1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Kembali ke Kota, Membangun Bersama

Impian punya rumah sendiri di pinggiran kota mulai pudar. Alternatifnya:kaum lajang dan keluarga di berbagai kota Jerman bergabung untuk membangun perumahan bersama.

default

Dera mesin penggali,  derek yang memindahkan batu dan pekerja yang menjaga keseimbangan pada perancah bangunan. Utz Ingo Küppers  berdiri diantara kobakan dan mesin pencampur beton.

Baugruppe Köln-Sülz Entwurf Thomas Luczak

Rancangan Thomas Luczak untuk Kelompok Pembangunan Köln-Sülz

Ia menunjuk ke arah bangunan yang akan menjadi rumahnya. "Kami mulai membangun Maret lalu. Sekarang gudang bawah tanah dan lantai dasar sudah selesai. Di lantai dasar ke arah jalanan, kami membuat  ruang bersama yang bisa dipakai juga oleh kelompok atau keluarga lain. Kami juga bikin ruang bersama di bagian bawah untuk mencuci dan mengeringkan baju."

Ramah Lingkungan dan Terjangkau

Awal tahun depan sekitar 30 orang dewasa dan 20 anak-anak akan pindah ke rumah ini. Tiga tahun lalu Küppers, pensiunan direktur pembangunan kota Köln bergabung dengan 16 orang bervisi serupa membentuk sebuah kelompok pembangunan. Mereka menginginkan perumahan  yang dibangun sesuai kebutuhan masing-masing dengan tetangga-tetangga yang cocok.

Küppers bercerita, "Saya rencananya akan mendapat apartemen seluas 100 meter persegi di sebelah kanan lantai pertama. Sebentar lagi saya akan menginjak 70 tahun. Bagi saya penting untuk tidak harus banyak naik-turun tangga. Saya juga senang akan  bertetangga dengan orang-orang segala usia. Di tempat saya tinggal sekarang, semua berusia sama. Saya ingin tetap mengalami kehidupan."

Mit der Baugruppe zum Eigenheim

Utz Ingo Küppers

Rumah itu dibangun agar ramah lingkungan dengan biaya  yang terjangkau. Harga € 3000,- per meter persegi ruang di tengah kota Köln boleh dibilang murah. Biasanya untuk lokasi yang sama, para pengembang properti  meminta hampir dua kali lipatnya. Kini kelompok pembangunan seperti yang dibentuk Utz Ingo Küppers  menjamur di seluruh Jerman.

Suasana Desa di Kota Besar

Awal trend ini bermula di Freiburg dan Tübingen. Dalam sepuluh tahun terakhir di kedua kota itu meluas kawasan  yang seluruhnya dibangun seperti ini. Ide itupun kemudian menyebar ke seluruh Jerman. Di Berlin saja ada 130 proyek pembangunan bersama yang tercantum di situs internet "Wohnproyekte". Sistim ini sangat diminati oleh keluarga yang baik suami, maupun istrinya bekerja. 

Almut Skriver adalah arsitek yang mendirikan jaringan kelompok pembangunan di Köln. "Bila kedua orang tua bekerja, sulit untuk tinggal di perumahan mewah di tepi kota. Banyak hal yang bisa terbengkalai, padahal keluarga-keluarga muda masih ingin menikmati tawaran-tawaran kebudayaan dan tidak terkucil di pinggir kota."

BdT Solarsiedlung in Freiburg

Menurut Skriver, banyak kelompok pembangunan yang ingin mendapatkan atmposfir desa di kota besar. Orang akan lebih siap untuk bergotong royong, bila saling mengenal. Tapi selain itu, peluang berhemat juga memainkan peranan penting. Secara keseluruhan biaya bagi masing-masing anggota kelompok lebih rendah 20% daripada umumnya, kalau menggunakan jasa pengembang properti.

Bukan Pasar Anonim

Bagi arsitek Thomas Luczak, proyek semacam ini memenuhi kebutuhan banyak orang yang tidak tertarik menyewa rumah atau apartemen di tengah kota.  Ia pernah merancang bangunan untuk sebuah kelompok 17 orang, dengan keinginan yang berbeda-beda. Dalam desain itu terdapat apartemen berukuran 65 meter persegi dan apartemen bertingkat tiga, seluas 130 meter persegi.

Diceritakannya, "Kami tidak bekerja untuk sebuah pasar anonim, yang menggunakan ukuran rata-rata untuk apartemen tiga kamar. Bekerja dengan sebuah kelompok pembangunan sama sekali beda. Kami menyediakan 17 solusi khusus untuk ke-17 anggotanya, sesuai permintaan masing-masing pihak.“

Kelompok pembangunan itu bertemu beberapa kali sebulan dengan arsitek pilihan mereka untuk membicarakan materi yang digunakan dan kontrak kerjanya. Pertemuannya tak selalu berjalan lancar karena setiap orang memiliki keinginan dan cara berpikir yang berbeda-beda.

Namun menurut Utz Ingo Küppers yang telah tiga tahun berkutat dengan pembangunan rumah barunya, model kelompok pembangunan ini merupakan cara yang baik untuk tetap tinggal di kota tanpa harus membayar biaya tinggi perusahaan pengembang properti.


Sabine Oelze/Edith Koesoemawiria
Editor: Hendra Pasuhuk