1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Keberagaman di Ruang Kelas

Di Jerman kebutuhan akan guru dengan latar belakang imigran sangat tinggi. Hal ini juga didukung oleh pendidikan di perguruan tinggi.

Kunci pemahaman budaya asing di dalam kelas-kelas di Jerman di antaranya adalah lewat keberadaan guru-guru berlatar belakang imigran. Salah satu calonnya adalah Bilge Mermertas. Gadis berusia 19 tahun itu adalah salah satu perempuan berlatar belakang migran yang ingin menjadi guru.

Lehramtsstudentinnen mit Migrationshintergrund Bilge Mermertas und Arta Kolgeci

Bilge Mermertas koleganya Arta Kolgeci

"Kedengarannya memang agak klise," perempuan muda yang lahir di Jerman itu menceritakan kisah di balik cita-citanya menjadi guru. Orang tuanya sudah lebih dari 40 tahun lalu datang ke Hannover." Tapi, seperti keluarga Turki pada umumnya, saya punya banyak sepupu, dan saya selalu bergaul dengan mereka. Saya dengan cepat menyadari bahwa saya memiliki hubungan yang baik dengan anak-anak," kata Mermertas. Setelah magang dan ikut bagian dalam pendidikan di Kampus Sekolah Hildesheim Schüler, ia membulatkan tekad menjadi guru.

"Bisakah Anda Bahasa Turki?"

Bilge kini mengecap semester ke dua di Universitas Hildesheim - jurusan bahasa Jerman, ekonomi dan ilmu sosial. Tidak seperti di banyak universitas di Jerman, universitas ini cukup dini dalam memberikan pengalaman praktik kerja bagi para siswa.

Lehramtsstudentinnen mit Migrationshintergrund Yvonne Rechter

Yvonne Rechter

Pada semester pertama, para siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka diikutsertakan dalam praktik kerja atau magang di sekolah-sekolah. "Saat itu untuk pertama kalinya saya ditanya oleh siswa, apakah bisa berbicara bahasa Turki," papar Bilge, "Si murid benar-benar gembira saat saya jawab ‘ya‘!"

Kemampuan berbahasa, pengetahuan tentang gambaran dari budaya lain dapat memperkaya proses pengajaran. "Ketika Anda tumbuh dengan multibahasa dan pernah merasakan hambatan tertentu dalam sistem pendidikan, maka Anda mungkin lebih dapat membantu siswa dengan masalah yang sama," rangkum pakar pendidikan Hildesheim, Yvonne Rechter.

Keragaman di Kelas

Namun, Rechter berpendapat, keterampilan ini dapat membantu banyak siswa dengan latar belakang imigran, tapi tidak perlu diaplikasikan untuk keseluruhan murid. Mahasiswa dipersiapkan untuk beradaptasi dengan keragaman budaya di kelas. Di antaranya lewat Proyek "Lernku (h) lt" yang diprakarsai Yvonne Rechter. Dalam proyek ini para mahasiswa dua kali seminggu mengajari anak-anak yang berbeda-beda bahasa ibunya, dalam bahasa Jerman. Mereka juga diajari bagaimana menghadapi perbedaan budaya dari negara asal anak-anak.

Lehramtsstudentin Arta Kolgeci erklärt Schüler Orcun bei ihrer ersten Unterrichtsstunde an der Oskar-Schindler-Gesamtschule Hildesheim seine Aufgabe. Copyright: Isa Lange/Uni Hildesheim DW/Claudia Unseld: Einverständniserklärung der Eltern für Bild 3 liegt vor!

Suasana di kelas

Selain proyek-proyek dan program yang berhubungan dengan "keragaman pendidikan" dan pendidikan antar budaya, sejak dini siswa di kampus ini juga mendalami peran nyata sebagai guru. Pada semester kedua, mahasiswa harus mengajar di kelas-kelas. Sejak dini mahasiswa belajar menjadi guru di kelas. Pada semester kedua, para mahasiswa untuk pertama kalinya harus mengajar di kelas sendirian. "Berdiri di depan kelas, menjadi pengalaman berkesan," kata Bilge Mermertas.

Dalam memasuki dunia kerja nanti, Bilge Mermertas ingin memunuhi harapan pendidik Yvonne Rechter yakni: anak-anak berlatar belakang migran juga dapat sukses di Jerman, tanpa harus menjadi orang Jerman. “Mempersiapkan anak-anak untuk hidup mereka, memberikan makna dalam hidup mereka, membantu orang-orang , hal-hal tersebut membuat saya bahagia,“ pungkas Mermertas.