1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sosial

Kelangkaan Air Bersih Ancam Jutaan Penduduk

1 September 2017

Musim kemarau berkepanjangan mulai menyebabkan kelangkaan air bersih di sejumlah daerah. Akibatnya pasokan air untuk pertanian dan penduduk tersendat. Namun pemerintah optimis, volume air yang ada mencukupi.

https://p.dw.com/p/2jCzZ
Sudan Dürre bei El-Fasher
Foto: Getty Images/AFP/A. Shazly

Kemarau panjang di Indonesia diyakini bakal menghasilkan kelangkaan air bersih dan gagal panen. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau akan berlangsung hingga September.

Di Jawa Tengah saja sekitar 1.235 desa sudah mengalami kelangkaan air. Debit air di setidaknya tiga waduk di provinsi tersebut saat ini sudah berada di level paling rendah. Akibatnya pasokan air untuk sistem irigasi dan kebutuhan warga ikut tersendat.

"Debit air menyusut drastis di enam waduk di Kembangan dan Brambang di Sragen, Krisak di Wonogiri, Cacaban di Tegal, Gunungrowo di Pati dan Lodan di Rembang," kata Prasetyo Budhie Yuwono, Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jawa Tengah kepada Jakarta Post.

Namun demikian Kementerian Pertanian membantah isu musim kemarau melumpuhkan sektor pertanian. Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Yanuardi, mengklaim lahan pertanian yang mengalami kekeringan hanya seluas 5.379 ha. "Jumlah ini hanya 0,11% dari total keseluruhan areal tanam pada periode yang sama 4.869.051 ha," katanya seperti dilaporkan Warta Kota.

Hal serupa diungkapkan pemerintah provinsi Jawa Tengah. Menurut Kepala Bidang Budidaya Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Jawa Tengah, Nuswantoro SP, kondisi volume air saat ini masih lebih tinggi ketimbang yang diperkirakan pemerintah. Pemprov Jateng awalnya meramalkan volume air di 41 waduk akan berada di kisaran 1 milyar kubik meter. Namun saat ini volume air masih sebesar 1,2 milyar kubik meter.

Meski demikian kelangkaan air bersih dilaporkan bukan cuma dari Jawa Tengah, tetapi juga Karawang, Cianjur, Sukabumi, Bantul dan Bima di Nusa Tenggara Barat.

Musim kemarau juga ditengarai berdampak buruk pada budidaya ikan tawar. Di Cililin, Bandung, saja peternak melaporkan sebanyak 30 ton ikan tawar mati lantaran pasokan air yang tidak maksimal.

rzn/yf (antara, wartakota, kompas, merdeka)