Kecaman Internasional terhadap Israel atas Kekerasan di Gaza | dunia | DW | 15.05.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Konflik Timur Tengah

Kecaman Internasional terhadap Israel atas Kekerasan di Gaza

Gerakan protes warga Palestina di Gaza terkait pemindahan kedutaan AS ke Yerusalem mengalami puncaknya. Korban jiwa berjatuhan. Israel dikecam dunia internasional, termasuk Indonesia, atas tindakannya itu.

Israel menghadapi kecaman luas terkait insiden yang terjadi pada protes di Gaza. Sampai berita ini diturunkan, setidaknya 59 warga Gaza telah tewas dan 1200 lainnya luka-luka selama protes pemindahan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem, kota yang dipersengketakan antara Palestina dan Israel. Orang-orang Palestina mengklaim bahwa Yerusalem Timur akan menjadi ibukota Palestina di masa depan.

Banyak negara termasuk Inggris, Perancis, dan Rusia telah mengecam keputusan AS untuk memindahkan kedutaan, sementara 128 negara mendukung resolusi PBB yang mengutuk pengakuan Washington atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Inilah beberapa reaksi dari seluruh dunia setelah kekerasan di jalur Gaza hari Senin (15/05)

Indonesia

Melalui akun Twitternya, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menyampaikan dukungan pemerintah dan rakyat Indonesia untuk Palestina. Ia juga menyatakan "Indonesia mengecam keras kebijakan Amerika Serikat yang membuka kedubesnya di Yerusalem (14/5)" karena langkah ini melanggar berbagai resolusi PBB dan mengancam proses perdamaian. Indonesia juga mendesak PBB untuk segera bersidang.

Pihak yang bersengketa

Amerika Serikat menyalahkan Hamas atas kekerasan itu. "Tanggung jawab atas kematian tragis ini berada di tangan Hamas," kata juru bicara Gedung Putih, Raj Shah.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyalahkan Hamas. Ia membela penggunaan kekuatan negaranya dan mengatakan "setiap negara memiliki kewajiban untuk mempertahankan perbatasannya".

Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan Israel melakukan "pembantaian" dan "AS tidak lagi menjadi mediator di Timur Tengah."

Bersumpah untuk melanjutkan protes, pejabat senior Hamas Khalil al-Hayya mengatakan, "kami mengatakan dengan jelas hari ini kepada seluruh dunia bahwa protes damai orang-orang kami memancing musuh untuk menumpahkan lebih banyak darah."

Eropa dan Organisasi Internasional

Kementerian Luar Negeri Jerman mengimbau dalam sebuah pernyataan: "Setiap orang harus berusaha menjamin situasi tidak berkembang menjadi lebih buruk."

Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan kembali keprihatinan Jerman atas "situasi kemanusiaan yang menindas" di Gaza, menambahkan bahwa ia telah "memperingatkan berulang kali akibat" pindahnya kedutaan kepada Trump, dan mengutuk kekerasan di Gaza.

Beberapa kata terkuat datang dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang menuduh Israel melakukan "genosida" dan "teror." Selain itu, Turki menarik duta besarnya dari Washington dan Israel.

Perdana Menteri Inggris Theresa May mendesak agar "tenang dan menahan diri untuk menghindari tindakan yang merusak upaya perdamaian."

Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov mengatakan Rusia telah secara terbuka menyatakan penentangannya untuk memindahkan kedutaan "beberapa kali". "Penentuan status Yerusalem... harus diputuskan melalui dialog langsung dengan Palestina," katanya.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini mengatakan: "Puluhan warga Palestina, termasuk anak-anak, telah tewas dan ratusan terluka dari tembakan Israel hari ini, selama protes massa yang berlangsung di dekat pagar perbatasan Gaza. Kami berharap semua pihak dapat menahan diri untuk menghindari korban jiwa lebih lanjut."

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Zeid Ra'ad Al Hussein, mengatakan "mereka yang bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia yang keterlaluan harus dimintai pertanggungjawaban."

Amnesty International mengatakan pertumpahan darah ini adalah "pelanggaran yang menjijikkan" terhadap hak asasi manusia, dan "tampaknya merupakan pembunuhan yang disengaja dan merupakan kejahatan perang". Human Rights Watch juga mengecam "pertumpahan darah" itu.

Timur Tengah

Negara-negara Muslim dan Arab mengutuk kekerasan Israel dan mengkritik AS karena memindahkan kedutaannya ke Yerusalem.

Kuwait meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, yang kemudian diblokir oleh AS menurut para diplomat. "Kami mengutuk apa yang telah terjadi," kata duta besar Kuwait untuk PBB, Mansour al-Otaibi.

Kementerian luar negeri Mesir menyebut mereka yang tewas sebagai "martir". Ahmed al-Tayeb, Imam Besar Al-Azhar, institusi tertinggi Islam Sunni di Mesir, menyerukan "Arab dan Muslim dan semua orang di dunia yang adil dan waras untuk berdiri di samping rakyat Palestina yang tak berdaya".

"Arab Saudi mengecam keras tembakan pasukan pendudukan Israel terhadap warga sipil Palestina yang tidak bersenjata yang telah menyebabkan puluhan orang tewas dan terluka," kata seorang juru bicara kementerian luar negeri Arab Saudi.

Iran mengecam "hari yang sangat memalukan" atas jatuhnya korban jiwa. "Rezim Israel membantai banyak warga Palestina saat mereka melakukan protes di penjara udara terbuka terbesar di dunia," kata Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif di Twitter.

na/vlz (ap, afp)

Laporan Pilihan