1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Isyarat Dari Kunjungan Xi Jinping ke Rusia

Presiden baru Cina, Xi Jinping lakukan kunjungan luar negeri pertama dengan melawat ke Rusia. Sebuah tradisi politik untuk mendemonstrasikan kokohnya kemitraan strategis.

Lawatan resmi Xi Jinping ke Rusia yang dimulai Jumat (22/03), merupakan isyarat politik amat kuat untuk menegaskan hubungan baik kedua negara komunis itu. Di Moskow, dia akan bertemu presiden Vladimir Putin, dan terutama akan membicarakan penguatan bisnis serta ekspor energi ke Cina.

Erdöl in China Sinopec Raffinerie in Ningbo

Industri minyak dan gas bumi Cina alami booming.

Tapi, hubungan diantara kedua negara tidak seharmonis yang hendak ditunjukkan para presiden itu. Perundingan bisnis ekspor gas misalnya, dilakukan dengan alot selama beberapa tahun. Hasilnya sejauh ini belum jelas.

Wakil menteri luar negeri Cina Cheng Daqing menyebutkan, kesepakatan akan ditandatangani dalam waktu dekat. Tapi seorang jurubicara Putin meredam kabar baik itu. Ia menyebutkan, saat kunjungan Xi, tidak ada dokumen bisnis gas yang siap ditanda tangani.

Sejarah hubungan Cina dan Rusia memang terus berubah tergantung situasi di Beijing dan Moskow. Cina mula-mula memandang Uni Sovyet sebagai panutan, kemudian menjadi musuh dan kini sebagai mitra bisnis strategis penting.

Bisnis dan Politik

Presiden Vladimir Putin menjelang lawatan ke Cina, Juni 2012 menulis dalam Harian Rakyat Cina: "Yang terpenting semua agenda global, tidak diputuskan di belakang punggung Cina dan Rusia, tanpa mengindahkan kepentingan kedua negara."

Konkritnya, politik ini diterapkan di Dewan Keamanan PBB. Cina dan PBB saling mendukung, jika tersandung masalah pelik yang merecoki kepentingan mereka. Misalnya dalam konflik Iran atau Suriah. Atau dalam masalah sengketa di Asia Timur.

Syrien UN Sicherheitsrat Archivbild

Duet Cina dan Rusia yang miliki hak veto DK PBB merupakan wujud kemitraan strategis.

Karena itu, Gu Xuewu, pakar politik dari Universitas Bonn melihat dengan jelas, bahwa agenda utama pembicaraan Xi Jinping di Moskow adalah penyelarasan strategis kedua negara. Dalam wawancara dengan DW, Gu menambahkan, agenda lainnya adalah hubungan perdagangan dan mempererat kerjasama militer , menimbang politik luar negeri AS yang kini difokuskan ke Asia.

Tapi Rusia juga memandang dengan cemas ke arah Cina, terkait dua hal. Pertama, masalah ekonomi, berupa ketergantungan warga Rusia di perbatasan Cina akan produk industri dan pertanian dari Cina, serta ancaman populasi yang terus meningkat.

Dan yang kedua, masalah dominasi politik global. Di saat Cina terus naik statusnya menjadi negara adidaya, Rusia makin merosot pamornya di dunia. Juga Xi Jinping sudah melontarkan peringatan saat kongres partai Komunis awal Januari lalu, agar Cina terhindar dari keruntuhan seperti Uni Sovyet di masa lalu.