1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Istirahatlah Hantu-hantu

Tak pernah terbayangkan kecemasan menjadi pengungsi Rohingya. Juga tak pernah bermimpi ribuan orang bisa mengepung dan ingin menggeruduk “PKI” di Jakarta baru.baru ini. Inilah renungan Geger Riyanto.

Saya tak akan pernah bisa membayangkan diri menjadi pengungsi Rohingya. Itu pandangan saya. Sebanyak apa pun saya menyimak bacaan yang menceritakan kemalangan mereka, tak ada pengalaman membaca yang bisa menggantikan rasanya diusir dengan berondongan peluru, terbunuh kerabatnya sambil tak sanggup melakukan apa-apa, tak punya tempat atau bahkan negara untuk pulang.

Dan itu bukan bagian terburuknya. Hal yang lebih tak terbayangkan lagi: tidak ada yang tahu kapan hari-hari yang panjang tersebut akan berakhir.

Penulis: Geger Riyanto

Penulis: Geger Riyanto

Tetapi, saya juga tak pernah bermimpi saya akan mengalami peristiwa ganjil sebagaimana yang terjadi beberapa hari silam. Ketika dua ribu massa dari berbagai ormas mengepung dan ingin menggeruduk "PKI” di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta padahal yang diselenggarakan adalah festival seni, saya tanpa sengaja berada di dalamnya. Dan malam itu, saya, bersama banyak kawan lainnya, diminta untuk menjaga massa yang tertahan pagar dan polisi agar tak menyerbu masuk seandainya mereka berhasil menerabas.

Selagi kami membentuk pagar manusia, massa di hadapan menyorotkan senter ke wajah kami satu-persatu. Mereka mengambil gambar dan video kami. Dengan nada berlumuran kebencian, mereka tak henti-henti mengecam kami adalah PKI, mengatakan hidup kami tidak akan pernah aman lagi, dan kami tidak boleh berada di Indonesia. Ada pula yang meneriakkan bahwa darah kami halal.

Bagaimana kalau kebencian membuntuti sepanjang hidup? 

Drama ini berakhir selepas kami, yang terjebak sepanjang lima jam di dalam LBH Jakarta, dievakuasi polisi. Massa tak pernah berhasil menyentuh kami. Dan, karenanya pula, saya insaf, pengalaman tak lazim ini tidak bisa diperbandingkan dengan situasi yang dialami orang-orang Rohingya.

Akan tetapi, pengalaman ini memungkinkan saya mengandaikan pikiran-pikiran yang sangat kelam. Bagaimana kalau kebencian yang membakar massa tersebut membuntuti saya sepanjang hidup? Bagaimana bila ke mana pun saya melangkah, orang-orang merisak saya dan mengatakan saya tak layak hidup di negeri ini? Pemerintah tak memperbolehkan saya pergi ke mana pun atau melamar pekerjaan? Aparat menangkap saya untuk kejahatan yang tak pernah saya lakukan? Dan sewaktu-waktu kericuhan sosial pecah, kambing hitam paling pertama adalah saya?

Mirisnya, untuk beberapa kelompok insan, ini sama sekali bukan pengandaian. Ini terjadi kepada orang-orang Rohingya. Melongok ke masa silam negeri ini sendiri, ini terjadi kepada setiap orang yang gagal menepis tuduhan "PKI,” terlepas benar atau tidak ia terlibat di dalam partai tersebut.

Satu hal yang saya syukuri adalah dakwaan "PKI,” yang saya herankan dari mana datangnya, menghinggapi kami dalam malam yang sangat semrawut. Emosi membuat bukan hanya kerumunan gelap mata dan beringas. Saya juga tak yakin ada yang benar-benar bisa mengingat kami dalam segenap kekacauan tersebut. Di samping itu, tentu saja, saya juga merasa beruntung sudah berada di bawah rezim yang berbeda.

Pada tahun 1960-an, mereka yang menjadi korban dari tuduhan ini akan kontan kehilangan kehidupannya—dalam pengertian yang figuratif maupun harfiah. Jumlahnya pun sama sekali tidak bisa dikatakan sedikit. Dalam data Fact-Finding Commission KOTI, jumlah mereka yang dibui mencapai 106 ribu orang. KTP mereka dan anggota keluarganya dilabeli sehingga mereka tidak bisa melamar pekerjaan ke mana-mana. Mereka yang terbunuh dalam pembersihan besar-besaran? Berdasarkan data survei Kopkamtib pada tahun 1966, 250 ribu jiwa meninggal pada kurun ini.

Halaman 1 | 2 | Artikel lengkap

Laporan Pilihan