1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Jalan Terjal Pembatasan Senjata di AS

Presiden Barack Obama menyerukan kepada Kongres Amerika untuk memperketat undang-undang kepemilikan senjata api setelah peristiwa pembantaian terakhir di Washington. Namun parlemen pesimis itu bisa terlaksana.

Sehari setelah seorang laki-laki menembak mati 12 orang di markas Angkatan Laut yang hanya berjarak beberapa kilometer dari Gedung Putih, Obama mengatakan ”mayoritas” orang Amerika setuju dengannya tentang perlunya reformasi senjata api yang masuk akal.

”Saya khawatir bahwa ini akan menjadi sebuah ritual yang akan kita hadapi setiap tiga, empat bulan, di mana kita mengalami penembakan massal yang mengerikan,” kata Obama dalam sebuah wawancara dengan jaringan televisi Spanyol Telemundo.

Saatnya Kongres AS bertindak

”Semua orang mengekspresikan kengerian yang bisa dimengerti. Kita semua merangkul semua keluarga… dan kita belum bersedia mengambil tindakan-tindakan yang mendasar.“

Obama memperkenalkan setumpuk langkah termasuk sebuah rencana untuk meningkatkan pemeriksaan mengenai latar belakang para pembeli senjata dan larangan pembelian jenis senapan mesin setelah 20 anak dan enam orang dewasa terbunuh dalam penembakan sekolah di Newtown, Connecticut Desember lalu.

Namun paket itu kandas di Kongres, karena perlawanan sengit kelompok lobi pro kepemilikan senjata serta sejumlah kawannya sesama partai Demokrat dari Negara bagian yang dikenal konservatif, sehingga membuat Obama hanya bisa memberlakukan langkah-langkah kecil dalam pengawasan senjata yang masih berada dalam kewenangan eksekutifnya.

“Pada akhirnya, ini berarti bahwa Kongres harus mengambil tindakan,” kata Obama. ”Saya telah mengambil langkah-langkah yang berada dalam kontrol saya. Langkah selanjutnya kini adalah bagi Kongres untuk maju dan bergerak.”

Dukungan tak memadai

Navy Amoklauf Washington Brooklyn

Penembakan di Washington awal pekan ini adalah kisah horor berseri tentang kekerasan bersenjata di AS

Penembakan Senin lalu, membuat marah dan jijik seluruh spektrum politik di Amerika, tapi sebagaimana sebelumnya, dalam perdebatan mengenai pembatasan kepemilikan senjata api, Gedung Putih harus melobi para anggota parlemen.

Pemimpin mayoritas di Senat Harry Reid mengatakan ia ingin segera menghidupkan kembali perdebatan soal isu ini. ”Tapi kami harus mendapat dukungan awal. Kami tidak punya suara untuk itu,“ kata Reid setelah bertemu dengan rekannya sesama Demokrat.

Sejumlah anggota Senat dari partai Demokrat termasuk Richard Blumenthal dari Negara bagian Connecticut, mengatakan bahwa mereka berharap akan kembali bisa mengajukan aturan mengenai pemeriksaan latar belakang dan memastikan bahwa jika terbukti sakit jiwa, tidak akan bisa punya akses membeli senjata.

Sementara Senator Chris Murphy mengatakan, rakyat Amerika tak akan membiarkan para anggota parlemen “mengabaikan pembantaian yang terus berlanjut,” sambil mencatat bahwa lebih dari 8,000 orang tewas di Amerika akibat kekerasan bersenjata dalam sembilan bulan terakhir sejak tragedi Newton.

Tapi Senator dari partai Republik Bob Corker tidak melihat akan ada langkah baru dalam soal kepemilikan senjata tahun ini.

”Saya bertaruh itu tidak akan terjadi,“ kata dia. “Tak ada orang yang bicara dengan saya tentang itu (reformasi kepemilikan senjata api-red).“

Kasus penembakan di Washington awal pekan ini telah mendorong Gedung Putih untuk memerintahkan peninjauan kembali mengenai standar keamanan bagi para kontraktor yang bekerja di badan federal.

ab/ek (afp,rtr,ap)

Laporan Pilihan