1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Johanngeorgenstadt : Hilangnya Sebuah Kota Lama

Kota Johanngeorgenstadt di kawasan pertambangan Timur Jerman yang dulunya ramai, kini menjadi kota mungil yang terancam hilang. Kota ini adalah korban perubahan struktural kawasan Erzgebirge.

Tiga perempuan setengah baya naik ke atas kereta. Seakan kenalan lama, kondektur menyambut ramah sebelum meniup peluit.

SLM Johanngeorgenstadt Erzgebirge

Stasiun KA Johanngeorgenstadt

Tepat waktu, keretapun bergerak menuju Chemnitz. Sepi kembali menghuni pelataran stasiun Johanngeorgenstadt di Sachsen selatan.

Sebuah pabrik kosong mengingatkan bahwa kota kecil di lembah itu pernah terkenal. Di tahun 1950-an, jumlah penduduk Johanngeorgenstadt mencapai 45 ribu orang. Kini penduduknya hanya 4500 orang. Di kawasan Erzgebirge, tak ada kota lain yang perubahannya begitu drastis.

Pada pintu masuk stasiun terpampang iklan yang ditulis tangan: sup gulash 3,50 Euro. Pelayan restoran stasiun, Anja Gysler juga ingin pindah. Ia berencana ke Stuttgart, ke dekat kakaknya tinggal. "Johanngeorgenstadt adalah kota yang asik bagi pensiunan", komentarnya, "tapi bagi orang muda, tak ada apa-apa."

Deutschland DDR Wismut AG Uranmine

Tambang Uranium Wismut AG

Ada memang penduduk yang ingin tinggal. Di antaranya, Frank Vollert. Ia bekerja sebagai pemandu wisata kota. Tambang "Glöckl" merupakan atraksi pariwisata utama di kota itu.

Vollert bergairah menceritakan kotanya, yang sejarah pertambangannya mencakup ratusan tahun. Di pintu masuk stasiun, ia bercerita tentang galian tambang „Schacht 1" yang dari lokasi di bawah bekas pasar di pusat kota lama menjorok hingga 500 meter ke dalam gunung.

Hancurnya Sebuah Kota

Dari pusat kota lama, tak banyak yang tersisa. Gang-gang kecil yang meliuk rumit, penuh toko dan apartemen sudah tiada. Rumah yang tersisa bisa dihitung jari, ada satu bangunan gereja yang cukup menarik.

Pasca Perang Dunia kedua, Johanngeorgenstadt merupakan pusat pertambangan uranium. Ketika itu Uni Soviet ingin memiliki bom atom dan memicu perkembangannya. Pusat kota lama dibumi-ratakan guna melindungi tambang yang berada dibawahnya.

Kini, pusat kota Johanngeorgenstadt berada sekitar 200 meter di luar lembah, di bekas lokasi pemukiman buruh tambang yang dibangun pada tahun 1950-an oleh produsen uranium terbesar di dunia saat itu, Wismut AG. Dalam brosur informasi tertera, bahwa Wismut AG mendapatkan status otorita khusus di bawah pemerintahan Republik Demokratik Jerman, DDR.

Betulkah kota lama perlu dirombak? Bagi warga Johanngeorgenstadt, pertanyaan ini hingga kini masih kontroversial. Bukan sekedar karena cemaran radioaktif yang tersisa dalam bumi akibat pertambangan uranium.

Frank Teller terhitung pakar sejarah di kota itu. Keluarganya telah ratusan tahun tinggal di sana. "Sampai sekarang masih ada pejabat Wismut yang mengatakan bahwa kota itu perlu dihancurkan dan berlangsung sesuai hukum yang berlaku di masa itu. Tapi ada pihak yang berpendapat, tidak ada alasan geologis untuk melakukannya, dan penghancuran kota dilakukan sembarangan", tuturnya, tanpa penjelasan lanjut.

Wismut AG mengorganisasi pindahnya penduduk dari kota lama ke kota baru yang dibangun, sebagai kota percontohan. Rumah-rumah berhalaman besar, apartemen-apartemen bertingkat, semua lengkap dengan kamar mandi dan kakus. Setelah penyatuan Jerman, ada upaya untuk merenovasi rumah-rumah ini, tapi modernisasi inipun gagal menghambat urbanisasi.

Kota Tanpa Masa Depan?

Saat perombakan kota lama di tahun 50-an, pertambangan di Johanngeorgenstadt sudah dianggap tidak lagi menguntungkan. Sebagai penggantinya, pemerintah DDR membangun pabrik-pabrik tekstil dan mebel, yang sayangnya juga merugi. Akhir 90-an, setelah Jerman bersatu, pabrik-pabrik inipun gulung tikar. Terjadilah eksodus tenaga kerja ke kota-kota besar seperti Dresden, Nürnberg atau lebih jauh lagi. Yang tinggal hanya orang tua. Perumahan kosong lambat laun dibongkar dan kota baru Johanngeorgenstadt terus menciut.

Deutschland DDR Wismut AG Uranmine

Salju akan mulai turun di kota baru Johanngeorgenstadt. Para pendiri kota di abad ke-17 beralasan memilih belah selatan tebing untuk membangun kota lama. Kota baru yang berada di belah utara tebing kini tak terlindung dari angin dan badai. Tak heran, bila daerah ini dijuluki "Siberia Sachsen“, karena bisa menjadi dingin sekali.

Meski telah ditemukan tanda-tanda mineral langka, tak seorangpun percaya bahwa kawasan ini akan menjadi pusat pertambangan lagi. Tanpa kota lama yang menawan, turispun langka.

Di stasiun kereta api, Anja Gysler menceritakan mengapa ia masih di Johanngeorgenstadt. „Keluarga saya, ibu dan teman-teman berada di sini. Saya suka kotanya, tapi masalahnya saya tidak punya peluang kerja lain, tak punya perspektif baru“. Ini jawaban yang sering terdengar.

Tampaknya, mereka yang tinggal, suka pada kotanya. Dan mereka yang pergi, biasanya dengan berat hati.