1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Jepang dan Korut Awali Dialog Soal Korban Penculikan

Jepang dan Korea Utara sepakat memulai kembali pembicaraan tingkat tinggi antara pejabat kedua negara. Isu utama adalah nasib warga Jepang yang diculik oleh Korut untuk tujuan spionase.

Pendekatan unik di Semenanjung Korea. Pemerintah Jepang mulai menggelar pembicaraan tingkat tinggi dengan rejim di Pyongyang. Hal tersebut dipastikan oleh seorang pejabat di Kementrian Luar Negeri di Tokyo.

Terobosan tersebut tercapai seusai diplomat senior kedua negara menggelar pembicaraan informal di sela-sela konfrensi kemanusiaan di Shenyang, Cina, antara pejabat Palang Merah dari Jepang dan Korea Utara.

"Mereka setuju untuk mengawali upaya membuka kembali dialog antara pemerintahan," kata seorang diplomat senior Jepang. Hubungan formal dengan Jepang menguntungkan buat perekonomian negara komunis tersebut.

Kejelasan Nasib Korban

Pembicaraan antara Tokyo dan Pyongyang dibekukan akhir 2012 silam ketika Jepang menuntut Korea Utara mengakui penculikan terhadap warganya oleh dinas rahasia. Pyongyang dituding menculik 13 warga Jepang antara 1970-an dan 1980-an untuk tujuan spionase.

Lima korban penculikan sudah dikembalikan kepada Jepang bersama anggota keluarganya. Namun Pyongyang bersikeras delapan korban lain telah meninggal dunia. Tuntutan Jepang agar Korea Utara mengirimkan bukti-bukti terkait selama ini selalu ditolak.

Japan Nordkorea Entführung Megumi Yokota

Korban penculikan, Megumi Yokota

Pekan lalu salah satu orang tua korban diizinkan menemui putrinya yang diculik tahun 1977 saat berusia 13 tahun oleh agen Korea Utara. Megumi Yokota, diculik ketika hendak pulang usai sekolah. Bahwa rejim Pyongyang mengizinkan acara reuni semacam itu, disambut oleh pemerintah Jepang.

Kisah Megumi Yokota

Perdana Menteri Shinzo Abe misalnya memuji "perubahan" yang bisa dilihat pada sikap Korea Utara terkait isu penculikan tersebut. "Kita harus menyambut perubahan ini dan mendorong tercapainya solusi dalam kasus penculikan ini," katanya di hadapan Parlemen. "Kami akan bekerja keras mencapai solusi dengan dialog dan tekanan secara konsisten," imbuhnya.

2004 silam Korea Utara sempat menyerahkan abu kremasi korban penculikan. Pyongyang mengklaim, abu tersebut adalah milik Megumi Yokota. Namun pengujian DNA yang dilakukan di Tokyo membuktikan klaim tersebut palsu.

Orang tua Yokota yang kini berusia 81 dan 78 tahun, sebelumnya menolak bertemu cucunya sendiri karena khawatir akan disalahgunakan oleh pemerintah Korea Utara untuk membenarkan klaim kematian Yokota. Jepang hingga kini masih menunggu kejelasan nasib delapan korban lain yang diklaim telah meninggal dunia oleh Korea Utara.

rzn/hp (afp,ap)