1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Reunifikasi Jerman

Jerman Bersatu Tidak Lagi Ditakuti Negara Tetangganya

20 tahun setelah reunifikasi Jerman, banyak negara tetangga Jerman yang tidak lagi memperhatikan perbedaan antara Jerman Timur dan Jerman Barat. Jerman dipandang sebagai jangkar stabilitas di Eropa.

default

Para pendukung kesebelasan Jerman dengan bendera Jerman dalam Piala Dunia 2006

 

Mantan Kanselir Helmut Kohl harus menghadapi sikap skeptis dari mitra-mitra Eropa Barat nya ketika meinginginkan untuk mewujudkan berencana penyatuan Jerman secepatnya. Tidak saja Inggris, tapi juga Perancis dan Belanda mempertanyakan, apakah Jerman yang lebih besar akan tetap damai dan akan bergabung dalam Perhimpunan Eropa dan NATO?

Untuk menepis kekhawatiran rekan-rekannya, kala itu Helmut Kohl menyatakan, "Jerman yang bersatu tidak akan kembali ke Eropa masa lalu. Rivalitas dan nasionalisme lama tidak boleh hidup kembali."

Tahun-tahun setelah penyatuannya kembali, Jerman berusaha keras untuk mengakhiri perpecahan di seluruh Eropa. Diterimanya negara-negara bekas Blok Timur dan negara-negara Balkan ke dalam Uni Eropa serta NATO, adalah tujuan terpenting politik luar negeri Jerman. Negara tetangga yang mulanya merasa skeptis seperti Perancis, akhirnya yakin, tidak ada lagi yang merasa takut terhadap Jerman, demikian Alfred Grosser, pakar politik dan penulis di Paris.

Sementara itu, setelah pengakuan garis Oder-Neiße sebagai garis batas Jerman di Timur, pada tahun 1990-an hubungan dengan negara tetangga terbesar Polandia di Timur juga lebih lunak. Duta Besar Polandia di Jerman kala itu Janusz Reiter, sekarang menarik neraca, "Jerman yang besar kini bukan lagi alasan bagi tetangga-tetangganya untuk merasa takut."

Tapi rasa curiga terhadap Jerman masih dimiliki banyak warga Polandia, demikian pendapat penulis Polandia Andrzej Stasiuk. Warga Polandia senang bekerja di Jerman, meski demikian bukan negara pilihan untuk tempat berlibur.

Di Ceko kecurigaan terhadap Jerman baru teratasi akhir tahun 1990-an, setelah pemerintahan kedua negara dalam sebuah pernyataan bersama membahas secara terbuka luka-luka di masa lalu, dampak perang, pengejaran dan pengusiran.

Di Uni Eropa, Jerman diterima perannya sebagai pemimpin, sebagai salah satu pembayar terpenting dan sebagai mediator antara kepentingan negara kecil dan besar, di barat dan timur anggota Uni Eropa.

Menurut jajak pendapat yang digelar stasiun pemancar Inggris BBC, Jerman jauh lebih disukai tetangganya daripada perkiraan Jerman sendiri. Terutama pada saat berlangsungnya kejuaraan dunia sepak bola ketika bendera nasional Jerman hitam-merah-emas dikibarkan dengan santai, menjadi gambaran positif Jerman yang bersatu. Demikian dikatakan penulis Denmark Knud Romer.

"Tentu saja Denmark, seperti kebanyakan bangsa di Eropa lainnya bertahun-tahun lamanya setelah perang, mencap Jerman sebagai kambing hitam. Tapi terobosan baru benar-benar saya rasakan saat berlangsungnya Piala Dunia Sepak Bola 2006. Kala itu untuk pertama kalinya saya memiliki kesan: Perang sudah berlalu. Itu tidak ada lagi. Dan warga Denmark mendukung Jerman."

Bernd Riegert/Dyan Kostermans

Editor: Hendra Pasuhuk

Laporan Pilihan