1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Jompet: Mencari Jatidiri Demokrasi Indonesia Lewat Seni

Hampir dua dekade setelah gerakan reformasi 98 yang tumbangkan rezim Suharto, rakyat Indonesia makin cerdas artikulasikan ekspresi politisnya. Seniman Jompet guratkan kesannya lewat karya instalasi gerak dan bunyi.

Bagaimana masa lalu dan masakini bisa ditarik menjadi garis lurus jejak sejarah yang tidak putus? Dengan seni instalasinya, seniman asal Yogyakarta, Agustinus "Jompet" Kuswidananto berusaha memahami jatidiri demokrasi di Indonesia. Khususnya pasca gerakan reformasi 1998 yang menumbangkan kekuasaan rezim Orde Baru di bawah presiden Suharto yang ketika itu sudah berkuasa selama 32 tahun.

Gugatan terhadap kondisi di Indonesia masalalu dan masakini lewat karya instalasinya “Power Unit“yang ditampilkan di gedung Frankfurter Kunstverein di Frankfurt am Main menjadi bagian dari jejak berkesenian seniman yang disebut angkatan reformasi ini. Jompet tampil bersama beberapa seniman kontemporer Indonesia lainnya dalam pameran bertajuk “Root” yang digelar hingga 10 Januari 2016 dan masih berkaitan dengan rangkaian acara Frankfurt Book Fair 2015. Sesuai judulnya, pameran ini menegaskan simbol mencari “akar“ bagi banyak hal serta permasalahan di Indonesia

Ausstellung Roots im Frankfurter Kunstverein Künstler von Jompet Kuswidananto

Instalasi simbol unit penggerak tenaga Yang terkesan hanya tinggal cangkangnya

Jompet yang lulusan Universitas Gadjah Mada mulai merealisasikan karya instalasinya yang merupakan gabungan dari suara,dan gerak kinetis pada tahun 90-an. Ia memanfaatkan rongsokan dan onderdil yang dirangkai jadi karya seni. Tema karyanya tidak jauh dari akar etnisnya: Jawa. Misalnya Java Amplified, Java-Maschine dan War of Java: Do You Remember. Presentasinya kental dengan symbol dan bentuk yang karakteristik bagi pasukan kerajaan Jawa. Karyanya Power Unit yang ditampilkan di Frankfurt, disebut sebagai simbol dari cangkang atau kokon yang sudah ditinggalkan ulatnya yang mengalami metamorfosa jadi kupu-kupu. Inilah simbol dari sebuah jeda antara masalalu dan masakini.

as/ml(dari berbagai sumber)