1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Kelas "Integratif" Bantu Siswa Migran

Anak-anak berlatar belakang migran yang kurang menguasai bahasa Jerman, sering bermasalah di sekolah. Sebuah konsep khusus dikembangkan untuk membantu mereka.

Sekolah menengah Bertolt-Brecht di Bonn punya ruangan kelas khusus yang mereka beri nama "i-Klasse" atau "kelas i". "I" adalah kependekan dari integratif. Di kelas ini, pelajar yang membutuhkan bantuan khusus digabungkan sekelas dengan pelajar "biasa". Ada sebuah rak tempat menyimpan kotak-kotak berwarna merah. Pada kota tersebut tertera nama-nama seperti: Ömer, Philipp, Jasmin, Haszan, Lukas dan Ahmed.

Proses belajar-mengajar di kelas ini tidak berjalan seperti pada kelas biasa. Peraturan lain berlaku disini. Seperti misalnya, tidak ada bunyi bel sekolah yang terdengar. Bel yang menandakan dimulai dan diakhirinya jam pelajaran. Di "kelas i", semuanya berbeda.

Bertolt-Brecht-Gesamtschule

Salah satu "kelas i"

Masalah bahasa tidak berarti murid bermasalah

Konsep pendidikan sekolah menengah Bertolt-Brecht memang tidak lazim. Setiap tahunnya, sekitar 170 siswa diterima. 25 hingga 30 persen diantara mereka memiliki latar belakang migran. Margarete Ruhnke, wakil kepala sekolah, kesal dengan anggapan, bahwa anak-anak berlatar belakang migran selalu bermasalah di sekolah. Juga tidak benar, bahwa anak-anak tersebut tidak bisa berbahasa Jerman.

Namun, bagi mereka yang kesulitan dengan bahasa Jerman, ada kelas "internasional". Disana pelajaran bahasa Jerman mendominasi jadwal pelajaran mingguan para murid yang berusia antara 11 hingga 16 tahun. Setelah 1,5 tahun mengikuti kelas "internasional", mereka biasanya sudah bisa pindah ke kelas biasa.

Tempo belajar ditentukan para murid

Bertolt-Brecht-Gesamtschule

Sekolah Bertolt-Brecht

Guru Carsten Kroppach memastikan tidak semua murid harus memiliki kemampuan dan prestasi yang sama di waktu yang sama. Para guru di sekolah menengah Bertolt-Brecht berusaha memantau perkembangan para murid secara individu. Sasaran sekolah ini adalah "memperkuat murid melalui belajar secara sosial bagi keseharian dan masa depan".

Ada mata pelajaran khusus yang berfokus pada belajar secara sosial. "Kelas integratif" mendapat dukungan tambahan dari pakar pendidikan sosial. Lagipula, urusan sekolah diatur oleh tata tertib yang disusun bersama oleh para murid, guru dan orang tua. Tidak ada murid yang tidak naik kelas. Jika ada murid yang memiliki nilai jelek, maka guru, orang tua dan anak yang bersangkutan mencari jalan keluar secara bersama. Demikian penjelasan wakil kepala sekolah Ruhnke.

Keberhasilan konsep belajar secara bersama di sekolah tersebut telah diketahui banyak pihak. Setiap tahunnya, jumlah anak yang mendaftar dua kali lebih banyak dari kapasitas sekolah tersebut. Lagipula, setiap minggu ada murid dari sekolah lain yang "dikirimkan" ke mereka. Margarete Ruhnke mengatakan, mereka seperti sekolah reparasi. Sayang, kapasitasnya terbatas. Sekolah semacam itu seharusnya bisa lebih sering ditemukan di Jerman.

Lotta Löffler / Vidi Legowo-Zipperer

Laporan Pilihan