1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Israel Tetap Tolak Pemeriksaan Independen

7 Juni 2010

Tuntutan makin lantang agar dilakukan penyelidikan independen terhadap penyerbuan marinir Israel ke kapal bantuan untuk Gaza. Mesir perlu dilibatkan dalam diskusi pelonggaran blokade Jalur Gaza.

https://p.dw.com/p/Nk9d
Perdana Menteri Israel Benjamin NetanyahuFoto: AP

Harian Inggris Guardian menulis:

Jika sebuah negara bermartabat melakukan kesalahan, biasanya mereka menjanjikan pemeriksaan independen. Mereka menyatakan penyesalan pada keluarga korban, mereka mengucapkan permohonan maaf. Tapi pemerintah Israel di bawah pimpinan Benjamin Netanyahu tidak melakukan itu. Reaksi Israel sama buruknya dengan operasi khusus terhadap iringan kapal bantuan ke Gaza yang menewaskan sembilan aktivis pro Palestina. Politik Israel adalah menembak lebih dulu, baru kemudian menjelek-jelekan korban. Israel tidak hanya menyinggung perasaan 72 juta warga Turki, melainkan juga melecehkan satu-satunya negara muslim anggota NATO. Ini akan punya dampak jauh bagi Israel. Hari demi hari Israel makin terisolasi dari opini dunia dan dari hukum internasional.

Harian Norwegia Aftenposten mendukung tuntutan pembentukan komisi pemeriksa independen untuk insiden di kapal bantuan ke Gaza.

Sebuah komisi pemeriksa independen adalah satu-satunya cara klarifikasi yang dapat dipercaya. Israel merugikan dirinya sendiri jika menolak hal itu. Orang hanya dapat berharap, semoga Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyadari hal ini. Kalangan pemerintah Israel juga mengisyaratkan, blokade jalur Gaza mungkin bisa diperlonggar. Langkah ini memang tidak akan membawa perdamaian maupun rekonsiliasi. Tapi perbaikan situasi kemanusian warga Palestina adalah tujuan penting.

Harian Jerman tageszeitung berkomentar:

Untuk pertama kalinya di Israel mulai dipertimbangkan pelonggaran atau bahkan pencabutan embargo Jalur Gaza. Ini adalah keberhasilan para aktivis pro Palestina dan dampak dari tragedi operasi marinir Israel yang menewaskan sembilan warga sipil. Militer Israel memang awalnya berhasil mencapai tujuan mereka dan mempertahankan blokade. Namun tindakan berlebihan pasukan marinir ternyata kontraproduktif. Juga Mesir menutup jalan masuk ke kota Rafah sejak pertengahan 2007, ketika Hamas mengusir pasukan keamanan Fatah. Blokade terhadap Rafah dilakukan oleh pemerintah di Kairo. Juga dalam hal ini perlu peninjauan kembali. Mesir seharusnya dilibatkan dalam setiap kebijakan baru.

Sementara, harian Perancis La Croix menyoroti hubungan Jerman-Perancis sehubungan dengan kunjungan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy ke Berlin menemui kanselir Jerman Angela Merkel.

Apakah hubungan Jerman-Perancis saat ini demikian buruk, sebagaimana diceritakan orang? Beberapa bulan terakhir ada diskusi hangat antara Merkel dan Sarkozy tentang bantuan kepada negara-negara pengguna Euro yang dilanda krisis. Yang satu ingin ada aturan ketat, yang lain ingin bantuan diluncurkan segera tanpa membuang waktu. Debat ekstrim ini memang perlu. Di satu pihak ada upaya mempertahankan stabilitas demi menghindari kebangkrutan. Di lain pihak ada tuntutan pragmatis untuk bertindak fleksibel sesuai dengan situasi. Yang penting adalah menemukan keseimbangan dan menghindari ancaman. Diskusi bisa menghabiskan waktu, ketika dibutuhkan keputusan yang cepat. Itulah yang terjadi dalam kasus Yunani. Jadi memang baik, kalau Merkel dan Sarkozy sering bertemu.

Hendra Pasuhuk/dpa/afp
Editor: Yuniman Farid