1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Kawasan Industri Ruhr Ibukota Budaya Eropa 2010

Ruhrgebiet atau kawasan industri Ruhr di Jerman, bersama Pecs di Hungaria dan Istanbul di Turki, akan menyandang gelar bergengsi Ibukota Kebudayaan Eropa 2010.

default

Menara Pemboran Kota Essen yang menjadi warisan budaya UNESCO

Daerah Ruhr yang terletak di negara bagian Jerman Nordrhein Westfalen merupakan salah satu kawasan industri besar di Eropa. Kawasan yang meliputi 53 kota itu berpenduduk sekitar lima juta orang, 630 ribu diantaranya warga asing. Disamping itu masih banyak penduduknya yang memiliki kewarganegaraan ganda. Meskipun Ruhrgebiet, kawasan yang membentang antara Duisburg dan Dortmund itu dikenal sebagai kawasan industri, tapi selain banyak ditemui jalur-jalur hijau, kawasan itu memiliki banyak hutan, danau serta tentu saja Sungai Ruhr.

Tahun 2010 Ruhrgebiet menyandang gelar sebagai ibukota budaya Eropa. Pemilihan ini dan juga presentasi kawasan industri sebagai daerah tujuan wisata mendokumentasikan perubahan besar pada struktur daerah itu. Kehidupan di Ruhrpott, yaitu sebutan lain dari Ruhrgebiet, kawasan industri Ruhr, tidak lagi hanya diwarnai oleh cerobong-cerobong asap industri, pertambangan batu bara dan industri baja. Namun kini dilengkapi fasilitas pendidikan yang lengkap. Selain enam universitas dan 9 perguruan tinggi, di kawasan itu terdapat banyak lembaga penelitian. Tiga bidang Institut Max Plack terdapat di kawasan Ruhr.

Tanki tempat penampungan gas dan menara-menara pemboran masih menjadi ciri khas kota-kota di kawasan industri Ruhr Jerman. Arsitektur dari masa industrialisasi itu merupakan lambang masa lalu. Namun sekaligus menunjukkan perubahan struktur di kawasan tersebut. Karena banyak bangunan-bangunan yang dulu merupakan pusat kegiatan industri, kini berubah menjadi pusat daya tarik wisatawan atau menjadi bangunan peringatan budaya. Menara pemboran batubara di Essen misalnya, pada tahun 2001 ditetapkan UNESCO sebagai bangunan warisan budaya.

Günther Birkenstock/Dyan Kostermans

Editor: Yuniman Farid