1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Jerman Terkejut atas Larangan Menara Mesjid di Swiss

Keputusan Swiss melarang pembangunan menara mesjid menimbulkan sensasi di seluruh penjuru dunia. Jerman terutama terkejut karena Swiss selama ini terkenal sebagai negara netral dan menghormati HAM.

default

Mesjid dengan menara milik Pusat Kebudayaan Turki di Swiss

Ada apa dengan Swiss? Pertanyaan ini tersirat dalam banyak komentar terkait hasil referendum di Swiss yang melarang pembangunan menara mesjid. Politisi Jerman dari partai SPD Sebastian Edathy juga terkejut dengan keputusan Swiss.

“Saya tidak kenal orang Swiss secara pribadi tetapi sampai sekarang saya selalu mempunyai kesan baik dari orang Swiss. Dan menurut saya, kalau orang lihat jumlah menara mesjid di Swiss, tidak masuk akal bagaimana keputusan ini dapat diambil. Mayoritas Muslim di Swiss adalah Muslim moderat dari negara-negara Balkan. Jadi keputusan Swiss ini benar-benar tidak dapat dijelaskan secara rasional.“

Di beberapa wilayah, bahkan sampai 70 persen pemilih menentang pembangunan menara mesjid baru di Swiss. Ini sangat merusak citra Swiss. Demikian juru bicara politik fraksi Partai Hijau di parlemen Jerman Bundestag, Josef Winkler. Lebih lanjut dikatakan, “Menurut saya, isyarat yang diberikan kepada kaum Muslim ini buruk sekali: di tengah-tengah Eropa, orang Kristen boleh menampilkan diri di mana-mana, tetapi orang Muslim diminta untuk menyembunyikan dirinya. Dan kalau mereka punya bangunan yang merepresentasikan dirinya, maka tolong jangan dibuat seperti yang mereka inginkan, namun seperti yang orang lain mau.“

Isyarat ini sudah diterima oleh kaum Muslim. Nadeem Elias dari Dewan Muslim Pusat Jerman mengatakan, bahwa keputusan Swiss ini mengejutkan sekali. Terutama karena Swiss terkenal sebagai negara netral dan sangat menghormati hak asasi manusia. Elias Khawatir, keputusan ini akan memperkuat pihak yang menentang Islam. Komentarnya: “Ini bukan menyangkut ketakutan terhadap Islam. Ini merupakan permusuhan dengan Islam. Dengan keputusan ini kita dapat melihat adanya permusuhan dengan Islam dan ini kemungkinan dapat membangunkan kekuatan anti Islam.“

Selain itu para politisi Jerman juga membicarakan satu aspek lain dari tindakan Swiss. Keputusan pelarangan pembangunan menara mesjid ini diambil dengan sebuah referendum. Ini merupakan bentuk pemilihan suara langsung, yang merupakan bentuk awal demokrasi. Padahal keputusan ini terkait dengan kebebasan beragama, salah satu hak asasi manusia. Ketua komisi hukum di Bundestag, Siegfried Kauder, berkomentar,“Ketakutan rakyat harus ditanggapi dengan serius. Tetapi tetap saja orang tidak boleh mengelola suatu negara modern seperti yang dilakukan Swiss saat ini. Swiss akan terkena masalah besar dari bentuk demokrasi langsung ini.“

Swiss yang selalu menjadi panutan dalam menunjukkan bagaimana demokrasi dapat berfungsi dengan benar dan merakyat, kali ini mengecewakan harapan banyak pihak. Politisi SPD, Sebastian Edhaty, khawatir, Jerman juga akan terkena dampaknya.

“Saya menyesalkan hal ini, karena saya sendiri pada prinsipnya mendukung bentuk demokrasi yang lebih langsung. Tetapi kalau kita melakukan hal itu, maka harus jelas, bahwa hal ini tidak dapat menentukan berlaku atau tidaknya hak asasi manusia.“

Heiner Kiesel / Anggatira Rinaldi
Editor: Hendra Pasuhuk

Laporan Pilihan