1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Indonesia

Kekerasan di Papua Bisa Meningkat

Komnas HAM kuatir meningkatnya kekerasan di Papua setelah pembubaran paksa Kongres rakyat Papua ke III. Semua pihak diminta menahan diri dan menempuh langkah dialog.

default

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) akan menurunkan tim investigasi untuk menyelidiki kekerasan di seputar pelaksanan Kongres Papua III di Abepura, Jayapura. Laporan yang diterima Komnas HAM sejauh ini menyebutkan 6 orang yang diduga peserta Kongres tewas dengan luka tikaman setelah pembubaran acara 19 Oktober itu. Ketua Komnas HAM, Ifdhal Kasim menerangkan, untuk memastikan kematian-kematian yang terjadi secara misterius di tanah Papua itu, dan seperti apa kejadiannya, Komnas HAM akan membentuk tim investigasi. "Minggu depan tim nya sudah kesana karena kita juga punya kantor perwakilan disana dan mendayagunakan staf disana untuk memulai investigasi," kata Ifdhal.

Keterangan resmi polisi sebelumnya sempat menyebutkan, tidak ada korban tewas dalam pembubaran acara itu. Ketua Umum Persekutuan Gereja Baptis Papua, Socratez Sofyan Yoman menuding aparat keamanan berada dibalik kekerasan yang menewaskan enam warga Papua itu: "Itu tentu saja aparat keamanan. Jadi dia tidak bisa menghindar. Yang membunuh, mengejar, menculik orang Papua itu aparat keamanan, entah itu TNI atau Polri. Jadi dia tidak boleh menipu. Sekarang dunia internasional sudah melihat, pemerintah sudah bicara.Jadi jangan menipu di Republik ini kalau NKRI mau selamat."

Aparat keamanan membubarkan kongres Rakyat Papua dan menangkap ratusan peserta yang dianggap melakukan makar karena mendeklarasikan pembentukan Negara Federasi Papua Barat. Laporan Komnas HAM menyebutkan, dari 300 orang yang ditangkap, kini tinggal 15 orang yang tengah diperiksa Polda Papua. Termasuk Ketua Dewan Adat Papua yang terpilih sebagai Presiden Negara Papua Barat dalam kongres itu.

Komnas HAM kuatir aksi penyisiran yang masih dilakukan aparat keamanan untuk memburu peserta Kongres dan para aktifis Organisasi Papua Merdeka akan menimbulkan lebih banyak korban. Kekhawatiran akan terjadinya kekerasan pasca Kongres Rakyat Papua juga diungkap Wakil Ketua Komnas HAM perwakilan Papua, Matius Murib, terlebih setelah sejumlah laporan aksi provokatif yang dilakukan aparat di sejumlah wilayah di Papua. "Kami menerima pengaduan dari daerah di luar Jayapura seperti di Manokwari di Paniai daerah pegunungan dan pesisir. Mereka katakan, daerah mereka yang tidak ada pelaksanaan Kongres tapi ada soft war, ada unjuk kekuatan oleh aparat dengan senjata dan mobil lalu lalang di jalan umum." Ini membuat warga jadi ketakutan. Padahal warga Papua sudah mengalami trauma.

Para pejabat keamanan dan sejumlah politisi mendukung langkah represif aparat saat membubarkan Kongres. Namun sejumlah lembaga HAM dunia seperti Amnesty Internasional dan Human Rights Watch mendesak penyelidikan atas dugaan kekerasan aparat dalam peristiwa itu.

Sementara itu, pada perkembangan lain, tiga orang tewas ditembak di sekitar tambang PT Freeport. Belum diketahui motif penembakan itu, namun kekerasan ini terjadi di tengah pergolakan karyawan PT Freeport untuk menuntut kesejahteraan.

Zaki Amrullah
Editor: Hendra Pasuhuk