1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Jakarta Tidak Takut, Tapi Masih Ada Tugas Besar

Jakarta Tidak Takut jadi slogan utama aksi protes dan penolakan terhadap terorisme. Tapi masih ada tugas besar yang perlu dilakukan umat Islam Indonesia: Membendung wacana kekerasan atas nama Islam. Kolom Hendra Pasuhuk

Paris, Istanbul, Jakarta - jejak teror di kota-kota metropolitan makin panjang. Namun jika para teroris di Jakarta memang bertujuan menyebarkan rasa takut, maka mereka telah salah memilih sasaran.

Hanya beberapa jam setelah ledakan dan tembak menembak di depan pusat pertokoan Sarinah di Jalan Thamrin, media sosial penuh dengan berbagai seruan dan posting yang intinya menyatakan bahwa Jakarta tidak akan ketakutan.

Pasuhuk Hendra Kommentarbild App

Hendra Pasuhuk, Editor DW Indonesia

Hastags yang bermunculan antara lain #KamiTidakTakut, #JakartaBerani dan #JakartaAgainstTerrorism.

Melawan Teror Tanpa Takut

Penduduk Jakarta menolak hidup dalam ketakutan, seperti yang diinginkan para teros dengan serangan keji mereka. Berbagai gambar sindiran dan ironis pun bermunculan di Facebook, Path, Twitter und Instagram.

Misalnya foto seorang penjual sate, yang hanya sekitar 100 meter dari lokasi kejadian, tetap dengan santai membakar satenya dan melayani pembeli. Gambar itu lalu tersebar cepat.

"Just bring your terror to hell..!" (Bawa saja terormu ke neraka), demikian salah satu slogan yang sering diulang-ulang

Sarinah memang terletak di jantung kota metropolitan Jakarta dan cukup dikenal di kalangan turis punya departemen cinderamata yang cukup besar. Para teroris melempar granat ke pos polisi lalu lintas yang ada di perempatan jalan, lalu mereka menyerang Starbucks Cafe di dekatnya.

Setelah itu, rekaman video menunjukkan mereka mulai menembak secara sembarangan. Tujuannya menewaskan sebanyak mungkin orang. Beberapa polisi lalu lintas jadi korban luka tembak.

Inilah serangan yang ditakuti oleh kalangan pengamat keamanan, yaitu serangan terhadap apa yang disebut "soft targets", yaitu tempat-tempat publik yang sering jadi lokasi orang berkumpul dan berkerumun.

Mencontoh serangan Paris

Seroang pejabat kepolisian merenangkan, para pelaju tampaknya meniru gaya serangan teror di Paris. Tapi dari berbagai berita dan rekaman video terlihat, mereka jauh lebih amatir dari para penyerang di ibukota Perancis itu, yang menewaskan lebih dari 100 orang.

Tentu saja, dua korban tewas warga sipil adalah tragis dan bagi kaum keluarganya saat menyedihkan. Namun harus diakui, aparat keamanan di Jakarta bergerak cepat meredam gerakan para pelaku, yang diduga berjumlah tujuh orang.

Para penyerang masih sempat meledak granat rakitan mereka, tapi korban tewas tidak terlalu banyak. Lima pelaku tewas ditembak mati atau melakukan bunuh diri dengan bahan peledak yang dibawanya.

Tantangan Bagi Arus Utama Islam di Indonesia

Lalu apa setelah situasi kembali relatif aman dan ribuan aparat keamanan sibuk mencari gembong teroris yang masih buron?

Salah satu tugas besar adalah, membuka diskusi lebar-lebar tentang radikalisme dan terorisme yang mengatas namakan agama. Kita juga harus tahu membedakan, mana seruan-seruan kekerasan yang seharusnya dilarang, mana aksi-aksi protes damai yang menjadi hak warga negara.

Terutama organisasi arus utama Islam, seperti Nahdlatul Utama dan Muhammadiyah, harus berpikir ulang dan menjawab pertanyaan, mengapa narasi mereka yang punya anggota puluhan juta di Indonesia itu tidak sanggup membendung masuknya ideologi-ideologi kekerasan yang disebarkan oleh Al Qaeda, ISIS, dan dalam porsi yang lebih samar dan halus, oleh Abu Bakar Ba'asyir dan para pengikutnya?

Karena satu hal pasti: Serangan di Sarinah bukan serangan teror terakhir dari para ekstrimis yang mengatas namakan Islam. Kita boleh bertaruh, mereka sedang merencanakan aksi biadab berikutnya.

Laporan Pilihan