1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Istana Sastra Dibuka Kembali

Tahun 1903, rumah kediaman Schiller dibuka menjadi museum. Sampai sekaran museum ini masih menarik ribuan pencinta karya sastra. Setelah direnovasi, dalam rangka ulang tahun Shiller ke 250, museum ini kembali dibuka.

default

Blick in die neue Dauerausstellung, Foto: Chris Korner, DLA

Arsitek dari Stuttgart, Ludwig Eisenlohr dan Carl Weigle tahu persis apa yang diinginkan pemberi order renovasi museum ini. Monumen peringatan Schiller yang dibangun tahun 1903, oleh kedua arsitek direnovasi menjadi apa yang disebut dua kali penghormatan bagi Schiller.

Pertama dengan merombak bagian depan museum dengan memasukkan gaya Rokoko seperti Istana Solitude. Selanjutnya, kedua arsitek memasukkan gaya Pantheon Romawi. Sebuah gaya campuran yang simbolis, kata direktur museum nasional, Ulich Raulf.

Di belakang tembok, terdapat harta karun yang sebenarnya bagi para pengunjung museum. Sebelum renovasi, masing-masing penyair dan filsuf memiliki ruang pameran atau lemari pajangannya sendiri-sendiri. Jadi, ada ruang Schiller dan ruang penyair lainnya, seperti Uhland, Kerner dan Mörike. Konsep pameran semacam itu dipandang sudah ketinggalan zaman.

Setelah museum direnovasi, pimpinan pameran Heike Gfrereis mengatakan, “Yang ingin kami tunjukan adalah, mengapa sastra Schwabia itu penting bagi sastra Jerman. Energi apa yang tersimpan di dalamnya, motivnya, bahasanya dan standar kehidupan yang bagaimana. Bagi kami sastra Schwabia merupakan bagian terpenting dari Marbach di abad ke 19. Tapi di sini juga dipamerkan karya penyair dan filsuf besar Jerman lainnya, misalnya Mörike disebelahnya Goethe, Hölderin disampingnya Kant dan pameran diakhiri dengan Nietschze.“

Di sejumlah lemari pajangan, dipamerkan sekitar 700 obyek. Sebagian kecil merupakan peninggalan sehari-hari dari masa kehidupan penyair bersangkutan. Dan sebagian besar merupakan koleksi buku-buku karya penyair dan filsuf bersangkutan, terutama naskah-naskah yang ditulis tangan dan nota-nota catatan penting. Dengan itu, pengunjung dapat melihat cara kerja penyair ini. Misalnya saja Schiller seringkali menuliskan gagasannya pada carikan kecil kertas. Gagasan di carikan kertas itulah yang kemudian diolah hingga menjadi formulasi akhir.

Ruangan-ruangan pameran pada saat renovasi juga ditata ulang. Arsitek David Chipperfield yang merupakan empu renovasi bangunan bersejarah bertanggung jawab untuk urusan tersebut. Warna dinding ruangan ditata sedemikian rupa, sehingga terdapat sebuah garis imajiner yang menerus dari mulai pintu masuk hingga bagian belakang museum. Dengan nuansa warna hijau dan biru, museum hendak menyimbolkan sosoknya, yakni di satu sisi zaman klasik dan di sisi lain zamannya “Jugendstil“ yang merupakan era peralihan dari seni abad 19 ke abad 20.

Setelah direnovasi selama dua tahun, museum Schiller di Marbach itu diresmikan oleh presiden Jerman, Horst Köhler Selasa (10/11) dan dibuka kembali untuk umum.

Rainer Zerbst/Agus Setiawan

Editor: Yuniman Farid