1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Indonesia

Jihadis Indonesia Bergabung di ISIL

Bergabungnya para jihadis Indonesia ke Suriah dan Irak, memicu kekhawatiran mereka akan menghidupkan kembali jaringan militan yang canggih ketika pulang dan melemahkan upaya bertahun-tahun memerangi terorisme.

Dukungan terhadap kelompok seperti Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL), kelompok radikal Sunni yang merajalela di utara Irak, kini berkembang diantara para ekstrimis Indonesia dengan puluhan orang diyakini telah bergabung dengan kelompok militan tersebut.

Para analis menyebut fenomena ini merupakan ancaman serius bagi Indonesia ketika mereka pulang dengan membawa keahlian teror dan koneksi militan.

Inggris dan Australia telah menyampaikan keprihatinan mereka bahwa Suriah dan Irak adalah tempat berkembang biak kelompok fanatik pro kekerasan yang pergi ke sana dari Barat untuk ikut berperang dan menimbulkan ancaman bagi keamanan nasional ketika mereka pulang.

Indonesia yang selama ini cukup sukses memerangi terorisme, kini ikut terancam.

“Tak ada banyak kejadian lagi di Indonesia yang bisa dipakai para militan untuk berjihad,” kata Taufik Andrie, ahli terorisme dari Institut Perdamaian Dunia.

“Hanya ada sejumlah kelompok sempalan yang tak punya sumberdaya atau dukungan, sehingga banyak yang terinspirasi dengan apa yang sedang terjadi di Irak dan Suriah,” kata dia.

“Ketika mereka kembali, mereka akan dipandang sebagai tokoh penting jihadi. Orang-orang muda akan datang kepada mereka untuk berlatih, membentuk kelompok baru, merencanakan serangan, mengajari bagaimana caranya berperang dan membuat bom.“

Dukungan pada ISIL bertambah

Kesatuan anti-teror Indonesia mengakui bahwa dukungan bagi ISIL kini berkembang, bisa dilihat dari berbagai aksi demonstrasi, aktivitas di media sosial dan khutbah-khutbah pada pendakwah radikal.

Para militan telah menyeberangi perbatasan Suriah ke utara Irak dan mengambilalih beberapa kota penting dan menekuk pasukan pemerintah Irak.

Indonesia memperkirakan ada 60 warga Indonesia yang bepergian ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan para militan, namun para ahli mengatakan jumlah sebenarnya hampir mendekati 100 orang dan angkanya terus berkembang dengan pesat.

Tak ada aturan hukum yang melarang orang Indonesia bergabung dengan kelompok militan asing dan sejumlah organisasi Islamis secara terbuka menggalang dukungan dana bagi ISIL.

“Pemerintah harus meloloskan aturan yang bisa mengkriminalkan warga yang mendukung dan bepergian ke luar negeri untuk bergabung dengan kelompok teroris,“ kata Rohan Gunaratna, seorang ahli teroris dari Rajaratnam School of International Studies, Singapura.

Ia merujuk kepada negara tetangga Malaysia yang lebih aktif, menangkap puluhan laki-laki April lalu yang mencoba meninggalkan negara itu untuk berperang ke Suriah.

Meski itu gagal, bagaimanapun, untuk mencegah seorang warga Malaysia berusia 26 tahun meninggalkan negara itu ke Irak, di mana ia kemudian melakukan aksi bom bunuh diri yang menewaskan 25 tentara.

Indonesia mengetahui ancaman jika mereka kembali – karena sebagian besar teroris terkenal yang dilatih di Afghanistan pada 1980 dan 1990an kembali ke Indonesia dengan jaringan yang lebih luas, keahlian membuat bom dan akses ke pendanaan.

Menyalakan semangat jihad

Perang saudara di Suriah telah menghidupkan kembali minat jihad di kalangan militan Indonesia.

“Beberapa jihadis di Indonesia melihat ISIL sebagai embrio kekhalifahan Islam, yang menjadi tujuan utama mereka,“ kata Solahudin, seorang ahli teroris yang menulis buku “Akar Terorisme di Indonesia“.

Para militan, yang hampir semuanya masih muda, sedang dirayu secara online. YouTube menarik sebuah video yang menggambarkan lima laki-laki yang mengenakan penutup wajah yang mengaku sedang berada di Suriah, dan menyerukan kawan-kawan mereka untuk bergabung berjihad.

Berbagai situs Islamis seperti al-Mustaqbal dan VOA Islam, mempublikasikan berbagai berita pro-ISIL, yang menggambarkan pengambilalihan kota-kota Irak oleh kelompok itu sebagai ”pembebasan” yang dilakukan Sunni dari penguasa Syiah Irak.

ab/hp (afp,ap,rtr)

Laporan Pilihan