1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Kembali Berjalan dengan Kaki-Kaki Robot

Sebuah perusahaan kerjasama Jerman-Jepang siap meluncurkan sistem robotik yang dikendalikan saraf ke pasaran. Kaki-kaki robot ini memberi harapan baru bagi mereka yang lumpuh di bagian bawah tubuh.

Dalam sebuah masyarakat yang menua, teknologi medis menjadi industri yang terus tumbuh. Omset tahunan industri tersebut di Jerman mencapai 21 miliar Euro. Riset terus berusaha mencari produk yang dapat memperbaiki kehidupan pasien.

Sebuah tim yang terdiri dari dokter, ahli terapi dan teknisi bekerja untuk sebuah perusahaan gabungan Jerman-Jepang 'Cyberdyne Care Robotics GmbH' di Bochum. Usai periode ujicoba di Klinik Universitas Bergmannsheil, perusahaan itu siap merilis ke pasar Eropa kaki-kaki robot yang dapat membantu pasien cacat kaki untuk berjalan.

Untuk menyebarluaskan terapi robot di Eropa, NEDA, sebuah organisasi di bawah Kementerian Ekonomi Jepang memberi sokongan berupa 24 kaki-kaki robot bernilai 2,3 juta Euro. Alat bantu bergerak yang diberi nama 'Hybrid Assistive Limb' (HAL) itu dikembangkan oleh peneliti Jepang, Yoshiyuki Sankai.

Di negeri sakura, kaki-kaki robot semacam ini sudah tersedia di 160 klinik, pusat rehabilitasi dan panti jompo. Bagi para pasien di Eropa, desain ini masih harus disesuaikan. Sekelompok pakar yang dipimpin oleh Thomas Schildhauer sepakat menggelar uji coba selama beberapa bulan untuk menyelaraskan produk teknologi tinggi ini dengan ukuran badan orang Eropa.

Philipp von Glyczinski mencoba kaki-kaki robot

Philipp von Glyczinski mencoba kaki-kaki robot

Sensor mendeteksi sinyal saraf

Philipp von Glyczinski menjadi salah satu pasien pertama yang mencoba kaki-kaki robot. Akibat kecelakaan, lelaki berusia 35 tahun itu lumpuh di bagian bawah tubuh dan harus menggunakan kursi roda. Kini sang arsitek sudah bisa berjalan lagi berkat bantuan teknologi medis modern.

Selubung yang stabil pada paha dan kaki memberi topangan yang diperlukan pasien dalam berlatih berjalan. Di dalam kaki-kaki robot, terdapat sejumlah sensor yang mendeteksi sinyal yang dikirimkan sistem saraf ke kulit. Robot kemudian menggunakan sinyal layaknya mesin-mesin kecil untuk menciptakan gerakan. "Otak mengirim sinyal yang umumnya diterima oleh otot melalui saraf," tutur Thomas Schildhauer. "Bagi pasien yang tidak lumpuh total, otot masih dapat menerima sinyal-sinyal kecil. Dan ini dapat diukur dan direkam melalui kulit. Sinyal yang terekam kemudian diperkuat oleh robot, sehingga mampu menggerakkan bagian bawah tubuh."

Kaki-kaki robot tidak hanya berguna bagi penderita cacat kaki, namun juga pasien yang menderita kelainan otot seperti Parkinson's atau stroke. Perintah yang dikirimkan oleh otak yang selama ini tidak dapat dieksekusi oleh otot kini bisa diambil alih oleh kaki-kaki robot. Berlatih menggunakan robot juga menunjukkan dampak baik lainnya, ungkap Schildhauer, "Fungsi otot kembali dan terus tumbuh. Begitu juga dengan bagian otak yang selama ini tidak berfungsi. Pola gerakan juga ikut terlatih. Pasien umumnya kembali ke pola gerakan lama dan kembali berjalan."

Model penyewaan bagi klinik

Para dokter mencatat kemajuan yang luar biasa. Sejumlah pasien yang sebelumnya terjebak dalam kursi roda, hanya dalam waktu 5 bulan sudah bisa berjalan menggunakan kaki-kaki robot. Ini tentu menjadi target besar Philipp von Glyczinski.

Dalam memasarkan produk teknologi tinggi ini, perusahaan Jerman-Jepang memilih model penyewaan bagi klinik dan fasilitas rehabilitasi. Namun teknologi medis paling modern pasti hadir dengan harga tinggi. Di Jerman, sesi pelatihan selama 2 jam bersama kaki-kaki robot menelan biaya 500 Euro.

Laporan Pilihan