1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Kemiskinan dan Warga Lansia Eropa

Hidup senang sebagai pensiunan? Di Eropa itu akan jarang terjadi. Warga lansia makin banyak, sedangkan jumlah kelahiran menurun. Krisis Euro semakin desak sistem sosial itu.

Bagi banyak orang, yang hidup sengsara di Afrika Utara atau terancam karena pandangan politik tertentu, Eropa menjadi harapan besar. Ribuan dari mereka mempertaruhkan nyawa dalam upaya menyeberangi Laut Tengah. Bagi mereka yang mencari pertolongan itu, tampak abstrak, jika bahaya kemiskinan di masa tua semakin banyak didiskusikan di Eropa. Karena pengertian mengenai kemiskinan dalam konteks sebuah negara industri di Eropa Barat, dan di negara krisis di Afrika jauh berbeda.

Kenyataannya, Eropa berada dalam tahap perkembangan yang jauh di atas kondisi di Afrika, tetapi sudah menjadi ancaman di Uni Eropa. Karena tidak hanya akibat perubahan demografis berupa masyarakat yang semakin tua yang kian mendesak sistem-sistem sosial, melainkan juga krisis mata uang Euro. Di banyak negara Eropa jumlah orang yang berada dalam usia kerja semakin berkurang, sementara jumlah penganggur semakin banyak. Akibatnya, dana pensiun dan pembayaran dari asuransi untuk usia lanjut berkurang.

Bahaya bagi Eksistensi

Menurut komisi Eropa, jumlah warga yang berusia di atas 60 tahun per tahunnya bertambah lebih dari dua juta orang, sehingga jumlahnya sekarang dua kali lipat lebih tinggi daripada 10 tahun lalu. Saat ini, pemerintah negara-negara Uni Eropa sudah memberikan 10% dari produk nasional bruto bagi dana pensiun. Jumlah itu akan semakin bertambah.

Sekarang di Uni Eropa hidup sekitar 120 juta orang yang mengandalkan uang pensiun, jadi 24% dari jumlah penduduk seluruhnya. Beberapa tahun lalu gambaran warga pensiunan yang miskin tidak pernah dipadukan dengan negara seperti Jerman atau Inggris.

Sekarang, jika sudah tidak bekerja, banyak orang tidak hanya terancam kemiskinan melainkan bisa kehilangan eksistensinya. "Memang tidak ada data tepat, karena penelitian soal kemiskinan juga tergantung pada masalah anggaran Uni Eropa", dipaparkan Michael Dauderstädt dari yayasan Jerman Friedrich Ebert Stiftung, dalam pembicaraan dengan Deutsche Welle, "tetapi mengingat struktur jaminan hari tua yang ada di sebagian besar negara Eropa diduga keras, risiko akan bertambah".

Menurut data yang dimiliki saat ini, angka kemiskinan warga lanjut usia sangat tinggi di Spanyol, Portugal dan Yunani. Menurut Dauderstädt, quotanya berada antara 20 sampai 27 persen. Orang harus memperhitungkan, bahwa kecenderungan ini akan semakin kuat akibat program penghematan yang sedang berlangsung. Demikian ditekankan kepala bidang Politik Ekonomi dan sosial pada yayasan Jerman tersebut. Dalam kasus Yunani ia dapat mengatakannya dengan pasti.

Inggris Juga Terancam

Menurut studi Friedrich Ebert Stiftung, tidak hanya warga lanjut usia di negara-negara Eropa yang mengalamai krisis, yang terancam kemiskinan, melainkan juga Inggris. Di Inggris, uang pensiun rendah, sehingga titik berat terletak pada pemasukan tambahan. Tetapi jaminan negara serta swasta ini sangat rentan terhadap krisis pasar modal serta kesalahan manajer di dunia perbankan. Sebaliknya, di banding negara-negara lainnya, situasi di Belanda sangat baik. Dengan tingkat kemiskinan hampir 15% bagi warga berusia di atas 65, Jerman masih berada di skala bagian tengah. Memang situasinya tidak sebaik seperti di Belanda, tetapi jelas lebih baik dibanding dengan Inggris dan Denmark.

Semakin besarnya bahaya kemiskinan warga lansia terutama mengancam perempuan. Persamaan antara perempuan dan pria sebenarnya salah satu landasan penting Uni Eropa. Tahun 1957, prinsip "gaji sama bagi pekerjaan sama" sudah ditanamkan dalam perjanjian Roma. Tetapi bagi banyak perempuan kenyataannya berbeda. Jurang pendapatan yang memisahkan pria dan perempuan semakin besar, walaupun ada upaya penyamaan. Di Uni Eropa, perempuan mendapat gaji 17% lebih sedikit daripada laki-laki, walaupun melakukan pekerjaan yang sama. Oleh sebab itu, perempuan nantinya mendapat pensiun lebih sedikit dari pria, dan di masa tua kurang terjamin dibanding pria.

Kerugian Perempuan

"Lagi pula tergantung juga, sejauh mana perempuan ikut mendapat keuntungan dari pensiun suami mereka, dalam kehidupan berkeluarga. Tetapi risikonya tentu lebih besar", demikian diterangkan pakar politik ekonomi dan sosial, Michael Dauderstädt. Di samping itu, perempuan biasanya berhenti bekerja lebih dini daripada pria, agar dapat mengurus keluarga. Perempuan juga kerap merawat anggota keluarga yang lebih tua, sehingga bekerja lebih sedikit. Itu semua berdampak pada besarnya uang pensiun yang akan diperoleh.

Komisi Uni Eropa sudah memberikan reaksi beberapa bulan lalu atas perkembangan yang problematis ini. Komisi menjadikan tahun 2012 sebagai "Tahun Eropa untuk menjadi semakin tua tetapi aktif, dan solidaritas antar generasi'. Selain itu Uni Eropa mengusulkan, agar warga Eropa di masa depan bekerja sampai usia lebih tinggi. Agar sistem sosial tidak ambruk, perempuan harus bekerja selama pria. Dalam reformasi sistem pensiun, semua negara anggota harus memperhitungkan situasinya sendiri. Itu dikatakan Komisaris Eropa untuk masalah pekerjaan, sosial dan integrasi, Laszlo Andor, di Brussel. Tetapi ada "prinsip-prinsip tertentu yang berlaku untuk seluruh Uni Eropa". Termasuk di dalamnya, penyamaan usia pensiun dan perkiraan usia hidup.

Warga Eropa Ingin Bekerja Lebih Lama

"Sangat penting untuk mengurus pemasukan di masa tua sedini mungkin, mendorong pekerjaan dan mengurus agar lebih banyak orang lebih lama membayar ke dana pensiun, untuk menciptakan dasar kuat bagi tunjangan bagi masa tua." Demikian Andor. Di Uni Eropa, Swedia menjadi contoh positif. Negara Skandinavia itu mengaitkan usia pensiun dengan perkiraan lama hidup, dan di negara itu jumlah pekerja terbesar berusia antara 55 dan 64 tahun.

Jaminan di masa tua sangat sulit akibat krisis keuangan, yang mengubur stabilitas keuangan. Itu diakui Andor, sambil menambahkan, "Tetapi kita tetap bisa mengusulkan tindakan untuk menegakkan stabilitas itu." Usulnya itu kemungkinan besar didukung sebagian besar orang Eropa. Menurut jajak pendapat Eurobarometer, 61% warga Eropa lebih suka terus bekerja di usia pensiun, dengan syarat kondisinya bagus.

Laporan Pilihan