1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Jokowi-Prabowo Terus Bersaing Ketat

Kanupriya Kapoor/Jonathan Thatcher (rtr)30 Juni 2014

Tak lama lagi Indonesia akan memilih presiden baru. Dalam jajak pendapat terkini, perolehan suaran Joko Widodo dan Prabowo Subianto bersaing ketat. Manakah yang menjadi pemenang?

https://p.dw.com/p/1CSZ9
Foto: ROMEO GACAD/AFP/Getty Images

Ketika salah seorang politisi ingin menjadi bagian dari pemerintahan baru, ia tidak mendekati Joko "Jokowi" Widodo. Melainkan menyambangi kediaman pimpinan partai yang mengusung Jokowi sebagai calon presiden. Namun sang pemimpin partai yang merupakan mantan presiden itu tak menunjukkan ketertarikannya. Politisi tersebut adalah Aburizal Bakrie dari Partai Golkar. Kehadirannya ditolak oleh Megawati Sukarnoputri.

Dalam mencari aliansi, Aburizal Bakrie pergi ke Megawati, bukan ke rumah Jokowi. Ini seolah menggarisbawahi desas-desus bahwa Jokowi mungkin menjadi presiden, tetapi tidak punya wewenang penuh. Lawan politiknya mengeritik bahwa ia akan tunduk kepada Megawati.

Namun dengan lantang mantan menteri perdagangan yang mundur dari partai Golkar untuk membantu kampanye Jokowi, Luhut Panjaitan berkata: "Satu hal yang dapat saya yakinkan Anda, bahwa tidak siapapun bisa mendikte Jokowi, ia memiliki pikirannya sendiri..Orang-orang bilang dia adalah boneka Megawati, tapi saya dapat menjanjikan …Tidak begitu… .. Dia sangat sopan dan sangat rendah hati tapi itu tidak berarti dia akan mengatakan ya untuk semua yang orang lain katakan."

Jokowi menyeruak ke tangga kepemimpinan dengan citra bersih dan reputasi baik untuk kompetensi pemerintah lokal. Ini menjadi kebalikan dari otokrasi, korupsi dan kekuasaan politik yang telah membebani Indoensia selama beberapa dekade.

Ia menjadi walikota Solo pada tahun 2005 dan gubernur Jakarta pada tahun 2012. Satu-satunya yang menjadi kecemasan beberapa kalangan hanyalah hubungannya dengan Megawati dan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi kebijakan negara jika dia menang.

Luhut Panjaitan, yang hadir pada pertemuan antara Bakrie dan
Megawati mengatakan, setelah penolakan itu, ketua partai Golkar pergi
ke kamp saingan calon presiden lainnya, mantan jenderal Prabowo Subianto. "Saya berkata kepada Aburizal Bakrie ... Mengapa kita selalu harus membuat transaksi seperti ini? Ini tidak membuat contoh yang baik bagi masyarakat, kepada generasi muda, " tutur Luhut Panjaitan.

Aburizal Bakrie
Foto: picture alliance/AA

Sekjen Golkar, Lalu Mara Satri Wangsa mengatakan: „Bakrie menyebutkan bahwa dalam pertemuan dengan Prabowo mereka membicarakan kepentingan nasional, dan kesepakatan politik tidak dibicarakan.“

Tapi politisi senior Golkar, Fahmi Idris, menyebutkan Prabowo telah menjanjikan sekitar tujuh kursi di kabinet di sebagi balas jasa atas dukungan Bakrie. "Ya, Bakrie kecewa (dengan penolakan Megawati)," kata Fahmi Idris.

Presiden boneka

Dalam kampanyenya, tim Prabowo berulang kali memperingatkan agar jangan memilih seorang presiden "boneka", dengan merujuk pada Jokowi. Meski hal tersebut terus dikumandangkan, Jokowi masih memimpin perolehan suara dalam jajak pendapat. Semakin mendekati pemilu, perbedaan perolehan suara kedua kandidat dalam survei semakin tipis.

Prabowo Subianto
Foto: Reuters

Megawati tiga kali gagal terpilih sebagai sebagai presiden dalam pemilu, sampai akhirnya sebagai wakil presiden ia menggantikan Abdurrahman Wahid yang dimakzulkan tahun 2001. Dalam pemilu kali ini ia menunjuk Jokowi yang dianggap dapat menang mudah.

„Jokowi adalah manusia mandiri. Tapi dia orang Jawa dan selalu mendengarkan masukan dari seniornya ... Di matanya, Megawati adalah seniornya, " kata salah seorang asisten dekat Megawati, yang menolak menyebutkan nama karena sensitifnya isu tersebut.

"Dia akan meminta saran pada isu-isu tertentu dari Megawati, tetapi ia tidak dibimbing olehnya. Itu sangat penting. Dia juga berusaha mendengar saran dari orang-orang senior lainnya yang punya lebih banyak pengalaman dari dia, jadi bukan hanya dari Megawati. "

Lebih Tangguh

Manajer kampanye Jokowi, Luhut Panjaitan menyebutkan: "Jokowi itu seorang pria tangguh. Dia lebih gigih dari Prabowo," kata Panjaitan. Jika terpilih, pengusaha mebel itu akan menjadi presiden pertama Indonesia yang tidak berasal dari kalangan elit atau militer. Sebaliknya, Prabowo berasal dari keluarga terkemuka Indonesia dan adik salah satu satu orang terkaya di Indonesia.

Beberapa kalangan percaya, Jokowi akan mampu membentuk akbinet teknokratis yang bebas dari motivasi politik. "Jokowi terus mengatakan kali ini harus berbeda dari masa lalu, berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, "kata asisten Megawati itu. "Dia ingin menempatkan orang yang tepat di posisinya. Apakah mereka berasal dari partai yang berbeda, tetap harus menjadi pertimbangan bahwa orang-orang yang dipilih harus mampu melakukan pekerjaannya."