ISIS Kembali Menyusup, Filipina Terancam Marawi Jilid Dua | dunia | DW | 20.02.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

ISIS Kembali Menyusup, Filipina Terancam Marawi Jilid Dua

Kelompok separatis muslim Filipina mewanti-wanti pemerintah pusat terhadap penyusupan jihadis ISIS dari Timur Tengah, Malaysia dan Indonesia. Mereka diyakini sedang menyiapkan serangan terhadap dua kota di Mindanao.

Gerilyawan Moro Islamic Liberation Front (MILF)

Gerilyawan Moro Islamic Liberation Front (MILF)

ISIS sedang bergeliat dan merencanakan Marawi kedua di selatan Filipina: Peringatan tersebut dilayangkan punggawa kelompok Moro Islamic Liberation Front (MILF), Murad Ebrahim. Sosok yang selama berpuluh tahun mengobarkan perang melawan pemerintah pusat itu kini membantu militer meredam teror Islamic State.

Sejak berdamai dengan pemerintah, MILF berusaha menghadang infiltrasi ideologi ISIS di madrasah dan universitas. "Mereka terus menyusup di sini karena mereka terusir di Timur Tengah dan membutuhkan tempat baru," katanya. "Peluang terjadinya Marawi kedua tidak bisa dipungkiri."

Murad mengklaim memiliki bukti intelijen bahwa jihadis asing dari Timur Tengah, Malaysia dan Indonesia "menyeberangi perbatasan dan merencanakan pendudukan terhadap dua kota di selatan, Iligan dan Cotabato," ujarnya. Jihadis yang terlibat perang di Marawi mengosongkan gudang amunisi, mencuri uang dan perhiasan milik gerilayawan MILF sebelum hengkang.

"Ketika anggota MILF melarikan diri, mereka tidak bisa membawa hartanya. Itu sebabnya ISIS kini punya banyak uang dan menggunakannya untuk merekrut jihadis baru," kata Murad. Menurutnya kombinasi antara lemahnya pengaruh pemerintah pusat, keberadaan kelompok separatis dan konflik berkepanjangan membuat Mindanao surga senjata ilegal.

"Sangat menyedihkan bagaimana di negari ini orang bisa membeli senjata dan amunisi semudah membeli ikan di pasar."

Perdamaian di Mindanao saat ini bergantung pada Undang-Undang Otonomi yang sedang digodok pemerintah Filipina dan merupakan bagian krusial dari perjanjian damai dengan kelompok separatis muslim. "Jika UU ini tidak lolos, saya kira situasinya akan berkembang di mana kelompok ekstremis akan merekrut lebih banyak jihadis, karena keyakinan pada proses perdamaian akan runtuh," ujarnya lagi.

rzn/hp (afp/rtr)

Laporan Pilihan