1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Kabel Bawah Laut Hubungkan 21 Negara Afrika dengan Dunia

Harapannya sungguh besar ketika sepuluh tahun yang lalu perusahaan telekomunikasi milik pemerintah Afrika Selatan Sat3/SAFE lewat kabel laut menghubungkan bagian selatan dan barat benua Afrika dengan Eropa.

default

Warung Internet di Kenya

Bagi Michael Monnerjahn dari perhimpunan perekonomian Jerman untuk Afrika hal ini tidak meragukan lagi. Revolusi internet di benua Afrika akan tiba:

"Tidak mungkin akan gagal. Apa yang terjadi di Afrika, sudah terjadi di Eropa atau Amerika Serikat sepuluh, duabelas tahun lalu. Di Timur Tengah mungkin enam, tujuh atau lima tahun lalu. Artinya, perusahaan telekomunikasi mengetahui dengan tepat apa yang mereka lakukan. Mereka mengetahui, bahwa pasar Afrika di bidang itu masih tertinggal. Permintaannya akan meningkat dan itu merupakan investasi baik bagi perusahaan-perusahan tersebut.“

Awalnya perusahaan telekomunikasi tidak tertarik pada Afrika. Hanya dua persen investasi kabel laut di seluruh dunia dilakukan di Afrika. Negara-negara di bagian selatan Afrika seperti Kenya, Tanzania atau Mozambik hanya bisa menggunakan internet lewat satelit. Untuk waktu yang lama bagian selatan dan barat Afrika terhubung dengan Eropa lewat kabel serat optik satu-satunya di Afrika yakni Sat3/SAFE-Kabel.

"Yang sangat mengecewakan setelah menggunakan Sat3, biaya bagi para penggunanya begitu juga bagi perusahaan telekomunikasi tidak menjadi lebih murah seperti yang diharapkan. Pelayanannya, kesempatan untuk menelefon, akses ke internet secara kualitatif menjadi lebih baik, tetapi biayanya tetap tinggi seperti sebelumnya.“

Demikian tutur Klaus Gihr dari bank pembangunan bagi negara-negara berkembang Jerman KfW. Namun ia yakin bahwa dalam waktu dekat akan terjadi perubahan. Dengan mengucurkan dana bantuan senilai 13 juta dolar Amerika Serikat KfW ikut membiayai sistem kabel bawah laut di timur Afrika, East Africa Submarine Cable System EASSy, yang telah berfungsi sejak bulan lalu (25/8). Sistem itu menghubungkan 21 negara Afrika di pesisir timur dengan dunia luar. Dan untuk pertama kali negara seperti Etiopia, Sudan dan Eritrea masuk dalam jaringan tersebut. Kabel baru ini membuka akses bagi 250 juta orang. Sementara penyedia layanan internet Sat3 tetap menahan harga tinggi bagi jasa layanan internet lokal, EASSy menawarkan harga lebih murah.

Persaingan di pasar Afrika menjadi semakin ketat. Sejak pertengahan tahun lalu muncul penyedia layanan internet baru Seacom yang merupakan saingan berat EASSy. Menurut Klaus Gihr, harga internet di Afrika tidak akan mencapai harga semurah Eropa. Mungkin harganya masih dua sampai tiga kali lipat lebih mahal. Saat ini diupayakan untuk memperoleh kucuran dana untuk investasi senilai 235 juta dolar AS. Biaya untuk mendapatkan akses ke internet akan merosot jauh. Di samping biaya murah juga terdapat perubahan positif lainnya ungkap Monnerjahn dari perhimpunan Afrika:

"Sejak satu tahun ada Seacom, dan sejumlah negara gigih melakukan investasi di infrastruktur. Ruanda misalnya paling depan. Terutama negara-negara yang terletak jauh dari laut, paling rajin dalam memasang kabel serat optik. Namun perlu disebutkan juga bahwa selama ini kebanyakan negara hanya menghubungkan kota pelabuhan dan ibukota ke jaringan kabel internet itu, sedangkan sisanya tidak.“

Namun Gihr percaya itupun akan berubah. Ia berangan-angan suatu saat sebuah inisiatif petani dapat mencari informasi di internet untuk ikut menentukan harga pasar dunia. Mahasiswa Afrika memperoleh akses ke semua perpustakaan di seluruh dunia. Atau pakar teknologi informatika lewat internet dapat menawarkan jasanya di pasar dunia. Ia sangat mengharapkan sebuah keberhasilan seperti yang dicapai oleh telefon genggam. Sepuluh atau lima belas tahun lalu tidak ada yang mengira bahwa alat komunikasi itu bakal berhasil. Sebagian besar masyarakat Afrika mempunyai kepentingan pada komunikasi modern.

Jutta Wasserrab / Andriani Nangoy

Editor: Asril Ridwan