1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Jerman Terus Dorong Bakat Inovator Muda

Di Jerman saat ini terdapat 130 klub para penemu atau inovator yang didukung oleh pemerintah, di mana juga berkiprah para remaja berbakat. Beberapa diantaranya bahkan telah mendapat penghargaan atas penemuan mereka.

default

Gambar simbol penemuan dan hak paten

Terutama perusahaan-perusahaan Jerman yang citranya di seluruh dunia amat bagus, yang menyadari hanya inovasi baru di bidang produk dan jasa yang dapat menyelamatkan eksistensinya di masa depan. Karena itulah, ditengah gencarnya program i nfotainmet, pencarian bakat baru dalam bidang musik lewat kontes idola atau casting model, para insinyur dan pemerintah Jerman mengambil haluan amat berbeda, yakni dengan mendorong bakat-bakat muda di bidang inovasi teknik dan rekayasa.

Sejumlah penemu remaja dari Jerman sudah menunjukan prestasinya, dengan merebut berbagi penghargaan bergengsi. Misalnya saja dua remaja dari kawasan Eifel, Martin Hüttnau (14) dan Florian Büttner (13), yang selalu bergelut mencari penemuan baru yang dapat digunakan dalam keseharian.

Di sebuah garasi yang dirombak menjadi bengkel kerja, kedua remaja kreatif itu berhasil menemukan pelindung sendi yang cedera yang dilengkapi pendingin. Temuan baru ini berhasil meraih penghargaan internasional, karena dapat digunakan oleh manusia maupun binatang ternak.

Kelompok penemu remaja di kawasan Eifel itu dibimbing oleh Fiedhelm Limbeck, insinyur rancang bangun mesin dan sekaligus sarjana senirupa. Limbeck sendiri tergolong sebagai penemu yang cukup sukses di tatanan internasional. Di bawah bimbingannya, para penemu remaja juga sukses mengembangkan tempat pendaratan helikopter yang mudah dipindah-pindah. Limbeck terus memacu daya inovasi para penemu remaja agar mereka tetap kreatif dan profesional.

“Kualitasnya tetap amat tinggi. Kami lihat di berbagai pameran dan di dinas paten. Jika sebuah penemuan dari Jerman tidak dapat terjual, kemungkinan masalahnya terletak pada mentalitas segelintir direktur perusahaan, yang selalu mengatakan, kami mengembangkannya sendiri, kami tidak membelinya,“ papar Limbeck.

Di lain pihak para inovator remaja menghadapi tekanan yang berbeda, khususnya dari teman-teman sekelasnya. Johannes Büttner (12) mengatakan, masih banyak teman sekelas yang menganggap, menjadi penemu itu gampang saja. Mereka berpendapat, jika teman sekelas bisa mengapa ia tidak bisa. Padahal proses untuk menemukan sesuatu itu cukup panjang dan kita sendiri harus berprestasi bagus. Para inovator remaja di Jerman itu, dengan kerja kerasnya boleh berharap, dalam pameran para penemu berikutnya tetap dapat meraih penghargaan internasional.

Catrin Möderler/Agus Setiawan

Editor: Asril Ridwan