1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kanselir Merkel Tunjukkan Toleransi Beragama

Mesjid Istiqlal dan Gereja Imanuel. Kanselir Jerman Angela Merkel mengunjungi kedua tempat ibadah sebagai bukti toleransi. Tapi bagaimana toleransi di Indonesia sebenarnya?

Titel: Merkel in Indonesien / Religion Schlagworte: Merkel, Indonesien, Religion, Jakarta Wer hat das Bild gemacht/Fotograf?: Monika Griebeler Wann wurde das Bild gemacht?: 10.07.2012 Wo wurde das Bild aufgenommen?: Jakarta Bildbeschreibung: Bundeskanzlerin Merkel beim Besuch in der Istiqlal-Moschee in Jakarta, der Moschee-Vorsteher erklärt ihr die religiösen Riten Rechteeinräumung: Hiermit räume ich der Deutschen Welle das Recht ein, die von mir bereitgestellten Bilder im Zusammenhang mit der Berichterstattung über die Reise von Bundeskanzlerin Merkel nach Indonesien zu nutzen. Ich versichere, dass ich die Bilder selbst gemacht habe und dass ich die hier übertragenen Rechte nicht bereits einem Dritten zur exklusiven Nutzung eingeräumt habe. Monika Griebeler

Kanselir Angela Merkel di Indonesia

Semua ingin berjabat tangan dengannya. Para perempuan di Mesjid Istiqlal tampak berdesakan di dekat Kanselir Jerman. Angela Merkel mengunjungi Indonesia untuk pertama kalinya sebagai kepala pemerintahan.

Bundeskanzlerin Angela Merkel (CDU) besichtigt am Dienstag (10.07.2012) in Jakarta (Indonesien) die Istiqlal-Moschee und trifft eine Gruppe singender Frauen. Die Unabhängigkeitsmoschee wurde 1978 eingeweiht und gilt als eines der Wahrzeichen der Stadt. Die Reise der deutschen Politikerin ist der erste Besuch in ihrer Funktion als Bundeskanzlerin in Indonesien. Foto: Soeren Stache dpa

Angela Merkel disambut di Mesjid Istiqlal

Kunjungan Kanselir Jerman di Mesjid Istiqlal (10/07) adalah agenda resmi. Tapi itu juga sebuah kunjungan putri pendeta Angela. Hanya beberapa langkah dari Istiqlal, Angela Merkel juga mengunjungi Gereja Protestan Immanuel. Di gereja itu Kanselir Angela Merkel juga menceritakan bagaimana ia besar di sebuah rumah pendeta di Mecklenburg Jerman. Dan katanya, „Kami memandang Indonesia sebagai model perkembangan yang damai dan toleran.

Indonesia Sebagai Negara Ideal

Barat sering memuji Indonesia sebagai contoh sebuah demokrasi Islam, sebagai jembatan antara Islam dan Kristen. Menlu AS Hillary Clinton dalam kunjungannya tahun 2009 memuji „Jika Anda ingin tahu apakah Islam, demokrasi, modernitas dan hak-hak perempuan dapat eksis bersama, pergilah ke Indonesia.“

Bundeskanzlerin Angela Merkel (CDU, M) steht am Dienstag (10.07.2012) in Jakarta (Indonesien) ohne Schuhe in der Istiqlal-Moschee. Die Unabhängigkeitsmoschee wurde 1978 eingeweiht und gilt als eines der Wahrzeichen der Stadt. Die Reise der deutschen Politikerin ist der erste Besuch in ihrer Funktion als Bundeskanzlerin in Indonesien. Foto: Soeren Stache dpa

Kaki Kanselir Merkel (tengah) tanpa sepatu saat kunjungi Mesjid Istiqlal

Sejak berakhirnya era Suharto 1998, Indonesia berkembang pesat. Ekonominya menguat, kepercayaan dirinya meningkat dan kehidupan bersama yang damai. Tapi itu bukan hal yang mudah.

Banyak warga Indonesia kecewa terhadap pemerintah dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di mata banyak pemilih SBY dianggap terlalu lemah dan kurang berani mengambil keputusan. Dan dalam urusan agama pemerintah jauh dari kenyataan, demikian kritik Elga Sarapung Direktur Institut DIAN/Interfidei. "Secara resmi pemerintah hanya mengakui 6 agama. Padahal ada berbagai macam aliran agama di Indonesia. Mengapa kita harus mengecualikan agama-agama lainnya?"

Beberapa tahun terakhir kekerasan bermotif agama meningkat. Organisasi HAM "Human Rights Watsch" menarik kesimpulan serupa. Dan studi "Centre for Strategic and International Studies" (CSIS) di Washington menggambarkan tidak adanya toleransi beragama yang besar. Hampir 80 persen responden di Indonesia menentang pernikahan beda agama.

Titel: Merkel in Indonesien / Religion Schlagworte: Merkel, Indonesien, Religion, Jakarta Wer hat das Bild gemacht/Fotograf?: Monika Griebeler Wann wurde das Bild gemacht?: 10.07.2012 Wo wurde das Bild aufgenommen?: Jakarta Bildbeschreibung: Kleine Frau vor großer Kirche: Merkel verlässt die Immanuel-Kirche in Jakarta Rechteeinräumung: Hiermit räume ich der Deutschen Welle das Recht ein, die von mir bereitgestellten Bilder im Zusammenhang mit der Berichterstattung über die Reise von Bundeskanzlerin Merkel nach Indonesien zu nutzen. Ich versichere, dass ich die Bilder selbst gemacht habe und dass ich die hier übertragenen Rechte nicht bereits einem Dritten zur exklusiven Nutzung eingeräumt habe. Monika Griebeler

Kanselir Merkel seusai kunjungi Gereja Imanuel

Pemerintah Tidak Bertindak

Memang konstitusi pada dasarnya melindungi kegiatan beragama secara bebas. Tapi makin banyak Gereja yang ditutup, diperkirakan lebih dari 400 Gereja sejak Yudhoyono mulai memegang jabatan presiden tahun 2004. Seringkali ini terjadi akibat tekanan kelompok militan Islam. Dan pengadilan sering merujuk pada undang-undang blasphemy (penistaan agama) yang kontroversial untuk menghukum warga ateis, Kristen atu juga anggota kelompok Ahmadiyah.

Bulan Februari 2011 di Cikeusik, 20 pendukung Ahmadiyah diserang oleh sekitar 1500 anggota kelompok radikal. Tiga warga Ahmadiyah tewas, lima lainnya luka-luka. Pelakunya hanya dijatuhi hukuman ringan. "Ini adalah contoh lemahnya pemerintah dalam melindungi hak-hak warga minoritas". Demikian kritik Badrus Samsul Fata dari Wahid-Institut di Jakarta.

Pemerintah seolaj tidak mampu bergerak sehubungan tampilan Islam yang militan. Padahal kelompok Hardliner ini tidak besar tapi suaranya lantang. Demikian kata Elga Sarapung dalam pembicaraan dengan DW. "Lewat media mereka memiliki peluang menyampaikan pandangannya. Oleh karena itu muncul kesan, seolah mereka berkuasa di sini."

Bundeskanzlerin Angela Merkel (CDU, M.) singt am Dienstag (10.07.2012) in Jakarta (Indonesien) während eines Besuchs in der Immanuelkirche. Das Kirchengebäude ist eine der traditionsreichsten protestantischen Kirchen des Landes und wurde zwischen 1835 und 1839 nach Plänen eines niederländischen Architekten erbaut. Die Reise der deutschen Politikerin ist der erste Besuch in Indonesien in ihrer Funktion als Bundeskanzlerin. Foto: Soeren Stache dpa

Angela Merkel tampak ikut bernyanyi saat kunjungi Gereja Imanuel

Kebisuan Mayoritas sebagai Kekuatan Tandingan

Sebelulnya Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang toleran. Bagi sebuah negara yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau dan lebih dari 300 suku bangsa dan setidaknya begitu banyak haluan kepercayaan lokal, toleransi juga penting.

Oleh karena itu Badrus Samsul Fata dari Wahid Institut seperti kebanyakan warga Indonesia lainnya, dalam menghadapi para hardliner mengandalkan "kebisuan mayoritas". Tapi mereka juga lambat laun harus bangkit, menurut Badrus „masyarakat sipil dapat menghentikan para hardliner ini. Tapi jika mereka terlambat menyadarinya, itu akan merusak semua.“

Titel: Merkel in Indonesien / Religion Schlagworte: Merkel, Indonesien, Religion, Jakarta Wer hat das Bild gemacht/Fotograf?: Monika Griebeler Wann wurde das Bild gemacht?: 10.07.2012 Wo wurde das Bild aufgenommen?: Jakarta Bildbeschreibung: Gruppenbild mit Dame: Angela Merkel und die Vertreter der Istiqlal-Moschee inJakarta Rechteeinräumung: Hiermit räume ich der Deutschen Welle das Recht ein, die von mir bereitgestellten Bilder im Zusammenhang mit der Berichterstattung über die Reise von Bundeskanzlerin Merkel nach Indonesien zu nutzen. Ich versichere, dass ich die Bilder selbst gemacht habe und dass ich die hier übertragenen Rechte nicht bereits einem Dritten zur exklusiven Nutzung eingeräumt habe. Monika Griebeler

Merkel di depan Mesjid Istiqlal

Masyarakat sipil sebagai kekuatan besar. Dalam kunjungannya di Indonesia Kanselir Angela Merkel berbicara dengan berbagai kelompok, juga walaupun bukan agama tema utama pembicaraan. Ini lebih dipandang sebagai isyarat dan itulah yang diandalkannya. Sebagai umat Protestan di Mesjid Istiqlal yang pembuatannya dirancang oleh seorang umat Kristen. Demikian toleransi di Indonesia.

Monika Griebeler/Dyan Kostermans

Editor: Hao Gui