebih kuat dengan kekhawatiran yang besar. Karena mereka mengetahui, secara finansial India tidak mampu menyaingi hal itu." Oleh sebab itu, ucapan Admiral India itu bisa dilihat sebagai pertanda terhadap pemerintahnya untuk tidak melupakan upaya memodernisasi senjata, dan juga sebagai pesan kepada angkatan laut sendiri. Pasalnya, adu kekuasaan antara India dan China diproyeksikan terutama di wilayah "maritim", demikian Wagner.

Chinese Prime Minister Wen Jiabao (L) and Indian Prime Minister Manmohan Singh (R) arrives for a series of agreement signings in New Delhi on December 16, 2010. Chinese Premier Wen Jiabao arrived in India at the head of a huge business delegation to try and shore up a relationship undermined by persistent trade and territorial disputes. AFP PHOTO/Prakash SINGh (Photo credit should read PRAKASH SINGH/AFP/Getty Images)

Perdana Menteri China Wen Jiabao dan Perdana Menteri India Manmohan Singh (kanan)

Minyak di Laut China Selatan

India memang tidak memiliki klaim teritorial di Laut China Selatan. Keberadaannya secara aktif di wilayah itu dalam rangka proyek eksploitasi minyak. Oktober 2011, pemerintah Vietnam memberikan hak kepada perusahaan minyak negara India ONGC Videsh untuk melakukan pemboran minyak di perairan Laut China Selatan. China mengkritik pedas keputusan ini. Pertikaian kini semakin panas. Jurubicara Kementrian Luar Negeri China, Hong Lei mengatakan Rabu lalu (5/12): "China menentang semua bentuk eksploitasi gas dan minyak di wilayah Laut China Selatan yang sedang dipertikaikan". Jurubicara tersebut berharap, negara-negara terkait menghormati "kedaulatan China dan kepentingan nasional."

Menurut perkiraan Amerika Serikat, terdapat cadangan minyak hingga 213 miliar barrel di dasar Laut China Selatan. Jumlah yang luar biasa besarnya dan membangkitkan keinginan untuk menguasai cadangan yang kini semakin menipis. Kasus yang serupa juga telah menimbulkan ketegangan antara China dan negara Asia lainnya, seperti Vietnam, Malaysia, Filipina dan Brunei.

"Hingga saat ini India tidak membiarkan diri untuk diprovokasi", ujar Komodor Uday Bhaskar dari New Delhi kepada Deutsche Welle, "India selalu mengulangi, aktif di wilayah ini semata karena alasan komersial. India tidak pernah berpihak bila itu menyangkut kepentingan teritorial China atau Vietnam."

"Hindari provokasi untuk bersaing"

Die INS Viraat (R22), die vormalige HMS Hermes, ist ein Flugzeugträger der britischen Centaur-Klasse, der seit 1989 bei der indischen Marine in Dienst steht. Indian Navy's aircraft carrier INS Viraat (R) is seen with other ships during a the Fleet Review (PFR-11) in Mumbai on December 20, 2011. Indian President Pratibha Patil, who reviewed a Naval fleet of 81 ships and 44 aircraft, said the Navy's dominance in the region is set to grow with the induction of an aircraft carrier, new submarines and destroyers. A fleet review is conducted once in the tenure of a President to showcase to the Supreme Commander of the Armed Forces and the country, the naval prowess and its strike capabilities. AFP PHOTO/Punit PARANJPE (Photo credit should read PUNIT PARANJPE/AFP/Getty Images)

Kapal induk India

Namun justru sikap inilah yang dikritik analis dan media di India. Masihkan IIndia melihat dirinya sebagai adidaya regional seperti sebelumnya? Atau apakah India sebagai bakal negara adidaya akan mempertahankan kepentingannya, juga secara militer di luar Samudera India? Pakar pertahanan Uday Bhaskar melihat pesimis tuntutan terhadap strategi yang agresif dan menyetujui sikap Menlu India: "India dan China harus menghindari persaingan tidak wajar." India tidak boleh berpendapat akan kehilangan pengaruh regional bila China menang atau sebaliknya. Karena, bila kedua negara mengikuti prinsip tersebuit, tidak akan ada "abad ke-21 Asia" seperti yang diharapakan orang-orang, tambah Uday Bhaskar.

Beijing melakukan investasi besar-besaran di mana-mana, apakah itu dalam proyek pembangunan pelabuhan di Hambantota di Sri Lanka atau di Gwadar di Pakistan. Tetapi Christian Wagner meragukan bahwa kebijakan China di Samudera India dapat dikategorikan sebagai ekspansi yang agresif. "Dalam interpretasi investasi China di Samudera India tidak jelas, apakah mereka benar-benar merupakan ancaman politik bagi India, seperti yang dikhawatirkan pakar pertahanan India." Menurut Wagner, aktivitas China mungkin merupakan bagian dari kebijakan perdagangan untuk mendiversifikasikan akses agar dapat membawa barang dan energi secara lebih murah ke barat atau ke selatan China. " Dengan demikian China tidak lagi hanya tergantung pada Selat Malaka, salah satu jalur internasional paling sibuk yang menghubungkan Samudera India dengan Laut China Selatan.

Laporan Pilihan