1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Jerman Terima Banyak Pemohon Suaka Pendukung ISIS

4 Juni 2018

Kementerian Dalam Negeri Jerman menyatakan, lebih dari 40 pemohon suaka yang diterima punya hubungan dengan kelompok ekstrem. Dua ekstremis diketahui berpotensi melakukan serangan teror.

https://p.dw.com/p/2ytbr
Deutschland - Bundesamt für Migration und Flüchtlinge BAMF in Berlin
Foto: Reuters/F. Bensch

Kementerian Dalam Negeri mengakui bahwa sedikitnya dua ekstremis yang berpotensi melakukan serangan teror telah mendapat suaka politik di Dinas Migrasi dan Pengungsi BAMF cabang Bremen.

Kantor BAMF di Bremen beberapa bulan terahir jadi sorotan karena tuduhan adanya ketidakberesan dalam proses pemberian suaka. BAMF Bremen dituduh meloloskan sekitar 1200 pemohon suaka politik setelah menerima uang sogok. Sejak bulan lalu, BAMF Bremen dilarang mengeluarkan putusan suaka politik kepada pengungsi. Beberapa pegawainya kini berada dalam penyelidikan polisi.

Kementerian Dalam Negeri selanjutnya menerangkan, selain dua ekstremis tersebut, masih ada 44 pemohon suaka lain yang diketahui memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok radikal Islam. Mereka semuanya mendapat suaka politik "melalui proses yang tidak benar".

Sebelumnya, jaringan jurnalis Redaktionsnetzwerk Deutschland memberitakan, sejak tahun 2016 ada 80 pemohon suaka yang diluluskan permohonannya, padahal mereka seharusnya ditangkap dan diserahkan kepada aparat keamanan.

Deutschland - Asylantenheim - Migration
Pengungsi memasuki tempat penampungan di HeidelbergFoto: picture alliance/dpa/U. Anspach

Prosedur suaka yang kacau

Seorang jurubicara Kementerian Dalam Negeri mengatakan kepada kantor berita Jerman DPA, salah satu ekstremis yang mendapat suaka dikenal aparat keamanan sebagai individu yang "berpotensi melakukan serangan teror", sedangkan yang lainnya diketahui memiliki hubungan dengan kelompok ekstremis.

Secara keseluruhan, ada 46 pemohon suaka yang diluluskan yang punya hubungan dengan ekstremis. Temuan ini makin membeberkan kekacauan proses pemberian suaka di BAMF cabang Bremen.

Namun pejabat BAMF Bremen yang kini dalam penyelidikan polisi dan namanya disebut sebagai "Ulrike B." menolak tuduhan itu. Dia menyebut tuduhan-tuduhan itu "nonsens" dan menyalahkan kebijakan pemerintah tentang pengungsi menjadi penyebab kekacauan. Sekarang pemerintah hanya mencari kambing hitam atas kegagalan sistem suaka Jerman, katanya.

Tekanan besar setelah kebanjiran pengungsi

Dinas Migrasi dan Pengungsi BAMF mendapat tekanan besar sejak krisis pengungsi tahun 2015. Ketika itu pemerintahan Angela Merkel memutuskan untuk mengijinkan sektar 1 juta pengungsi masuk ke Jerman. BAMF yang kewalahan lalau menggandakan jumlah pekerja dari 3000 menjadi 7300 orang. Namun mereka tetap kewalahan memroses permohonan suaka dan status pengungsi.

Setiap kantor cabang BAMF ketika itu diminta rata-rata memroses 3,5 permohonan per hari. Namun tahun 2017 lalu, hanya tiga dari 66 kantor cabang BAMF di seluruh Jerman yang  berhasil memenuhi target itu.

Mantan Kepala BAMF menuduh pemerintah Jerman dulu telah mengabaikan peringatannya tentang beban kerja para pegawai karena kebijakan pemerintah.

"Kegagalan itu terletak pada kelambanan (dari pemerintah), ketika tantangan yang harus dihadapi Jerman dengan kedatangan pengungsi menjadi jelas," kata Frank-Jürgen Weise, yang memimpin BAMF dari akhir 2015 sampai  akhir 2016. "Krisis itu bisa saja dicegah," katanya kepada majalah berita Der Spiegel.

hp/ap (dpa, afp)