1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

"Kami Diculik!" - Kesaksian Penulis Henning Mankell

Tentara Israel bertindak seperti bajak laut, kata penulis Swedia yang ikut rombongan relawan kapal bantuan Gaza. Ia memberi keteranan pers di Berlin, Jerman.

default

Henning Mankell pada jumpa pers di Berlin (03/06)

Henning Mankell tampak letih. Penulis kenamaan asal Swedia itu baru mengalami hari-hari yang menegangkan. Ia berada di atas kapal barang "Sophia", termasuk armada kapal bantuan bagi Gaza, yang dihentikan tentara Israel dengan kekerasan, Senin pagi (31/05). Mankell dibawa secara paksa ke Israel, ditahan disana sebelum akhirnya dideportasi. Pada konferensi pers di Berlin, Mankell menyatakan hanya akan membicarakan hal-hal yang ia alami sendiri.

"Kami berada di perairan internasional. Kami mencoba menembus blokade. Masih ada waktu sekitar dua jam sebelum kami tiba di kawasan yang disebut Israel sebagai perairan mereka", tutur Mankell. Ia sedang tidur, saat itu jam 4 dini hari, ketika seseorang membangunkannya dan mengatakan kapal besar dalam armada mereka, Marmara, diserang. Mereka lalu melihat helikopter terbang dan mendengar suara tembakan, tapi tidak tahu apa yang terjadi karena komunikasi terputus, telefon dan radio, semua terputus.

Satuan tentara Israel yang mengenakan penutup wajah dan bersenjata lengkap juga mendatangi kapal yang ditumpangi Mankell. Ke-25 penumpang dikumpulkan di bawah geladak.

"Ada sejumlah orang yang berumur di antara kami, gerakannya sedikit lambat. Salah seorang diserang dengan pistol listrik yang ditembakkan ke bahunya. Dia jatuh karena sakitnya luar biasa."

Henning Mankell, penulis kenamaan asal Swedia, ikut serta dalam armada kapal bantuan sebagai aksi solidaritas terhadap rakyat Palestina di Gaza. Sophia, kapal yang ia tumpangi, mengangkut semen, bahan bangunan dan rumah siap pasang bagi warga yang tiga tahun lebih terpisah dari dunia luar akibat blokade Israel. Tentara Israel mengatakan, di atas kapal itu ditemukan senjata.

"Senjata apa, kata kami. Tidak ada senjata di atas kapal ini. Lalu tentara itu menunjukkan pisau cukur. Anda tahu kan, pisau untuk bercukur. Saya berkata dalam hati, yang kamu tunjukkan itu pisau cukur saya"

Penyerbuan itu terjadi di perairan internasional dan itu berarti tentara Israel bertindak layaknya bajak laut, kata Mankell. Mereka menyerang kapal dan menggiring pakasa kapal, berikut penumpangnya, ke Israel. Itu sama saja dengan penculikan, tambah Mankell.

Tiga hari kemudian, saat menaiki pesawat Lufthansa di Tel Aviv, Mankell baru mengetahui bahwa 9 orang tewas di kapal Marmara. Ia juga melihat foto yang dipublikasi militer Israel untuk menunjukkan tentara disambut dengan tongkat besi oleh penumpang kapal bantuan Turki.

"Saya belum melihat banyak gambar di televisi, hanya beberapa menit, tapi dari apa yang saya lihat, tidak seorangpun memanjat tali untuk menyerang tentara di helikopter. Saya melihat tentara memanjat turun dari helikopter dengan senapan mesin, dan saya melihat orang-orang menyerang mereka. Saya tidak melihat senjata apa yang digunakan, tapi saya tidak melihat penumpang menggunakan senapan. Dan baru hari ini saya tahu, bahwa korban yang tewas bukan warga Israel.“

Henning Mankell tidak menyesal terlibat dalam insiden itu. Yang ia sesalkan adalah banyaknya korban tewas dan luka-luka. Jika armada kapal bantuan kembali dikirim untuk Jalur Gaza, Mankell menyatakan siap ikut lagi.

"Setelah apa yang terjadi, saya percaya, lebih dari sebelumnya, bahwa aksi solidaritas, untuk mencoba membuat dunia menjadi lebih baik, masih punya peluang.“

Bettina Marx/Renata Permadi
Editor: Hendra Pasuhuk