Jerman Laksanakan Proyek Internet bagi Negara berkembang di Zambia | Iptek | DW | 27.11.2009
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Jerman Laksanakan Proyek Internet bagi Negara berkembang di Zambia

Lebih dari lima milyar orang tidak memiliki akses ke internet terutama di negara-negara berkembang. Fraunhofer-Gesellschaft berusaha untuk mengubah keadaan ini dengan satu proyek jangka panjang.

default

Gambar simbol layanan kesehatan di internet

Proyek Fraunhofer yang bernama "Menghubungkan yang tidak terhubung“ ini akan diuji coba di sebuah desa kecil di Zambia, Afrika. Proyek ini dipresentasikan di Berlin, Kamis (26/11). Ide proyek ini adalah: Menjembatani jarak yang lebar dengan bantuan jaringan nirkabel, yang dihubungkan dengan stasiun radio terrestrial. Ini akan menjadi infrastruktur, khususnya di daerah pedesaan, yang akan meningkatkan komunikasi, seperti misalnya di bidang kesehatan dan pendidikan

Pada bulan September lalu, untuk pertama kalinya Jens Mödeker menginjakkan kakinya di benua Afrika. Ia ditugaskan sebagai tenaga bantuan pembangunan. Dalam satu film yang ia rekam di desa Macha, satu-satunya dokter yang bertugas di sana menceritakan sulitnya kondisi yang ia hadapi.

"Bagi perawatan medis di wilayah Macha, informasi dan teknologi komunikasi merupakan sesuatu yang sangat penting. Sebagai seorang dokter, saya harus melayani sekitar 8.000 orang. Saya dibantu oleh dua orang perawat. Sering kali kita harus mengirim pasien ke rumah sakit yang jaraknya 40 kilometer dari sini.“

Jens Mödeker menyaksikan dengan matanya sendiri, bagaimana sulitnya tantangan kerja yang dihadapi sang dokter. "Tidak ada satu saranapun yang ia miliki untuk berkomunikasi. Jika ia memerlukan sesuatu, maka ia harus pergi ke Macha. Seandainya terdapat jaringan komuniasi, maka mungkin ia tinggal bertanya: Apakah kalian memiliki obat-obatan? Dapatkah kalian mengirimkannya?“

Pemilihan desa ini sebagai uji coba proyek bukanlah sebuah kebetulan. Dikatakan Profesor Karl Jonas yang mendukung proyek ini dari awal. Yang penting adalah, bahwa bukan hanya teknologi Barat saja yang dikirim ke Afrika. "Keinginan untuk ini seharusnya datang dari orang Afrika sendiri yang mengetahui kondisi di sana dan juga berkepentingan untuk ini. Tugas kami adalah untuk membantu mereka dalam pembiayaan dan pengetahuan mengenai teknik. Merekalah yang membangun sendiri infrastruktur.“

Dan desa Macha di Zambia ini memang memenuhi syarat yang dituntut. "Di desa ini terdapat satu perusahaan kecil, yang bertugas menyediakan jasa internet untuk rumah sakit. Dengan koneksi per satelit, mereka dapat membangun jaringan internet di rumah sakit ini tanpa kabel,“ ungkap Jens Mödeker.

Yang menjadi hambatan bagi masyarakat Macha adalah, teknik satelit ini cukup rumit dan terutama mahal. Dengan proyeknya ini, Frauenhofer berusaha untuk mengatasi kedua kendala ini. "Untuk tahap pertama kami telah menginstal satu peralatan. Kami pantau bagaimana semuanya berfungsi. Ide kami adalah, tidak hanya beberapa rumah saja yang akan saling terhubung, tapi kami mencoba untuk membuat satu jaringan internet yang lebih luas, meliputi gedung-gedung yang saling berjauhan jaraknya,” dijelaskan Jens Mödeker.

Agar internet ini dapat bertahan lama, juga tanpa dukungan dari Jerman, maka peralatan yang dipakai harus sederhana, sehingga dapat dipelihara oleh teknisi lokal di sana. Pengadaan peralatan seperti ini merupakan syarat utama untuk proyek ini. Dikatakan Karl Jonas. "Peralatan yang dipakai tidak boleh rumit dan bisa dikonfigurasikan sendiri. Peralatan ini harus juga memiliki suatu fungsi, jika seandainya sambungan terputus. Di lain sisi, kamipun melakukan pelatihan teknis yang sesuai bagi masyarakat di sini.“

Proyek Frauenhofer di desa Macha Zambia ini diharapkan nantinya dapat menjadi contoh untuk diterapkan di negara berkembang lainnya. Tidak hanya di Afrika saja, kata Karl Jonas.

Marcel Fürstenau/Yuniman Farid

Editor: Rizki Nugraha