1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

"Kemanusian dan Kasih Tak Hanya Nilai-Nilai Kristen"

Lamya Kaddor adalah salah satu pengamat Islam yang terkenal di Jerman. Dia turut mendirikan Aliansi Islam Liberal di Jerman.

DW: Organisasi Anda bermaksud mengumpulkan warga muslim yang ingin menjalankan agamanya dengan pendekatan modern. Apa artinya Islam liberal dibandingkan dengan Islam konservatif?

Lamya Kaddor: Jika Anda membaca kitab suci dan ingin memahaminya, Anda tentu bisa mencoba memahaminya kata per kata dan menginterpretasikan persis seperti yang tertulis. Kalau Anda melakukan itu, Anda adalah seorang fundamentalis.

Tapi Anda juga bisa mencoba, membaca apa yang tertulis dengan pandangan orang yang hidup pada masa kini - ini dilakukan terutama dengan menggunakan akal sehat: Apa maknanya, apa yang logis, apa yang tidak berlaku lagi hari ini? Kalau Anda memikirkan itu, Anda berpandangan lebih liberal.

Atau Anda mungkin mengatakan: Saya ingin membawa tradisi masa lalu ke masa kini, beberapa nilai-nilai masa lalu tetap penting bagi saya. Walaupun beberapa hal tetap harus saya pikirkan dan kembangkan lagi, saya tetap taat pada tradisi itu. Kalau Anda berpikir begitu, Anda seroang tradisionalis. Artinya, Anda konservatif.

Islamkunde an NRW-Schulen (picture-alliance/ dpa)

Lamya Kadoor mengajar tentang agama Islam di sekolah Jerman

Bagaimana sambutan terhadap wacana Islam modern, Islam pembaruan yang dicanangkan oleh Aliansi Islam Liberal?

Sambutannya positif. Namun tentu saja masih perlu kerja keras. Kebanyakan warga muslim di Jerman belum kenal kami. Memang banyak warga muslim yang segan berorganisasi. Karena mereka berpikir, yang penting adalah hubungan saya dengan Tuhan, jadi tidak perlu organisasi.
Tapi banyak dari kalangan konservatif yang salah mengerti. Kami tidak hanya menuntut hal-hal demi keuntungan kami sendiri. Ini ingin saya tegaskan. Misalnya kami beranggapan bahwa guru perempuan harus dibolehkan mengenakan jilbab ketika mengajar dalam kelas. Tapi itu bukan tuntutan untuk keperluan saya. Saya tidak pakai jilbab.


Kami juga menuntut agar pelajaran agama Islam masuk dalam kurikulum sekolah, ini bukan hanya untuk kami kaum liberal saja. Bahkan banyak hal yang kami bela sebenarnya bukan perspektif liberal Islam, melainkan posisi kaum konservatif.
Jadi tidak benar kalau ada tuduhan, yang sering dilontarkan kaum konservatif, bahwa kami menyebarkan paham Islam yang lain sendiri. Bahkan saya sampai menerima ancaman pembunuhan lewat telepon.
Warga muslim di sini juga warga Jerman. Jadi mereka harus tunduk pada konstitusi Jerman. Tapi mereka juga punya hak-hak. Jadi menurut saya, setelah pengalaman 14 tahun mengajar, salah kalau kita mau melarang seorang guru perempuan memakai jilbab ketika mengajar. Kalau kita mulai dengan pelarangan, pertanyaannya adalah, bagaimana selanjutnya? Berapa banyak larangan lain yang akan diberlakukan? Sampai di mana selesainya?

Zum Töten bereit (Buchcover)

Bulu Lamya Kaddor: "Siap Membunuh. Mengapa remaja Jerman pergi berjihad?"

Membicarakan tentang Islam dalam suatu acara di Jerman biasanya cenderung memancing debat panas. bagaimana Anda memandang kritik maupun debat-debat ini?

Kita tidak bisa melakukan kritik secara pukul rata tentang Islam dalam konteks bagaimana Islam dipraktekkan di Jerman. Yang melakukan itu, tidak tahu tentang ragam dan berbagai aliran dalam Islam. Pendekatan seseorang kepada agamanya juga berbeda-beda, tergantung pengalaman pribadi dan sejarahnya. Jadi saya tidak bisa mengatakan, semua orang Islam begini atau begitu. Pernyataan seperti itu absurd.

Tapi masalah besar yang dihadapi umat Islam sebenarnya adalah penyamarataan antara Islam dan Islamisme. Hal ini disatu pihak dilakukan oleh para Islamis, yang tentu saja ingin agar pandangan dan posisi mereka dianggap sebagai pandangan dan posisi Islam. Di pihak lain ini juga dilakukan oleh non-Islam, mungkin juga kelompok yang memang memusuhi Islam. Mereka dengan senang hati mengambil posisi pada Islamis, justru karena ingin agar semua orang membenci dan menolak Islam.

Jadi pada masa-masa begini, memang sulit menghadapi kelompok ekstrim Islam sekaligus kelompok ekstrim pembenci Islam.

Gambaran dan citra Islam di Jerman saat ini memang lebih dipengaruhi oleh kelompok-kelompok Islam radikal. Mengapa banyak juga orang-orang muda yang tertarik pada Islam radikal?

Ketertarikan untuk menjadi radikal tidak dimulai dari agama. Biasanya, awalnya adalah kebutuhan sosial biasa saja: berkumpul bersama-sama, melakukan kegiatan, ngobrol. Jadi mencari satu kelompok yang punya tata nilai kurang lebih sama, berorientasi, solidaritas. Banyak remaja yang senang karena akhirnya merasa diterima dengan hangat dalam satu kelompok. Dia merasa dianggap, padahal mungkin di rumah dia tidak ter

lalu diperhatikan atau dianggap hebat. Banyak anak muda mencari kelompok erat, apalagi dunia dan kehidupan makin rumit.
Dengan proses globalisasi yang begitu cepat, didukung kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, banyak remaja memasuki masa pubertas dengan rasa bingung, tanpa orientasi. Mereka ingin punya identitas dan hal itu bisa didapatkan dari suatu kelompok.

Jadi, apa yang bisa dilakukan untuk mencegah radikalisasi?

Salah, jika mesjid-mesjid misalnya menutup pintu bagi remaja yang mulai mengalami radikalisasi. Karena dengan itu, kita tidak menyelesaikan masalahnya, melainkan hanya mengalihkannya ke tempat lain. Yang perlu lebih banyak dilakukan oleh komunitas Islam adalah mengecam pelaku kekerasan, mengecam para teroris, dengan sangat tegas. Kita harus dengan gamblang menerangkan: Siapa yang membunuh orang yang tidak bersalah, mereka bukanlah seorang muslim. Mereka bisa saja mengaku orang Islam, atau tercatat sebagai orang Isllam, tapi jelas-jelas dia tidak islami.
Jadi, dalam komunitas Islam, pada setiap komunitas kita, kita harus mengambil posisi jelas dan tegas: Jika seroang muda ingin coba-coba menjadi radikal, atau mengambil posisi radikal, dia bukan lagi bagian dari Ummah. Dia tidak islami. Hal inilah yang sampai sekarang belum dilaksanakan komunitas Islam secara konsekuen.

Bagaimana Islam bisa memberi kontribusi pada kehidupan di Jerman?

Dengan Islam, Jerman akan makin berwarna. Dan saya yakin, nilai-nilai Islam bisa membuat masyarakat Jerman menjadi makin kaya. Karena Islam yang sebenarnya itu baik bagi masyarakatnya. Kemanusiaan dan mengasihi sesama manusia, itu bukan nilai-nilai Kristen saja. Itu juga adalah nilai-nilai Islami. Menghormati ciptaan Tuhan, itu harus menjadi soal serius bagi umat Islam.

Jadi, umat Islam di Jerman, dan umat dari agama-agama lain, bisa memberi kontribusi untuk kehidupan yang lebih baik. Konstitusi Jerman juga menegaskan perlindungan kepada setiap warga dan menjamin warganya memiliki hak-hak dasar. Islam dan konstitusi Jerman saling mengisi dan mendukung warganya mencapai kehidupan yang lebih baik.

Lamya Kaddor adalah intelektual Islam di Jerman yang dikenal luas. Dia sudah menerbitkan beberapa buku tentang Islam dan tahun 2010 turut mendirikan Aliansi Islam Liberal Jerman. Dia juga merupakan salah satu motor dalam penerapan mata pelajaran agama Islam di negara bagian Jerman, Nordrhein-Westfalen (NRW). Wawancara untuk DW dilakukan oleh Nina Haase dan Sumi Somaskanda di Köln.

Laporan Pilihan