1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kawasan Ekonomi Istimewa Shenzhen - Masa Depan Cina?

Shenzhen yang berpenduduk 12 juta jiwa merupakan salah satu kawasan ekonomi utama Cina. Siapa sangka, 30 tahun lalu Shenzhen masih merupakan desa nelayan yang terbelakang.

default

Presiden Cina Hu Jintao menyampaikan kata sambutan di Shenzhen

Perayaan hari jadi kota Shenzen dilangsungkan dengan gaya tradisional komunis. Penonton yang duduk di tribun mengenakan pakaian seragam, sebagian merah, sebagian kuning. Sepertiganya adalah pekerja migran, sebagian lagi tentara berpakaian militer. Presiden Cina Hu Jintao:

"Pemerintah pusat mendukung inovasi kawasan ekonomi istimewa. Mereka harus menyesuaikan diri dengan situasi Cina dan dunia terus berubah. Sekaligus, mereka harus memperhatikan memenuhi harapan rakyat."

Shenzen mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 25 persen tiap tahunnya. Boom ekonomi ini bermula 30 tahun lalu, saat Shenzen yang ketika itu masih merupakan kampung nelayan dinyatakan sebagai salah satu kawasan fokus reformasi ekonomi Cina.

Ribuan petani pun merantau ke Shenzhen untuk mencari kerja di salah satu pabrik di kawasan ekonomi istimewa ini. Pegiat hak buruh Cina Liu Kaiming membandingkan upah buruh di Shenzhen dengan kawasan Cina lainnya. Menurutnya, gaji buruh di Shenzhen dan kawasan ekonomi di delta Sungai Yangzi mencapai 190 Euro atau sekitar dua juta Rupiah per bulan. Sementara di kawasan lainnya, penghasilan maksimal seorang pekerja hanya setengahnya atau sekitar satu juta Rupiah per bulan.

Liu Kaiming menambahkan, tak hanya kemakmuran para pekerja yang meningkat di Shenzhen. Etika kerja generasi baru pekerja di sini juga berbeda. Dulu, para buruh menderita kelaparan dan hidupnya sangat sengsara. Sebaliknya, generasi baru pekerja Shenzhen lebih percaya diri dan tidak bersedia menerima perlakuan semena-mena. Perusahaan barang elektronik Foxconn misalnya merasakan langsung imbasnya. Akibat skandal rentetan kasus bunuh diri pekerjanya, perusahaan Taiwan Foxconn dipaksa untuk menaikkan gaji buruh menjadi dua kali lipat. Tapi, inipun tak cukup untuk memuaskan para pekerja muda.

"Saya berhenti kerja beberapa minggu lalu. Kerjanya terlalu berat, sepuluh, sebelas jam tiap hari. Pabrik lain sama saja, Foxconn masih termasuk pemberi kerja yang bagus. Tapi saya tetap berencana pulang kampung. Gaji saya terlalu rendah di sini. Kami masih muda, kami juga ingin menikmati hidup", demikian seorang pekerja.

Shenzhen memainkan peranan penting untuk sektor ekspor impor internasional. Di beberapa cabang, misalnya industri jam, perusahaan pemasok dari Shenzhen lah yang menyediakan 90 persen bahan mentah untuk produksi. Kamar Dagang Jerman mengantisipasi hal ini dengan membuka kantor cabang di Shenzhen. Kepala Kadin Jerman Alexandra Voss.

"Lokasi produksi di Shenzhen terutama didominasi sektor teknologi informasi dan komunikasi. Selain itu, seluruh kawasan di sekitar pelabuhan, itu merupakan salah satu lokasi terpenting untuk masa depan Cina."

Media barat melaporkan, saat berpidato di Shenzhen, presiden Cina Hu Jintao mendesak dilakukannya reformasi politik yang berani. Tapi, banyak pakar beranggapan, yang ia maksudkan adalah reformasi yang selaras dan sejalan dengan ideologi Partai Komunis:

"Di masa depan, kita perlu tetap berpikir bebas. Kita harus berpegang pada reformasi ekonomi dan mengusung harmoni. Modernisasi berhaluan sosialis akan mengangkat kita ke tingkatan yang baru."

Astrid Freyeisen/Ziphora Robina
Editor: Hendra Pasuhuk