1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Jaksa Agung AS Mundur Dari Investigasi Campur Tangan Rusia di Pemilu

Presiden AS Donald Trump mengecam tuntutan Partai Demokrat agar Jaksa Agung AS, Jeff Sessions mengundurkan diri. Trump menyebut tindakan mereka sebagai "perburuan terhadap orang yang punya pandangan tidak biasa".

Untuk mencegah kontroversi yang menggelinding atas hubungannya dengan Rusia, Jaksa Agung Amerika Serikat, Jeff Sessions pada hari Kamis (03/03) mengumumkan akan mengundurkan diri dari penyelidikan apapun terkait kampanye pemilihan presiden. Baru-baru ini diketahui, Sessions menggelar pertemuan dengan duta besar Rusia sebelum pemilu. Namun di sidang konfirmasi Senat AS, Sessions membantah telah melakukan tindakan yang tidak pantas atau berbohong tentang pertemuan.

Presiden Republik AS, Donald Trump menyatakan keyakinan "total"-nya terhadap Sessions - sambil menambahkan bahwa ia "tidak menyadari" adanya kontak antara Duta Besar Sergey Kislyak dengan Sessions, seorang senator yang aktif mendukung kampanye Trump pada saat itu.

Ia membela Sessions lagi dalam sebuah pernyataan hari Rabu (01/03) dengan menyebut Sessions adalah "orang yang jujur" dan menuduh Demokrat "kehilangan cengkeraman mereka atas realitas" dan melakukan "perburuan terhadap orang yang punya pandangan tidak biasa".

Demokrat pertahankan tuntutan

Namun kubu Demokrat tetap bersikukuh mempertahankan desakan mereka agar Sessions segera mundur, dengan menuduhnya telah bersumpah palsu.

Mereka juga menyerukan jaksa independen untuk menyelidiki kontak antara tim kampanye Trump dan Moskow, yang menurut intelijen AS, dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden telah merugikan saingan Trump dari Partai Demokrat, Hillary Clinton.

Anggota dewan komite intelijen Senat AS dari kubu Demokrat, Adam Schiff, menolak klaim Sesisions bahwa kontak dengan Kislyak tidak berhubungan dengan pekerjaannya dalam tim kampanye Trump, yang ia sebut  "tidak begitu berpengaruh."

 "Di tengah-tengah kampanye, Rusia bertujuan merusak pemillu kita dan sangat terlihat menginginkan wakil Republik, Trump unggul. Sessions mungkin luar biasa naif atau mudah ditipu untuk percaya bahwa duta besar itu mencari-cari dia dan bertemu di luar kantor, untuk mendiskusikan masalah militer. Tentu tidak demikian," katanya dalam sebuah pernyataan.

 "Saya telah sampai pada kesimpulan bahwa Jaksa Agung harus mundur," katanya, menggemakan seruan  yang dibuat sebelumnya oleh Demokrat di kedua kamar Kongres AS yang dikuasai Partai Republik.

Trump terus di bawah tekanan

Trump telah berada di bawah tekanan yang terus meningkat atas dugaan campur tangan Rusia dalam pemilu dan kontak antara tim kampanyenya dengan pihak Moskow.

Menurut para pejabat, badan-badan intelijen AS dan Biro Investigasi Federal FBI terus menyelidiki bagaimana dan seberapa besar upaya Moskow menerobos politik AS, dan apakah mereka benar-benar terlibat kolusi dengan kampanye Trump. Kepala intelijen AS menduga kesemua aksi itu disutradarai oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Komite dalam Kongres AS telah membuka penyelidikan atas masalah itu, meskipun Partai Demokrat takut bahwa Partai Republik akan berusaha untuk mengubur penyelidikan mereka guna melindungi pemerintahan Trump yang baru seumur jagung.

Pertemuan Sessions dengan utusan Rusia berlangsung pada bulan Juli dan September, tahun lalu, tepat ketika tudingan bahwa Rusia campur tangan dalam pemilu AS makin memuncak, demikian menurut Washington Post.  Dalam sidang konfirmasi di Senat AS, Sessions membantah, dengan mengatakan ia tidak berkomunikasi dengan Rusia dan ia juga mengaku tak tahu siapa saja dalam tim kampanye Trump yang berkontak dengan Rusia.

Pada hari Kamis (02/03), Sessions menjelaskan bantahannya tersebut, dengan mengatakan memang ada pertemuan, namun tidak terkait dengan kampanye. Dia menyebutkan, pertemuan dengan Kislyak lebih pada kapasitasnya sebagai senator dan kebanyakan berbicara mengenai isu politik global.

ap/vlz (afp/ap)

Laporan Pilihan