1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kampanye #BringBackOurGirls Disalahgunakan

Kampanye via twitter dari selebriti barat tidak memecahkan masalah yang dihadapi Afrika. Sebaliknya, akan mengubur proses demokratisasi dan dalam kasus terburuk memicu aksi militer Amerika. Komentar Ludger Schadomsky.

Pengacara Ibrahim Musa Abdullahi mungkin tidak menyadari, ketika ia bereaksi atas penculikan 200 perempuan siswa sekolah di kota Chibok oleh milisi Boko Haram. Dalam rapat umum 14 April 2014 ia menuntut pemerintah Nigeria bertindak untuk "memulangkan anak perempuan kami". Lewat pesan twitter ia juga memasang hashtag "#BringBackOurGirls".

"Kembalikan Anak Perempuan Kami" ibaratnya tsunami yang melanda dunia. Mula-mula kaum perempuan dan ibu di jalanan Nigeria yang menyerukannya, menuntut pemerintah yang tidak becus dan kewalahan untuk segera bertindak. Tapi beberapa hari kemudian aksi protes di jalanan ibukota Abuja itu melompat ke Amerika Serikat.

Publik Amerika mendesak dilancarkannya operasi militer untuk menyelamatkan anak-anak perempuan yang diculik itu. Tidak kurang dari First Lady AS, Michelle Obama berpose memegang poster dengan slogan hashtag yang kini jadi terkenal ke seluruh dunia.

Akan tetapi, dengan aksi itu, kampanye solidaritas terhadap anak-anak perempuan yang diculik Boko Haram kini memiliki dinamikanya sendiri. Aksinya tidak lagi selaras dengan tujuan semula Abdullahi dan para pengggas kampanye di Nigeria.

Dari sebuah aksi protes warga sipil, melawan pemerintahan yang tidak becus dan korup di Nigeria, dalam waktu beberapa hari berubah menjadi sebuah alasan bagi intervensi lebih jauh Amerika Serikat di Afrika.

Meruntuhkan proses demokratisasi

Tahun 2013 saja, AS melancarkan 546 operasi militer di Afrika dengan alasan membela kepentingan keamanan Amerika. Penulis dan aktivis Jumoke Balogun dalam sebuah artikel yang ditulisnya mempertanyakan: Apakah para selebriti Amerika itu memiliki hak konstitusional untuk ikut serta dalam proses demokrasi di Nigeria? Tidak!

"Ada berita baru bagi kalian: kampanye kalian meruntuhkan proses demokratisasi di dalam negeri Nigeria serta gerakan menentang pemerintahan korup presiden Goodluck Jonathan."

Deutsche Welle Afrika Amharisch Ludger Schadomsky

Ludger Schadomsky

Pemelintiran kampanye #BringBackOurGirls di Nigeria oleh Amerika Serikat, mengingatkan lagi pada kasus serupa di tahun 2012, saat sebuah NGO kecil di Amerika menggelar kampanye lewat twitter dengan memasang hashtag #Kony2012, terkait aksi teror komandan Lord's Resistance Army (LRA) di Uganda, Joseph Kony. Kampanye via twitter itu menjadi alasan bagi Washington untuk mengirim pasukan elitnya ke Afrika Tengah.

Kampanye hashtag yang digelar selebriti sekelas Angelina Jolie, Michelle Obama ataupun George Clooney umurnya memang amat pendek, setelah beberapa hari langsung kehilangan gebrakannya. Namun dampak buruknya, adalah muncul ancaman bahaya campur tangan pemerintah Amerika, yang lebih mengedepankan militerisme dan mengabaikan demokrasi.

Kristen fundamentalis ikut campur

Juga muncul masalah berikutnya, yang tidak pernah diduga oleh para selebriti. Bukan hanya militer AS, melainkan juga lobi Kristen fundamentalis di Amerika Serikat yang ikut memanfaatkan kampanye #BringBackOurGirls untuk kepentingannya sendiri.

Kawasan Borno dimana kota Chibok berada, ibarat noktah kecil kawasan kaum Kristen di utara Nigeria yang mayoritasnya beragama Islam. Para aktivis di Nigeria wajar merasa cemas, karena aktivis kelompok fundamentalis Bible-Belt dulu melakukan kampanye lobi terkait konflik di Darfur, di selatan Sudan dengan moto: "Arab yang jahat membantai Kristen dan Animis yang baik."

Tidak mengherankan, jika penulis dan aktivis Nigeria, Jumoke Balogun dalam kolomnya menulis "Dunia yang tercinta, hashtag kami seharusnya #Don'tBringBackOurGirls."

Tidak diragukan lagi George Clooney dan Angelina Jolie adalah artis dengan reputasi bagus dan Michelle Obama seorang First Lady jempolan. Tapi mereka diharap menahan diri dari politik Afrika. Karena warga Afrika ingin menentukan nasibnya sendiri, dan kali ini tanpa campur tangan militer Amerika.